Minggu, 19 Juli 2026

KH M Yusuf Hasyim: Kyai Multiperan dari Tebuireng

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Minggu, 2 Februari 2025 | 18:25 WIB
Mukani, Dosen Sejarah Islam STAI Darussalam Krempyang Nganjuk
Mukani, Dosen Sejarah Islam STAI Darussalam Krempyang Nganjuk

Mukani*


SketsaNusantara.id - Nama KH Muhammad Yusuf Hasyim sudah tidak asing lagi di dunia perpolitikan Indonesia.

Kiprah panjang sebagai bagian militer sebelum proklamasi sampai menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng menjadi saksi.

Terutama konsistensi menjaga ideologi NKRI dari rongrongan kaum komunis. Bahkan itu dilakukan hingga wafatnya 14 Januari 2007.

Baca Juga: Shalat dan Kesalehan Sosial

Kiai yang akrab disapa Pak Ud ini adalah putra bungsu pendiri NU KH M Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqoh.

Dia lahir tanggal 3 Agustus 1929. Selama berkarir, pernah menjadi anggota DPR-GR, DPR-RI bahkan anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Pada tahun 1998, sempat mendirikan Partai Kebangkitan Ulama (PKU). Setelah sekian lama berjuang melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Baca Juga: Peran dan Eksistensi Dipertanyakan, Ormawa Makin Tak Diminati Mahasiswa

Multiperan

Sapaan Pak Ud menegaskan dirinya sebagai sosok apa adanya. Sebagai anak kiai besar, biasanya dipanggil dengan gus atau kiai. Tapi, menurut Syaifullah (2020), itu tidak berlaku bagi dirinya. Meski perannya bagi Indonesia sangat luar biasa.

Tradisi menimba ilmu dimulai saat dirinya masih kecil dan langsung kepada ayah kandung. Saat berusia 12 tahun, dirinya hijrah belajar ke Pesantren al-Qur’an Sedayu Gresik. Lalu dilanjutkan ke Pesantren Krapyak Yogyakarta dan Pesantren Modern Gontor Ponorogo.

Saat baru berusia 16 tahun, Pak Ud bergabung dengan Laskar Hizbullah, organisasi semi-militer yang dibentuk pada tahun 1944 oleh Jepang.

Baca Juga: STOP Normalisasi Tren 'Laki-Laki Tidak Bercerita', Toxic Masculinity Bisa Mengancam Jiwa!

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X