Minggu, 19 Juli 2026

Kebijakan 5 Hari Belajar dan Hilangnya Ruang Tumbuh bagi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Rabu, 3 September 2025 | 17:10 WIB
Astatik Bestari (dok. SketsaNusantara.id)
Astatik Bestari (dok. SketsaNusantara.id)

Oleh: Astatik Bestari*


SketsaNusantara.id - Kebijakan pendidikan selalu menjadi bagian penting dari arah pembangunan bangsa karena menyangkut generasi penerus. Sejak tahun 2017, pemerintah melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 menetapkan kebijakan lima hari belajar dalam sepekan. Menyitir dari NU online (2017) permendikbud ini gugur dengan terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Tujuan utama kebijakan di atas, memperkuat pendidikan karakter dengan memberikan ruang lebih bagi murid untuk beraktivitas di luar sekolah, termasuk dalam keluarga dan masyarakat. Namun, dalam perjalanannya, kebijakan lima hari belajar ini menimbulkan banyak catatan kritis, khususnya terkait efektivitasnya terhadap tumbuh kembang anak.

Dengan melihat secara menyeluruh bagaimana anak-anak mengalami proses belajar, tumbuh, dan berkembang, kita dapat menilai apakah sistem lima hari belajar sepekan benar-benar memberikan manfaat atau justru menimbulkan dampak yang kurang mendukung perkembangan mereka. Lebih jauh, refleksi ini juga menimbang kembali apakah kebijakan enam hari belajar yang lebih lama kita terapkan sebelumnya justru lebih relevan, proporsional, dan sejalan dengan kebutuhan anak?

Baca Juga: Nyanyikan Lagu Ibu Pertiwi, Agnez Mo Minta Masyarakat Waspadai Provokasi: Kita Bukan Lagi Indonesia Tahun 1998

Anak adalah pribadi yang tengah tumbuh dengan ritme alamiah. Masa kanak-kanak, baik di usia dini maupun jenjang pendidikan dasar dan menengah, merupakan periode emas yang menentukan arah perkembangan kepribadian, kemampuan kognitif, emosi, sosial, dan moral. Dalam konteks inilah, setiap kebijakan pendidikan seharusnya memperhatikan kebutuhan dasar anak. Kebijakan lima hari belajar yang sejak awal diharapkan menjadi solusi praktis ternyata menyisakan problem. Sebab, tidak sejalan dengan kebutuhan tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan kapasitas anak dalam menerima beban belajar yang panjang setiap harinya. Ketika sekolah dipadatkan hanya dalam lima hari, otomatis jam belajar dalam sehari menjadi lebih panjang. Anak-anak, terutama di tingkat dasar, sering kali mengalami kelelahan karena harus duduk, menyimak, dan mengerjakan berbagai aktivitas akademis. Ini melebihi kemampuan fokus mereka.

Data kesehatan yang dipublikasikan Brain Balance Center, disebutkan, kalau rentang konsentrasi anak yang ideal adalah dua hingga tiga menit dikali usia mereka. Rentang atensi sekitar 2–3 menit per tahun usia, yang juga menghasilkan estimasi serupa, yakni 20–30 menit untuk anak usia sepuluh tahun.

Baca Juga: 5 Fakta Aksi Aliansi Perempuan Indonesia di Gedung DPR, Pakai Baju Pink hingga Tuntutan untuk Prabowo Subianto

Sementara itu, pola belajar yang dipadatkan membuat anak terpaksa menghabiskan waktu lebih lama di kelas meskipun tingkat penerimaan materi sudah menurun. Akibatnya, efektivitas belajar justru berkurang.

Lebih jauh, beban waktu panjang ini berimplikasi pada aspek sosial dan emosional anak. Banyak anak pulang dalam kondisi lelah, sehingga waktu yang semestinya bisa dimanfaatkan untuk berinteraksi dengan keluarga, bermain dengan teman sebaya, atau mengembangkan minat non-akademis justru habis untuk beristirahat. Interaksi keluarga yang seharusnya menjadi inti penguatan pendidikan karakter tidak tercapai karena anak-anak lebih banyak tertidur lebih awal atau tidak lagi memiliki energi untuk berbicara panjang dengan orang tuanya.

Kondisi semacam ini pada akhirnya mereduksi tujuan awal kebijakan lima hari belajar itu sendiri. Alih-alih memperkuat pendidikan karakter melalui interaksi di luar sekolah, anak-anak justru kehilangan kesempatan berharga tersebut. Mereka menjadi bagian dari generasi yang waktunya lebih tersita di sekolah, tetapi dengan kualitas keterlibatan yang menurun.

Baca Juga: Dijarah Saat Kerusuhan, Sri Mulyani Kenang Lukisan yang Dibuatnya 17 Tahun yang Lalu

Di sisi lain, pendekatan lima hari belajar ini tidak memperhatikan kebutuhan perkembangan motorik anak.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X