Dalam konteks inilah tema Give to Gain pada IWD 2026 menemukan urgensinya. Perempuan memiliki peran paling depan sebagai inisiator perubahan. Sebagai ibu pendidik pengelola sekolah dan pemangku kebijakan perempuan memiliki kekuatan untuk mengoreksi sistem yang salah arah ini. Perempuan terbiasa mengelola kehidupan dan memastikan keberlanjutan ruang hidup keluarganya. Insting merawat ini harus diperluas ke ranah kebijakan publik dan manajemen sekolah.
Perempuan di sektor pendidikan harus mengambil sikap tegas. Kita tidak boleh diam dan menerima begitu saja kiriman logistik yang berpotensi menjadi limbah abadi. Semangat Give to Gain menuntut kita untuk memberikan suara penolakan terhadap kemasan plastik sekali pakai agar kita mendapatkan masa depan lingkungan yang sehat.
Terdapat beberapa langkah solutif yang bisa segera dieksekusi oleh satuan pendidikan. Pertama, pihak sekolah harus mendesak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk merevisi standar operasional pengemasan mereka. Gunakan wadah guna ulang yang bisa dicuci dan dipakai kembali. Pemerintah dan penyedia jasa tidak boleh menyelesaikan urusan gizi dengan menciptakan bencana ekologi di sekolah.
Kedua, jadikan panduan perubahan iklim tahun 2024 dan materi Ekoteologi dari webinar SIKURMA sesi 14 LP Ma'arif PCNU Jombang tersebut sebagai kurikulum nyata yang dipraktikkan langsung. Integrasikan kedua dokumen tersebut ke dalam kebijakan harian pesantren dan sekolah. Murid harus diajak membedah masalah sampah ini secara kritis dan dilibatkan dalam mencari jalan keluarnya.
Ketiga, lakukan audit sampah harian secara terbuka. Biarkan murid mencatat dan melihat sendiri jumlah sampah yang dihasilkan oleh komunitas mereka. Fakta visual ini akan menjadi metode pembelajaran yang jauh lebih efektif daripada ceramah panjang lebar di dalam kelas. Kesadaran akan tumbuh ketika murid menyadari bahwa setiap tindakan kecil mereka berdampak langsung pada kelestarian rumah bersama.
Pendidikan yang sejati selalu berorientasi pada masa depan. Jika institusi pendidikan gagal menyelaraskan program kesehatan dengan kelestarian lingkungan maka kita sedang mendidik generasi yang rapuh. Peringatan Hari Perempuan Sedunia 2026 ini harus menjadi momentum kebangkitan. Mari kita wujudkan makna Give to Gain melalui tindakan nyata. Berikan ketegasan dalam memegang prinsip kelestarian alam hari ini agar kelak peradaban kita mendapatkan generasi murid yang cerdas secara intelektual sekaligus mulia dalam memperlakukan bumi.
Tindakan nyata adalah bukti dari ilmu yang bermanfaat. Mari bersikap tegas menolak kerusakan dan jadilah pelopor perbaikan lingkungan mulai dari sekolah kita sendiri.***
* Wakil Sekretaris LP Ma'arif PCNU Jombang, Ketua 2 DPP ASTINA (Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional), Mahasiswa Pascasarjana UNDAR Jombang
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Keadilan Ekologis dan Gerakan Perempuan Kopri Jember sebagai Sebuah Peta Jalan
Mengaktualisasikan Jati Diri Perempuan: Memutus Rantai Bias Gender dari Rumah
Kirana Larasati Pecahkan Rekor MURI sebagai Perempuan Pertama Indonesia yang Berhasil Menyelam Hingga Kedalaman 127 Meter