Minggu, 19 Juli 2026

Gus Dur, Cina dan Islam

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
Syarif Hidayat Santoso (SketsaNusantara.id)
Syarif Hidayat Santoso (SketsaNusantara.id)

Oleh: Syarif Hidayat Santoso

SketsaNusantara.id - Momen Imlek pasti mengingatkan kita pada Gus Dur. Gus Durlah melalui Keppres No 6 Tahun 2000 mencabut Inpres No 14/1967 yang berisi pembatasan buat  Taoisme, Konghucu dan berbagai kultur etnis Cina dipraktekkan di Indonesia.

Peran besar Gus Dur yang memberi ruang lebar bagi kaum Tionghoa untuk bergerak leluasa di Indonesia ini menarik untuk dikaji. Pasalnya, Cina dan segala perniknya bukanlah satu entitas yang terjalin tunggal dan monologis.

Cina juga mengemuka dalam pemikiran Gus Dur terutama tentang satu Pax Cinandia-Indonesia yang tangguh. Meskipun gagasan brilian itu mati suri dan terlupakan begitu saja, namun hikmah filosofisnya sangat terasa. Gus Dur seakan memberikan satu kritik serius terhadap peradaban Indonesia kontemporer agar lebih terpacu dan berdiri sejajar dengan Cina yang kini landing dengan spektakuler.

Baca Juga: Update Harga Emas Hari Ini Kamis 19 Februari 2026: Naik Rp4.000, Simak Daftar Lengkap Emas Antam dari 0,5 hingga 1 Kg

Apa yang dikatakan Gus Dur tentang Cina dan India ternyata terbukti. Laporan Sunday Business London, sejak Juli 2006 lalu menunjukkan bahwa Cina unggul di teknologi hardware dan India unggul (saat itu) di software, meski kenyataannya, India jauh di belakang Cina

Cina begitu penting dalam pemikiran politik Internasional terutama pasca perang dingin. Cina juga begitu mengesankan pasca Olimpiade Beijing tahun 2008. Spektakuleritas Olimpiade Beijing menunjukkan betapa Cina telah tumbuh dengan kuasa teknologi mengesankan. Kecanggihan itu juga terlihat saat pentas puluhan ribu drone beberapa saat lalu. Cinapun bukan negara berpengaruh di region Asia Timur semata. Cina juga berpengaruh kuat di Timur Tengah dan Asia Selatan.

Pengaruh Cina terasa sejak zaman purba melalui jalur sutra Asia Tengah. Namun, Cina menjadi begitu spektakuler ketika meletus perang Iran-Irak 1980-1988. Ketika revolusi Iran meletus tahun 1979, doktrin revolusi Iran begitu idealis namun tak realistis. Ayatullah Khomeini menggulirkan semboyan anti blok kapitalis dan blok komunis sekaligus. Semboyan itu berbunyi La Syarqiyah, La Gharbiyah, Wahdat Islamiyah. Sinisme Iran terhadap Big Satan Amerika dan Sovyet menjadikan Iran kesulitan memperoleh senjata melawan Irak. Iran terpaksa berpaling kepada Cina dan Korea Utara untuk memperoleh rudal alternatif. Tekonologi rudal anti tank Cina juga digunakan negara-negara muslim seperti Iran dan Pakistan untuk membantu muslim Bosnia saat perang Bosnia.

Baca Juga: Spesial Ramadhan 1447 Hijriah! Ucapan Islami Penuh Makna untuk Pesan Instagram di Bulan Puasa

Melalui Cina, Iran memperoleh Scud B dan rudal ulat sutera ketika melawan Irak. Melalui Cina pulalah, Iran menjalin kerjasama membangun teknologi misil terbaru. Hasilnya begitu spektakuler. Iran mampu memproduksi rudal balistik scud B, Iqab dan rudal prestisius Shihab 3 (Mustafa Abdul Rahman: 2003). Rudal-rudal terbaru Iran yang ditampilkan samar-samar saat konflik 12 hari dengan Israel juga berteknologi Cina dan Rusia. Kini, tak dapat dipungkiri, teknologi balistik Cina seakan menjadi daya tawar sekaligus momok bagi kepentingan barat di Persia dan Arab kontemporer.

Faktor Cina di Iran memang tak tunggal, karena ada faktor lain seperti Korut, Rusia bahkan dulunya Jerman. Meski Jerman perlahan mundur karena faktor NATO. Pengaruh Cina juga terasa di negara satelit Iran seperti Syiria. Negara-negara seperti Iran dan Syria adalah negara yang terikat dengan super power baru sino konfusius yang tumbuh dinamis di timur jauh.

Baca Juga: Program Ganti Atap Rumah Wartawan Diluncurkan Promedia dan SKI, Solusi Nyaman, Sehat, dan Ramah Lingkungan dari Limbah Plastik

Sedikit yang mengingat bahwa Cina dengan budaya konfusiusnya merupakan satu tantangan bagi barat yang disebut Samuel Huntington dalam clash of civilitation. Benturan peradaban yang sangat ditakuti barat itu mengandung satu sensivitas yang tak monolitik tertuju kepada Islam. Kalangan Islamis sering melihat bahwa hanya Islamlah satu-satunya kekuatan yang ditakuti barat. Padahal, barat bukan saja khawatir terhadap fundamentalisme Islam. Ketakutan Barat justru lebih terasa karena ada faktor Cina di belakang negara-negara Islam musuh Amerika. Kekuatan raksasa Cina yang melaju tanpa henti dalam teknologi, ekonomi dan militer dan supremasinya yang mengkhawatirkan ketika berkombinasi dengan fundamentalisme Islam. Aura Islam seakan juga ditampilkan dalam isu tentara Chechnya dalam perang Rusia-Ukraina.

The clash of civilization menjadi mitos yang diamini, bukan saja karena Huntington teramat benar dalam menganalisa kerjasama sebagian dunia Islam  dengan Sino-Konfusionisme hanya dengan melihat keterlibatan teknologi rudal Silkworm Cina pada perang Iran-Irak. Memang, mengamini pendapat Huntingtonpun teramat absurd di tengah kebingungan koalisi dunia di era multipolar.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X