Oleh Astatik Bestari*
SketsaNusantara.id - Peringatan Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day 2026 yang mengusung tema Give to Gain bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 H. Tema global ini membawa pesan timbal balik yang jelas bahwa apa yang kita berikan hari ini akan menentukan apa yang kita dapatkan di masa depan. Dalam ranah pendidikan peringatan ini memanggil kita untuk melakukan refleksi tajam terhadap sebuah ironi besar yang sedang terjadi di depan mata kita setiap hari.
Saat ini umat Islam menjalankan ibadah puasa dan berbagai program kebaikan digulirkan. Salah satu program nasional yang sedang berjalan adalah Makan Bergizi Gratis yang didistribusikan ke sekolah dan pesantren. Tujuan program ini sangat baik yaitu memberikan asupan gizi yang layak bagi para murid. Namun pelaksanaannya di lapangan justru memicu masalah baru yang mengancam masa depan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai pemasok utama terus membanjiri lingkungan pendidikan dengan kemasan plastik sekali pakai dari makanan kering.
Baca Juga: Distribusi MBG Terlambat, Sekolah di Banyumas Tolak Pengiriman Makan Bergizi Gratis
Kita menghadapi kenyataan bahwa institusi pendidikan yang seharusnya menjadi pusat keteladanan justru berubah menjadi penyumbang sampah plastik dalam jumlah masif. Ini adalah sebuah kontradiksi yang menuntut tindakan nyata dan tidak bisa sekadar diselesaikan dengan jargon atau slogan.
Pemerintah sebenarnya telah merespons isu krisis iklim dengan menerbitkan Panduan Implementasi Pendidikan Perubahan Iklim untuk Satuan Pendidikan dan Pemangku Kepentingan pada tahun 2024 melalui Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan. Dokumen ini secara tegas mengarahkan satuan pendidikan untuk membangun kesadartahuan dan kapasitas seluruh warga sekolah dalam merespons krisis lingkungan. Panduan tersebut memandatkan agar pendidikan perubahan iklim bermuara pada aksi nyata untuk memecahkan permasalahan di lingkungan sekolah dan membentuk gaya hidup rendah karbon.
Namun panduan resmi tersebut seolah kehilangan tajinya ketika berhadapan dengan realita logistik harian. Lomba Sekolah Adiwiyata dan berbagai kompetisi kepedulian lingkungan terus digelar secara meriah. Sayangnya semua itu sering kali hanya berhenti pada tataran seremonial belaka. Gelar pahlawan lingkungan menjadi tidak bermakna ketika sekolah masih memberikan izin masuk bagi ribuan kemasan plastik sekali pakai setiap harinya tanpa ada skema pengelolaan atau pengurangan yang terukur. Kita mengajarkan teori kelestarian alam di dalam kelas tetapi di luar kelas murid melihat pembiaran terhadap perusakan lingkungan atas nama kepraktisan program gizi.
Baca Juga: Viral Menu MBG untuk Anak PAUD: Pisang Kecil, Telur Rebus, hingga Timun Utuh Jadi Sorotan
Untuk membedah kebuntuan ini kita perlu melihat akar masalahnya dari sudut pandang yang lebih mendalam. Solusi spiritual dan moral sebenarnya telah dipaparkan dengan sangat bernas dalam webinar SIKURMA (Sinau Kurikulum Ma'arif) sesi 14 yang diselenggarakan oleh LP Ma'arif F PCNU Jombang pada bulan Ramadan 1447 H ini.
Dalam forum tersebut, materi tentang Implementasi Ekoteologi di Satuan Pendidikan dengan Pendekatan KBC disampaikan oleh pemateri Hj. Maftuhah Mustiqowati. Paparan ini memberikan pijakan yang sangat kuat bagi kita untuk mengevaluasi perilaku konsumtif di sekolah.
Dalam Webinar tema Ekoteologi ini menegaskan pemahaman agama yang melihat bumi sebagai rumah bersama yang harus dijaga karena merupakan amanah langsung dari Tuhan. Landasan ini berakar kuat pada ajaran Al-Qur'an khususnya Surat Al Baqarah ayat 30 yang menetapkan manusia sebagai khalifah atau pemimpin yang bertugas merawat bumi bukan merusaknya.
Dari perspektif Ekoteologi membuang sampah plastik sembarangan dan mendukung sistem distribusi yang merusak alam bukanlah sekadar pelanggaran tata tertib sekolah. Tindakan tersebut adalah sebuah dosa ekologis dan bentuk pengingkaran terhadap ajaran agama.
Ramadan adalah bulan yang melatih pengendalian diri. Apabila kita tidak mampu mengendalikan timbulan sampah dari makanan yang kita konsumsi maka nilai ibadah kita patut dipertanyakan. Kita memberi makan raga para murid tetapi di saat bersamaan kita meracuni bumi yang kelak akan menjadi tempat mereka hidup dan berkembang. Ini adalah pelanggaran moral yang harus segera dihentikan.
Artikel Terkait
Keadilan Ekologis dan Gerakan Perempuan Kopri Jember sebagai Sebuah Peta Jalan
Mengaktualisasikan Jati Diri Perempuan: Memutus Rantai Bias Gender dari Rumah
Kirana Larasati Pecahkan Rekor MURI sebagai Perempuan Pertama Indonesia yang Berhasil Menyelam Hingga Kedalaman 127 Meter