Minggu, 19 Juli 2026

Gus Dur, Cina dan Islam

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
Syarif Hidayat Santoso (SketsaNusantara.id)
Syarif Hidayat Santoso (SketsaNusantara.id)

Baca Juga: Cara Tukar Uang Baru Lebaran 2026 Tanpa Antre Panjang, Buruan Keburu Kehabisan!

Cina begitu suprematif di hadapan Amerika. Sejak tahun 1979, Cina dan Amerika melakukan normalisasi hubungan. Namun, Amerika tetap bersifat setengah hati dengan Cina. Di masa Clinton, terdapat sejumlah tindakan yang dilakukan Amerika yang menunjukkan keengganan Amerika untuk melakukan iktikad baik terhadap Cina. Normalisasi dengan Vietnam serta lobi Amerika untuk menggagalkan Olimpiade Beijing tahun 2000 adalah struktur hubungan Amerika-Cina yang negatif di masa Clinton. Hari ini kitapun tahu bahwa relasi Cina-Amerika berada pada titik jenuh yang paranoid.

Cina adalah satu daya tawar politik yang signifikan ketika pengaruhnya dihadapkan dengan Amerika. Cina dan Amerika telah memasuki ruang baru perebutan kekuasaan di Asia. Sejak puluhan tahun lalu Kementerian Pertahanan Amerika menyetujui strategi peningkatan militer Amerika di Asia Pasifik guna mewaspadai Cina dan Korea Utara. Saat itu, Menteri Pertahanan Cina, Geng Yanshengpun mengecam rencana Amerika tersebut. Ini bukti bahwa Amerika dan Cina adalah dua kekuatan yang saling berkontestasi.

Baca Juga: Mau Tetap Sehat Bonus Langsing saat Lebaran? Ini Tips Kurus dan Sehat Tercepat ala dr. Tejo Katon

Namun, sensivitas Gus Dur dalam membela etnis Cina dan Konghucu bukanlah disebabkan teori clash of civilitation. Gus Dur justru bercerita tentang satu dinamika tatap muka moderatisme budaya. Gus Dur seakan menoleh kepada konsep moderat seperti Encounter of Civilization (tatap muka antar peradaban) ala Arnold Toynbee.

Bagi Toynbee, kecermelangan Islam masa lalu di tengah eksotisme 7 peradaban besar (masing-masing adalah Greco-Romawi, Bizantium, Yudea-Christendom, Persia, India, Sino Konfusius, Farao Berber) lebih disebabkan kapabilitas tatap mukanya. Islam sebagai kultur termuda bahkan mampu memelihara simbiosis flamboyan dengan eksotisme itu. Ia tidak perlu harus membangun sebuah clash, walaupun resistensi peradaban itu muncul.

Memberikan ruang lapang bagi minoritas Cina di Indonesia bukan saja memperlancar koalisi kebudayaan antar bangsa besar Asia, tapi juga dinamisasi politik internasional. Menjadikan Chindo menjadi lebih Indonesiawi adalah hal penting, dan ini sulit.

Baca Juga: Pertemuan Strategis di Mabes TNI AD, Promedia Tawarkan Jaringan 1.250 Media untuk Publikasi Program Nasional

Bagi sebagian rakyat Indonesia, sulit membedakan mana Tiongkok yang komunis dengan Tionghoa Indonesia yang beragama. Rakyat Indonesia juga masih bingung bagaimana membedakan Taiwan dengan Tiongkok itu meski mereka tahu sejarah Kuomintang. Persepsi positif tentang Taiwan dari para TKI tak sebanding dengan persepsi positif Tiongkok menurut para mahasiswa Indonesia yang kuliah di Tiongkok. Isu-isu negatif ketionghoaan terkadang menyatu dengan isu Singapura yang terkadang dianggap kerikil dalam relasi keIndonesiaan di Asia Tenggara.

Ketika Cina, Rusia, dan Iran begitu penting dalam politik Internasional kontemporer, maka sebuah hal rasional BRICS menjadi penting. Cina memang bukan lagi negara sosialis murni. Cina bermetamorfosis menuju negara kapitalis semu. Namun, sekuat apapun kapitalisme Cina, rasa-rasanya masih menjadi tanda tanya apakah lebih baik dari kapitalisme Amerika yang didukung negara-negara satelit Wahabinya di Timur Tengah.  

Penulis adalah Alumni Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X