sketsa

Kaum Muda dan Jagoan Abad 21

Kamis, 13 Februari 2025 | 12:59 WIB
Relevansi jagoan dan kaum muda di abad 21. (Dok. SketsaNusantara.id)

Hari Prasetia*

SketsaNusantara.id - Apa yang terbersit pertama kali di pikiran kita ketika mendengar kata ‘jagoan’? Para polisi dan tentara mungkin akan berpikir tentang pahlawan nasional, para santri dengan pikiran kyai jadug-nya, orang Betawi dengan “si Pitung”, orang Romawi kuno dengan gladiatornya, atau anak-anak jaman now dengan The Avengers-nya.

Yaps, semua hanya soal pedang dan otot. Masih relevankah di zaman serba canggih yang mewajarkan rebahan sebagai pekerjaan dan semua fasilitas datang hanya dengan duduk diam?

Dr. Muhammad Faisal, pendiri Youth Laboratory Indonesia menjelaskan, Rollo May (seorang psikolog eksistensial) pada tahun 60-an pernah memprediksi. Apa prediksi yang dihembuskan psikolog tersebut?

Baca Juga: Harapan Baru Jember Menuju Episentrum Nasional: Menggerakkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Hijau dan Biru

Ia mengatakan akan tiba suatu masa, di mana anak muda akan mudah sekali menemukan kepastian tentang dunia eksternal. Dia mengungkapkan, dengan bantuan teknologi, maka anak muda akan mengalami kegelisahan yang luar biasa karena beberapa sebab:

1. Tidak ada lagi ruang untuk misteri, mereka tidak lagi wondering tentang alam, bahkan tentang dirinya sendiri.

2. Mereka tidak sanggup untuk mendengarkan suara dari dalam dirinya sendiri

Kini fenomena yang dikemukakan oleh Rollo May sedikit banyak terjadi di masyarakat kita, khususnya bicara tentang anak muda. Dengan makna sama, masa ini bisa dibilang sudah memasuki prediksi Rollo May tersebut. Suatu masa di mana para anak muda tidak memahami manfaat hal-hal di sekitarnya, bahkan manfaat dirinya sendiri bagi dunia.

Baca Juga: KH M Yusuf Hasyim: Kyai Multiperan dari Tebuireng

Semua hanya berbuat atas dasar alibi dan kepalsuan, bahkan atas dasar pamrih. Mereka terjebak dalam ilusi ketenangan. Berteriak tentang kedamaian, tetapi diam-diam menyimpan pedang dalam laci. Katanya, hanya untuk berjaga-jaga, jikalau cinta tak cukup menjadi bekal untuk bertahan hidup.

Nietzsche pernah berkata, “Manusia itu harus melampaui dirinya sendiri”. Perkataan itu apakah berarti kita harus menjadi singa atau mutan-mutan seperti dalam film X-Man? Di lain sisi, apakah juga cukup menjadi domba-domba yang diberkati oleh kehampaan eksistensial?

Laozi dari Timur mengajarkan kita untuk menjadi seperti air. Ssementara di Barat, Machiavelli mengajarkan bahwa diperlukan tipu muslihat dan topeng-topeng untuk memperoleh kekuasaan. Pilihan mana yang akan kita ambil? Menjadi air lembut namun mampu mengikis gunung atau menjadi pangeran yang justru menari di atas kehancuran moral?

Baca Juga: Shalat dan Kesalehan Sosial

Halaman:

Tags

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB