Namun tidak dengan Zainab Binti Jahsyin, saudari Himnah, Zainab adalah salah satu istri nabi yang termasuk paling rajin dalam mencari perhatian nabi atau secara sederhana Zainab adalah saingan Aisyah di sisi Rasul. Tapi uniknya, Zainab justru mengatakan bahwa Aisyah adalah perempuan baik-baik. Suatu hal yang patut ditiru bagi wanita-wanita yang menjadi istri bagi suami yang berpoligami.
Ternyata, pendapat bahwa Aisyah adalah wanita baik-baik bukan hanya diucapkan Zainab, melainkan juga istri-istri Nabi yang lain. Para Istri nabi kompak mengatakan bahwa Aisyah merupakan wanita baik-baik.
Dampak isu selingkuh ini juga memperkuat dan melatih kepribadian Sahabat Abu Bakar As Shiddiq sebagai ayah dari Aisyah. Sayyidina Abu Bakar memiliki seorang kawan yaitu Misthoh Bin Utsaatsah yang rajin diberi sedekah oleh Sayyidina Abu Bakar RA.
Meskipun Misthoh terlibat penyebarluasan gossip selingkuh Aisyah-Shofwan ini, Sayyidina Abu Bakar tetap tak memusuhi Misthoh. Kebiasaannya memberi sedekah kepada Misthoh tidak hilang. Abu Bakar pun dengan berhati-hati agar persaudaraannya dengan Misthoh tetap terjaga baik. Sikap yang sama ditunjukkan Aisyah terhadap Sahabat Hasan Bin Tsabit. Meski Hasan Bin Tsabit termakan gossip miring ini, Aisyah tetap mendoakannya masuk surga berkat syair-syair Hasan Bin Tsabit.
Finalnya, persoalan ini diselesaikan dengan turunnya wahyu Surat An Nur ayat 11-18. Pelajaran sosiologi kejiwaan penting didapatkan dari An Nur ayat 12 yang berbunyi “Laulaa idz sami’tumuuhu dhannal mu’minuuna wal mu’minaatu Bianfusihim Khoiron Wa Qooluu Hadza Ifkun Mubin” (Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata).
Menurut Abul A’la Al Maududi dalam karyanya tafsir An Nur, arti Bianfusihim pada ayat di atas memiliki dua makna.
Pertama, bahwa jika seorang muslim mendengar sebuah berita bohong maka cocokkan dengan diri kalian masing-masing. Dengan penjelasan, jika kalian secara pribadi tak pantas melakukan perbuatan tercela itu, maka apakah pantas perbuatan tercela itu dilakukan Aisyah sebagai Ummul Mukminin. Makna ini terlihat dalam dialog Sahabat Abu Ayyub Al Anshari dengan istrinya ketika membahas gosip selingkuh ini. Istri Abu Ayyub menjawab “Aisyah jauh lebih baik dariku dan Shofwan lebih baik darimu”. Sebuah terma psikososial yang menarik.
Makna kedua terletak pada kalimat Bianfusihim yang memiliki jangkauan moral agar kaum muslim harus selalu berbaik sangka kepada semua umat Islam lainnya. Ini pelajaran moral yang diajarkan nabi mana saja sejak dahulu. Adanya prasangka baik menyebabkan kuat dan eratnya persaudaraan dan berkurangnya permusuhan.
Jika dipahami, ayat tersebut mengajarkan kita untuk mengukur diri sendiri sebelum mengukur diri orang lain. Menyibukkan diri sendiri daripada sibuk mengurus orang lain. Ayat diatas merupakan sebuah terma sosial menarik bahwa masyarakat yang baik pasti akan memiliki pemimpin yang baik.
Jika masyarakat sahabat zaman Nabi terdiri dari pribadi-pribadi baik, maka otomatis pemimpinnya seperti Nabi dan Aisyah sebagai pemimpin wanita mukmin jelas lebih baik kualitas akhlak dan kepribadiannya.
Baca Juga: 5 Fakta Dakwah Islam Sunan Kalijaga yang Ternyata Sangat Cerdik dan Tanpa Kekerasan
Namun sebaliknya, jika masyarakat buruk pasti akan memilih pemimpin yang buruk. Inilah pemikiran dan aksi sosiologi Islam yang menarik. Bahwa jika kita ingin memiliki pemimpin baik yang pertama dilakukan adalah menciptakan masyarakat baik.
Artikel Terkait
56 Refleksi Pelajaran Hidup yang Dibagikan Anies Baswedan pada Ulang Tahunnya ke 56
Siap Edit! 10 Desain Banner Perayaan Maulid Nabi Muhammad 1447 Hijriah, Template Menarik Islami Cocok untuk Beragam Acara
Sesuai Arahan Presiden Prabowo, DPR RI Siap Cabut Tunjangan Perumahan Rp50 Juta per Anggota