Oleh: Syarif Hidayat Santoso
SketsaNusantara.id - Momen Imlek pasti mengingatkan kita pada Gus Dur. Gus Durlah melalui Keppres No 6 Tahun 2000 mencabut Inpres No 14/1967 yang berisi pembatasan buat Taoisme, Konghucu dan berbagai kultur etnis Cina dipraktekkan di Indonesia.
Peran besar Gus Dur yang memberi ruang lebar bagi kaum Tionghoa untuk bergerak leluasa di Indonesia ini menarik untuk dikaji. Pasalnya, Cina dan segala perniknya bukanlah satu entitas yang terjalin tunggal dan monologis.
Cina juga mengemuka dalam pemikiran Gus Dur terutama tentang satu Pax Cinandia-Indonesia yang tangguh. Meskipun gagasan brilian itu mati suri dan terlupakan begitu saja, namun hikmah filosofisnya sangat terasa. Gus Dur seakan memberikan satu kritik serius terhadap peradaban Indonesia kontemporer agar lebih terpacu dan berdiri sejajar dengan Cina yang kini landing dengan spektakuler.
Apa yang dikatakan Gus Dur tentang Cina dan India ternyata terbukti. Laporan Sunday Business London, sejak Juli 2006 lalu menunjukkan bahwa Cina unggul di teknologi hardware dan India unggul (saat itu) di software, meski kenyataannya, India jauh di belakang Cina
Cina begitu penting dalam pemikiran politik Internasional terutama pasca perang dingin. Cina juga begitu mengesankan pasca Olimpiade Beijing tahun 2008. Spektakuleritas Olimpiade Beijing menunjukkan betapa Cina telah tumbuh dengan kuasa teknologi mengesankan. Kecanggihan itu juga terlihat saat pentas puluhan ribu drone beberapa saat lalu. Cinapun bukan negara berpengaruh di region Asia Timur semata. Cina juga berpengaruh kuat di Timur Tengah dan Asia Selatan.
Pengaruh Cina terasa sejak zaman purba melalui jalur sutra Asia Tengah. Namun, Cina menjadi begitu spektakuler ketika meletus perang Iran-Irak 1980-1988. Ketika revolusi Iran meletus tahun 1979, doktrin revolusi Iran begitu idealis namun tak realistis. Ayatullah Khomeini menggulirkan semboyan anti blok kapitalis dan blok komunis sekaligus. Semboyan itu berbunyi La Syarqiyah, La Gharbiyah, Wahdat Islamiyah. Sinisme Iran terhadap Big Satan Amerika dan Sovyet menjadikan Iran kesulitan memperoleh senjata melawan Irak. Iran terpaksa berpaling kepada Cina dan Korea Utara untuk memperoleh rudal alternatif. Tekonologi rudal anti tank Cina juga digunakan negara-negara muslim seperti Iran dan Pakistan untuk membantu muslim Bosnia saat perang Bosnia.
Baca Juga: Spesial Ramadhan 1447 Hijriah! Ucapan Islami Penuh Makna untuk Pesan Instagram di Bulan Puasa
Melalui Cina, Iran memperoleh Scud B dan rudal ulat sutera ketika melawan Irak. Melalui Cina pulalah, Iran menjalin kerjasama membangun teknologi misil terbaru. Hasilnya begitu spektakuler. Iran mampu memproduksi rudal balistik scud B, Iqab dan rudal prestisius Shihab 3 (Mustafa Abdul Rahman: 2003). Rudal-rudal terbaru Iran yang ditampilkan samar-samar saat konflik 12 hari dengan Israel juga berteknologi Cina dan Rusia. Kini, tak dapat dipungkiri, teknologi balistik Cina seakan menjadi daya tawar sekaligus momok bagi kepentingan barat di Persia dan Arab kontemporer.
Faktor Cina di Iran memang tak tunggal, karena ada faktor lain seperti Korut, Rusia bahkan dulunya Jerman. Meski Jerman perlahan mundur karena faktor NATO. Pengaruh Cina juga terasa di negara satelit Iran seperti Syiria. Negara-negara seperti Iran dan Syria adalah negara yang terikat dengan super power baru sino konfusius yang tumbuh dinamis di timur jauh.
Sedikit yang mengingat bahwa Cina dengan budaya konfusiusnya merupakan satu tantangan bagi barat yang disebut Samuel Huntington dalam clash of civilitation. Benturan peradaban yang sangat ditakuti barat itu mengandung satu sensivitas yang tak monolitik tertuju kepada Islam. Kalangan Islamis sering melihat bahwa hanya Islamlah satu-satunya kekuatan yang ditakuti barat. Padahal, barat bukan saja khawatir terhadap fundamentalisme Islam. Ketakutan Barat justru lebih terasa karena ada faktor Cina di belakang negara-negara Islam musuh Amerika. Kekuatan raksasa Cina yang melaju tanpa henti dalam teknologi, ekonomi dan militer dan supremasinya yang mengkhawatirkan ketika berkombinasi dengan fundamentalisme Islam. Aura Islam seakan juga ditampilkan dalam isu tentara Chechnya dalam perang Rusia-Ukraina.
The clash of civilization menjadi mitos yang diamini, bukan saja karena Huntington teramat benar dalam menganalisa kerjasama sebagian dunia Islam dengan Sino-Konfusionisme hanya dengan melihat keterlibatan teknologi rudal Silkworm Cina pada perang Iran-Irak. Memang, mengamini pendapat Huntingtonpun teramat absurd di tengah kebingungan koalisi dunia di era multipolar.
Artikel Terkait
Sejarah Demo Hari Buruh di Indonesia, Digelar Serikat Pekerja Tionghoa hingga Jadi Aksi Unjuk Rasa 1 Mei Pertama di Asia
Jarang Disebut di Buku Pelajaran! Inilah 7 Fakta Rumah Rengasdengklok, Ternyata Ada Jasa Petani Tionghoa dalam Proklamasi 17 Agustus 1945
Siapa Djiaw Kie Song? Kisah Petani Tionghoa Rengasdengklok yang Rumahnya Jadi Saksi Proklamasi 1945
Kamu Harus Tahu! 5 Makanan Populer Berawalan ‘Bak’ Ini Hasil Akulturasi dari Tionghoa, Semuanya Favorit Masyarakat Indonesia
5 Fakta Unik Gambang Kromong, Kesenian Tradisional Betawi dengan Unsur Budaya Tionghoa, Sunda, dan Jawa, Lestari hingga Kini
Benarkah Sunan Kalijaga Keturunan Cina? Inilah 3 Versi Asal-usulnya yang Jarang Dibahas, dari Keturunan Jawa, Arab, hingga Tiongkok dalam Sejarah Wali
Imlek cuma Ada di Indonesia? Asal Usul Sebutan Perayaan Tahun Baru Cina di Tanah Air, Ternyata Berkaitan dengan Orde Baru!