Oleh: Syarif Hidayat Santoso*
SketsaNusantara.id - Tanpa mempelajari Sirah Nabawiyah secara lebih mendalam, maka maulid akan terlepas dari nilai kebangsaan dan kemanusiaannya. Lalu, dimanakah nilai kebangsaan Maulid. Jamak diketahui, bahwa dalam setiap kitab-kitab maulid selalu dibacakan 3 ayat.
Ketiga ayat tersebut biasanya adalah ayat tentang perintah Sholawat (Surat Al Ahzab 56), ayat tentang Kedatangan Rasulullah yang membawa sifat Rauf dan Rahim (Surat Al Taubah 128-129) serta ayat tentang Kemenangan (Surat Al Fath ayat 1-2). Ayat tentang kemenangan ini sering disalahpahami secara literal semata sehingga mengesankan superioritas konflik atas agama lain.
Pada awalnya buku-buku maulid ditulis tanpa syarah. Isinya sebagian besar bernuansa balaghah. Sehingga tak dipahami mereka yang tak pernah mengenyam sastra Al Quran. Padahal ayat tentang kemenangan yang tercantum dalam buku Maulid justru mengajarkan nilai kebangsaan. Ayat kemenangan turun untuk memberi spirit bahwa perjanjian Hudaibiyah yang terlihat merugikan kaum muslim karena dihapusnya tujuh kata (basmalah dan Rasulullah) serta poin merugikan lainnya justru memberi harapan besar majunya agama Islam.
Dengan adanya Perjanjian Hudaibiyah, maka terjalin komunikasi intensif tanpa konflik antara kaum muslim dan non muslim Quraisy. DR Muhammad Al Hasyimi Al Hamidi dalam buku Sirahnya berjudul Muhammad Lil Qaryah Al Alamiyah melukiskan bahwa setelah Perjanjian Hudaibiyah itu terjalin suasana kondusif, di mana kebebasan tumbuh bersemi. Orang-orang dengan akal dan jiwa yang bebas akhirnya menemukan Islam dengan indahnya. Imam Zuhri dalam Buku Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa Perjanjian Hudaibiyah merupakan Kemenangan Agung.
Ayat kemenangan dalam kitab Maulid justru mengajarkan prinsip perdamaian, toleransi, dan dialogisme antar kaum muslim dan non muslim. Hal ini selaras dengan kebangsaan kita. Di mana nilai-nilai itu menjadi pondasi hidup berbangsa. Tentunya, memahami spirit kebangsaan hanya bisa dipahami oleh mereka yang tak hanya membaca buku maulid, tapi juga buku sirah nabawiyah secara komprehensif.
Buku-buku Sirah Nabawiyah diperlukan agar kita memahami kebangsaan dialogis itu. Spirit untuk berkumpul dengan non muslim dan tanpa lelah berdialog dengan mereka diajarkan oleh nabi kita, bahkan jauh sebelum Perjanjian Hudaibiyah.
Baca Juga: Diskusi BEM STIT UW Jombang: Tanggung Jawab Sosial Tugas Berat Mahasiswa
Buku Ushulul Fikris Siyaasi Fil Quranul Makki karya Tijani Abdul Qadir melukiskan bagaimana ketika Rasul ditolak penduduk Thaif, rasul ditawari dua metode. Metode pertama adalah metode penurunan azab oleh malaikat gunung terhadap penduduk Thaif. Metode kedua adalah metode I’tizal (zealotisme) usulan Zaid Bin Haritsah, yaitu Rasulullah iktikaf di Gua Hira’ saja daripada balik ke Mekkah.
Dua usul ini tak dilakukan Rasul. Rasul malah menciptakan usul sendiri yaitu kembali ke Mekkah, kota yang memusuhinya. Uniknya, Rasul malah melakukan koalisi keamanan dengan orang kafir, Bani Naufal untuk masuk Mekkah. Pimpinan Bani Naufal, Mut’am Bin Adi yang masih kafir menjamin keamanan Rasul untuk kembali ke Mekkah.
Baca Juga: Dicecar soal Pajak, Sri Mulyani Pilih Diam dan Kabur dari Pertanyaan Mahasiswa
Hal-hal unik ini hanya diketahui jika kita membaca Sirah seperti Sirah Al Halabiyah karya Ali Bin Burhanudin Al Halabi. Dalam buku-buku Sirah itu kita akan menemukan nilai-nilai Kebangsaan dan toleransi non muslim. Di Indonesia, spirit Kebangsaan (Wathaniyah) takkan bisa diketahui kalau kita misalnya tak membaca buku-buku karangan ulama yang mengajarkan Kebangsaan seperti buku-buku karangan K.H Muchit Muzadi dari Nahdlatul Ulama dan lainnya.***
Artikel Terkait
Sketsa Nusantara: Melestarikan Pluralisme dan Keragaman dalam Bingkai Kebangsaan
Dakwah Wali Songo Tergantung pada 4 Tokoh Wayang Kulit ini, Gambaran Para Nabi dan Rasul yang Sering Diremehkan
Asal Usul Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Siapa Pencetusnya? Ternyata Diinisiasi Kelompok dari Afrika Utara