Minggu, 19 Juli 2026

Mengenang 15 Tahun Wafatnya KH Abdurrahman Wahid: Gus Dur dan Tradisi Literasi

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 21 Desember 2024 | 16:30 WIB
Mukani, Dosen STIT Urwatul Wutsqo Jombang
Mukani, Dosen STIT Urwatul Wutsqo Jombang

 

Mukani*

“Tirakat santri yang paling utama adalah membaca. Ibadah santri yang paling membekas adalah menulis,” Gus Dur.

SketsaNusantara.id - Tidak terasa presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sudah meninggalkan bangsa Indonesia.

Berbagai kegiatan akan digelar untuk mengenang kepergian Gus Dur. Mulai dari bedah majalah, pagelaran wayang kulit, Pesantren Expo, bakti sosial, festival mewarnai foto Gus Dur, khatmil Qur’an, bahtsul masa’il dan shalawatan.

Puncaknya adalah pengajian akbar yang digelar Minggu malam 22 Desember 2024. Direncanakan, KH Said Aqil Sirodj akan memberikan mauidzah hasanah. Semuanya digelar di lingkungan Pesantren Tebuireng Jombang.

Baca Juga: Profil Sahabat Gus Miftah, Siapa Sosok Gus Ipang Wahid? Mulai Jejak Pendidikan, Karier hingga Silsilah Hubungan Keluarga dengan Gus Dur

Hobi Membaca

Salah satu teman alumni Universtas Al-Azhar Kairo Mesir menceritakan banyak hal tentang Gus Dur. Terutama saat dulu masih menimba ilmu di kampus ternama itu.

Banyak buku dan kitab di perpustakaan Universitas Al-Azhar diberi tanda tangan Gus Dur. Komplit diberi nama Abdurrahman Ad-Dakhil bertuliskan Arab. Biasanya di halaman paling belakang. Itu menunjukkan bahwa buku dan kitab tersebut sudah selesai dibaca Gus Dur.

KH Muhammad Zubaidi Muslich (almarhum) menegaskan hal itu. Dia adalah teman Gus Dur saat sama-sama mengajar di Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah Seblak Diwek Jombang. Di samping keduanya juga mengajar di Aliyah Tebuireng. Itu dilakukan Gus Dur dengan menaiki sepeda motor Vespa jadulnya. Peristiwa itu terjadi sebelum hijrah ke Jakarta.

Baca Juga: Keponakan Gus Dur Angkat Bicara! Sohib Gus Miftah, Gus Ipang Wahid Beri Pesan Menyentuh Buntut Olok-Olok Pedagang Es Teh: Ada 2 Hikmah...

Gus Dur, menurut Kiai Zubaidi, saat menimba ilmu di Pesantren Denanyar sudah menunjukkan gemar membaca. Suatu sore, Gus Dur justru bermain tenis meja dengan temannya. Tapi kitab Gus Dur sudah diletakkan di meja (Jawa: dampar) urutan paling depan. Persis di muka meja mengajinya sang ustadz.

Ketika hal ini ditanyakan kepada Gus Dur, dengan enteng dirinya menjawab. Bahwa kitab yang akan dibaca sang ustadz sudah diselesaikan membacanya tadi malam. Sehingga dirinya lebih baik berolah raga dengan tenis meja.

KH Muhammad Yusuf Chudori (2009) juga bercerita yang sama. Saat menimba ilmu selama tahun 1957-1959 di Pesantren Salaf API Tegalrejo Magelang, Gus Dur sangat intens membaca buku dan menonton bioskop. Bahkan kedua hobinya ini menyebabkan Gus Dur tinggal kelas.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X