Minggu, 19 Juli 2026

Hari Tani Nasional 2025: Memperjuangkan Marhaen di Tengah Tantangan Pertanian

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Senin, 29 September 2025 | 07:52 WIB
Novita Sari Yahya, penulis dan peneliti lepas yang pernah terlibat dalam kajian filantropi kesehatan bersama PKMK FKKMK UGM serta bergabung di Filantropi Indonesia. (Dok. SketsaNusantara.id)
Novita Sari Yahya, penulis dan peneliti lepas yang pernah terlibat dalam kajian filantropi kesehatan bersama PKMK FKKMK UGM serta bergabung di Filantropi Indonesia. (Dok. SketsaNusantara.id)

*Novita Sari Yahya

SketsaNusantara.id - Hari Tani Nasional diperingati setiap tanggal 24 September setiap tahun. Karena kesibukan dengan tulisan branding halu-halu dari dunia pageant yang glamour, terlupakan bahwa isu yang penting untuk dibahas adalah isu pertanian dan petani. Berdasarkan data dari media dan lembaga resmi, kondisi petani Indonesia saat ini semakin memprihatinkan.

Krisis Pertanian dan Regenerasi Petani

Menurut Sensus Pertanian 2023 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat sekitar 27,37 juta rumah tangga petani di Indonesia, tetapi petani muda berusia 19–39 tahun hanya mencapai 6,18 juta orang atau 21,93% dari total, menandakan tantangan regenerasi yang serius. Selain itu, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Agustus 2025 mencapai 123,57, naik 0,76% dari bulan sebelumnya, meski fluktuasi harga beras premium masih menjadi isu utama.

Baca Juga: Membangun Peradaban Hukum Indonesia Paripurna

Indonesia juga kehilangan sekitar 110.000 hektar lahan pertanian setiap tahun akibat konversi lahan dan konflik agraria. Petani gurem yang berjumlah 17,25 juta hanya menguasai lahan kurang dari 0,5 hektar, dengan pendapatan rata-rata Rp1,45 juta per bulan—jauh lebih rendah dibanding sektor industri (27% lebih besar) dan jasa (50% lebih tinggi). Bahkan 48,9% rumah tangga miskin berasal dari keluarga petani.

Tantangan lain mencakup perubahan iklim yang menyebabkan sekitar 3.000–3.500 kejadian bencana ekologis per tahun (2015–2022), dengan kerugian negara rata-rata Rp12,65 triliun per tahun.

Partai Parindra di Jambi Memperjuangkan Petani

Petani adalah kelompok yang dinamakan marhaen oleh Soekarno, merujuk pada rakyat kecil yang menjadi tulang punggung bangsa. Ketika Partai Parindra berdiri di Jambi pada 1935, pendirinya dan ketuanya di Jambi adalah dr. Sagaf Yahya, seorang dokter dari Minangkabau yang aktif dalam perjuangan kemerdekaan.

Baca Juga: Kopri 58 Tahun: Meneguhkan Kiprah, Menguatkan Gerakan Perempuan

Cabang Partai Parindra di Jambi memiliki basis massa kuat di kalangan rakyat kecil, termasuk petani dan kelompok marhaen, yang menjadi pondasi utama dengan sistem kaderisasi terbaik saat itu. Alasan sederhana bahwa kelompok marhaenlah yang harus diperjuangkan dalam kebijakan publik melalui advokasi kebijakan di gedung dewan terhormat.

Seharusnya aktivis yang mendampingi petani, duduk di dewan terhormat. Biaya politik yang mahal membuat mayoritas yang duduk di DPRD dan DPR adalah pengusaha. Bagaimana mungkin kelompok kapital yang diwakili oleh pengusaha bisa memperjuangkan kepentingan dan masa depan petani di Indonesia?

Mafia Pertanian dan Konflik Agraria

Bagi saya, kerja bertani adalah kerja penuh keikhlasan dan kesabaran. Pekerjaan bertani adalah pekerjaan berat dengan situasi mahalnya harga pupuk, bibit, dan juga rumitnya akses ke permodalan. Mental petani adalah mental petarung, apalagi kalau panen gagal atau harga jatuh di pasaran karena kelebihan stok atau masuknya komoditas impor dari luar saat petani panen.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X