Asrorudin*
SketsaNusantara.id - Negara boleh tidak bicara kepada rakyat asalkan setiap pagi ada makanan yang datang ke depan pintu rumah mereka. Seperti burung, boleh disangkarkan tapi harus diberi makan. Tapi jika makanan tidak tersedia maka berilah kebebasan. Agar ia terbang mencari karunia Tuhan.
Keadaan hari ini memang membuat semua mata tertuju pada layar yang berisi nuansa kemarahan, kekecewaan yang bahkan nampak seperti luapan dendam yang tersimpan begitu panjang. Bagiku, ini berangkat dari arogansi kekuasaan, bahwa memang beberapa orang belakangan ini menjelma bagai titisan Tuhan, dan mereka lupa sejatinya semua berangkat dari dualat rakyat.
Demonstrasi di mana-mana. Sehingga, tuntutan yang ada menjelma bagai lahirnya genderang permusuhan. Peralihan isu begitu cepat. Mirisnya, semua sisi selalu ada ruang kecewa.
Ini bahaya. Kita tahu bahwa teori lama mengatakan parlemen jalanan lahir ketika ruang parlemen sepi dan menyumbatnya aspirasi rakyat. Hal-hal lain yang lahir bersamaan menjadi anarki dan tirani adalah tragedi dalam demokrasi. Ini adalah kegelapan yang memerlukan lentera. Ini Hukum besi sejarah!
Sebenarnya, kita juga mengerti pada dasarnya presiden, DPR sebagai official elected adalah pesuruh atau pelayan utama rakyat yang diberi fasilitas untuk memberi manfaat.Karena itu, mereka dalam hal ini harus bertanggung jawab penuh untuk segera menjawab dan menyelesaikan persoalan.
Tuntutan rakyat yang menggema hari ini nampak kasat mata meski kita tahu kelembutan hati rakyat Indonesia adalah kemudahan bagi pemimpin kita, itu semua ada batasnya. Seperti kata pepatah “bak api dalam sekam”.
Baca Juga: Demi Kemandirian, Muskercab PCNU Kabupaten Madiun Canangkan Empat Program Strategis
Memang menyedihakan, terlalu banyak kebijakan yang tidak dipersoalkan oleh 575 anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan 136 anggota Dewan Perwakilan Daerah. Dan yang paling menyakitkan ialah, disituasi ekonomi yang sulit ini, ketidakpastian di semua level kebijakan justru dengan sadar mereka menampilkan nir - empati. Seolah tidak peduli, dan gambira sambil berdansa.
Akhirnya, rakyat "ngomel" sendiri, hingga dalam kesulitannya pun dibenturkan dengan polisi. Sudah jatuh ditimpa tangga pula. Keadaan seperti ini sangat merugikan bagi iklim demokrasi yang sedang berjalan di Indonesia.
Yang arus kita ingat, setiap sumbatan pada percakapan publik pasti akan melahirkan akumulasi perasaan tidak didengar yang pada akhirnya akan menjadi air bah massa aksi atau bahkan revolusi. Tidak mungkin rakyat gaduh kalau hidupnya normal.
Baca Juga: Warga Ambulu Minta Ada Standar Harga Tembakau Petani, DPRD Jember Bakal Kawal Aspirasi Masyarakat
Kini himbaun dari para tokoh bangsa tak banyak lagi di dengar. Seakan-akan kepercayaan sudah mulai luntur. Dan kau tahu, di antara sebab yang sangat menonjol adalah karena rasa tidak percaya kepada penguasa dan para elitnya; apabila penguasa mulai nampak tidak bisa dipercaya, hukum berat sebelah, membela kawan dan menekan lawan, tebang pilih dan pilih kasih.
Artikel Terkait
Bahas Tambang dengan Jokowi saat Rakyat Tengah Aksi Demonstrasi, Gus Yahya Kena Sindir Gus Nadir: Contoh Dong PBNU
Kilas Balik Demonstrasi 1998 Silam, Guru Besar UI Sampaikan Pesan Mendalam atas Aksi Demo Mahasiswa Kawal Putusan MK
Dibayar atau Gerakan Murni? Prabowo Subianto Sebut Demonstrasi ‘Indonesia Gelap’ Sarat Kepentingan dan Penuh Kebohongan