Minggu, 19 Juli 2026

Maulid, Kebangsaan dan Buku Sirah Nabawiyah

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 30 Agustus 2025 | 00:15 WIB
Syarif Hidayat Santoso (Dok.SketsaNusantara.id)
Syarif Hidayat Santoso (Dok.SketsaNusantara.id)

Oleh: Syarif Hidayat Santoso*

SketsaNusantara.id - Tanpa mempelajari Sirah Nabawiyah secara lebih mendalam, maka maulid akan terlepas dari nilai kebangsaan dan kemanusiaannya. Lalu, dimanakah nilai kebangsaan Maulid. Jamak diketahui, bahwa dalam setiap kitab-kitab maulid selalu dibacakan 3 ayat.

Ketiga ayat tersebut biasanya adalah ayat tentang perintah Sholawat (Surat Al Ahzab 56), ayat tentang Kedatangan Rasulullah yang membawa sifat Rauf dan Rahim (Surat Al Taubah 128-129) serta ayat tentang Kemenangan (Surat Al Fath ayat 1-2). Ayat tentang kemenangan ini sering disalahpahami secara literal semata sehingga mengesankan superioritas konflik atas agama lain.

Baca Juga: Sampaikan Rasa Duka atas Wafatnya Affan Kurniawan di Demo Jakarta, KPI Ajak Media Junjung Profesionalisme dan Informasi Akurat

Pada awalnya buku-buku maulid ditulis tanpa syarah. Isinya sebagian besar bernuansa balaghah. Sehingga tak dipahami mereka yang tak pernah mengenyam sastra Al Quran. Padahal ayat tentang kemenangan yang tercantum dalam buku Maulid justru mengajarkan nilai kebangsaan. Ayat kemenangan turun untuk memberi spirit bahwa perjanjian Hudaibiyah yang terlihat merugikan kaum muslim karena dihapusnya tujuh kata (basmalah dan Rasulullah) serta poin merugikan lainnya justru memberi harapan besar majunya agama Islam.

Dengan adanya Perjanjian Hudaibiyah, maka terjalin komunikasi intensif tanpa konflik antara kaum muslim dan non muslim Quraisy. DR Muhammad Al Hasyimi Al Hamidi dalam buku Sirahnya berjudul Muhammad Lil Qaryah Al Alamiyah melukiskan bahwa setelah Perjanjian Hudaibiyah itu terjalin suasana kondusif, di mana kebebasan tumbuh bersemi. Orang-orang dengan akal dan jiwa yang bebas akhirnya menemukan Islam dengan indahnya. Imam Zuhri dalam Buku Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa Perjanjian Hudaibiyah merupakan Kemenangan Agung.

Baca Juga: Influencer Fathia Fairuza Kritik Insiden Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob pada Demo Buruh: Negara Anggap Rakyat Tak Punya Hak

Ayat kemenangan dalam kitab Maulid justru mengajarkan prinsip perdamaian, toleransi, dan dialogisme antar kaum muslim dan non muslim. Hal ini selaras dengan kebangsaan kita. Di mana nilai-nilai itu menjadi pondasi hidup berbangsa. Tentunya, memahami spirit kebangsaan hanya bisa dipahami oleh mereka yang tak hanya membaca buku maulid, tapi juga buku sirah nabawiyah secara komprehensif.

Buku-buku Sirah Nabawiyah diperlukan agar kita memahami kebangsaan dialogis itu. Spirit untuk berkumpul dengan non muslim dan tanpa lelah berdialog dengan mereka diajarkan oleh nabi kita, bahkan jauh sebelum Perjanjian Hudaibiyah.

Baca Juga: Diskusi BEM STIT UW Jombang: Tanggung Jawab Sosial Tugas Berat Mahasiswa

Buku Ushulul Fikris Siyaasi Fil Quranul Makki karya Tijani Abdul Qadir melukiskan bagaimana ketika Rasul ditolak penduduk Thaif, rasul ditawari dua metode. Metode pertama adalah metode penurunan azab oleh malaikat gunung terhadap penduduk Thaif. Metode kedua adalah metode I’tizal (zealotisme) usulan Zaid Bin Haritsah, yaitu Rasulullah iktikaf di Gua Hira’ saja daripada balik ke Mekkah.

Dua usul ini tak dilakukan Rasul. Rasul malah menciptakan usul sendiri yaitu kembali ke Mekkah, kota yang memusuhinya. Uniknya, Rasul malah melakukan koalisi keamanan dengan orang kafir, Bani Naufal untuk masuk Mekkah. Pimpinan Bani Naufal, Mut’am Bin Adi yang masih kafir menjamin keamanan Rasul untuk kembali ke Mekkah.

Baca Juga: Dicecar soal Pajak, Sri Mulyani Pilih Diam dan Kabur dari Pertanyaan Mahasiswa

Hal-hal unik ini hanya diketahui jika kita membaca Sirah seperti Sirah Al Halabiyah karya Ali Bin Burhanudin Al Halabi. Dalam buku-buku Sirah itu kita akan menemukan nilai-nilai Kebangsaan dan toleransi non muslim. Di Indonesia, spirit Kebangsaan (Wathaniyah) takkan bisa diketahui kalau kita misalnya tak membaca buku-buku karangan ulama yang mengajarkan Kebangsaan seperti buku-buku karangan K.H Muchit Muzadi dari Nahdlatul Ulama dan lainnya.***

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X