Sabtu, 18 Juli 2026

Refleksi Diri dengan Puasa Komentar Ala Kanjeng Nabi

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Selasa, 2 September 2025 | 15:35 WIB
Syarif Hidayat Santoso (dok. SketsaNusantara.id)
Syarif Hidayat Santoso (dok. SketsaNusantara.id)

Oleh: Syarif Hidayat Santoso 

SketsaNusantara.id - Antara informasi benar dan palsu akhir-akhir ini hampir sulit dipisahkan. Kondisi ini diperparah dengan kemudahan hadirnya media (platform media sosial maupun media konvensional).  Upaya memunculkan isu negatif yang bersumber dari produsen tanpa nama justru dianggap ada dukungan suksesi oleh pihak pembuat propaganda, atas hadirnya media sebagai penyalur buah pikiran tersebut.

Fenomena seperti itu sudah muncul sejak zaman kehidupan Muhammad Saw. Bedanya, informasi diterima masyarakat kala itu tak semassif sekarang. Salah satu persoalan isu negatif ysng pernah dialami Muhammad dapat dijadikan refleksi kita. Kisahnya, Aisyah, istri Muhammad dikabarkan berselingkuh dengan sahabat Shafwan Bin Mu’aththol Al Sulami. Diketahui, sumber pesan itu berasal dari tokoh kaum munafik, Abdullah Bin Ubay Bin Salul.

Atas kondisi tersebut, Muhammad tidak langsung bereaksi ekstrim. Kisah ini lebih mudah dikenal dengan “puasa komentar ala Muhammad”.

Baca Juga: Sri Mulyani Berikan Pernyataan Ini dalam Rapat di Istana Negara Usai Rumahnya Dijarah oleh Warga: Terima Kasih

Di tengah kerusuhan dan demonstrasi yang membelah anak bangsa menjadi dua kubu, kita wajib melaksanakan ini. Juga di tengah merajalelanya narasi-narasi dari para propagandis anonim yang berupaya memperkeruh suasana.

Rasulullah Muhammad sebagai pemimpin besar tidak membuat komentar macam-macam dalam menyikapi masalah yang menimpanya. Ia justru membangun musyawarah dengan meminta pendapat para sahabatnya, yakni Ali Bin Abi Thalib dan Usamah Bin Zaid.

“Aisyah adalah istrimu dan kami tidak mengetahui kecuali yang baik-baik saja dari beliau,” ucap Usamah Bin Zaid. Sementara, Ali Bin Abi Thalib memberi usul menarik secara psikologi sosial. Ali menyarankan Rasul agar meneliti sejarah kondisi kejiwaan dan mental Aisyah dengan cara menanyai Bariroh, pelayan Rasul, bagaimana sebenarnya kepribadian Aisyah itu.

Baca Juga: Aurelie Moeremans Bongkar 6 Poin Penting atas Penolakannya Masuk Politik, Benarkah Tak Mau Jadi Boneka?

Bariroh pun memberikan jawabannya. Ia mengatakan, bahwa Aisyah tak memiliki kelainan jiwa sama sekali termasuk indikasi perbuatan serong. Namun, kepada Muhammad, Bairoroh juga mengatakan kesalahan Aisyah. Bairoroh pernah mengetahui kejadian adonan gandum yang dimakan kambing saat Aisyah menunggu adonan tersebut namun tertidur. 

Rasul tak mengomentari isu yang dilemparkan kaum munafik namun menerapkan cara istimewa yang berbeda, sosial historis, dan berdimensi stabilitas politik.

 Itulah puasa bicara ala Rasul, puasa komentar yang menarik. Perlu diketahui, bahwa dalam kasus ini, wahyu tak turun selama sebulan kepada Rasul. Rasul dan juga Sayyidina Abu Bakar tak langsung menyangkal berita bohong itu, padahal Rasul dan Sayyidina Abu Bakar jelas mengerti betul watak Aisyah Ummul Mukminin dan Sahabat Sofwan yang ikut dalam perang Badar. Baik Aisyah maupun Shofwan merupakan dua tokoh yang terkenal kredibilitas kebaikan, kejujuran dan kesalehannya.

Baca Juga: Calvin Verdonk Pemain Dijuluki El Konsisten Resmi Jadi Orang Indonesia Pertama Bermain di Ligue 1 Prancis Bersama LOSC Lille

Tidak berkomentarnya Rasul ke hadapan publik dalam kasus fitnah selingkuh Aisyah dan Shofwan memiliki manfaat sosial lain yang multi dimensi. Kasus ini menguji secara faktual mentalitas dan spiritual para sahabat dan keluarga Rasul. Beberapa sahabat memang termakan isu perselingkuhan ini. Diantaranya penyair Hasan Bin Tsabit, Misthoh Bin Utsaatsah dan ipar Rasulullah, Himnah Binti Jahsyin. Himnah Binti Jahsyin adalah saudari Zainab Binti Jahsyin, salah satu istri Rasul yang lain. Himnah ikut menyebarkan gossip ini.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X