Minggu, 19 Juli 2026

STOP Normalisasi Tren 'Laki-Laki Tidak Bercerita', Toxic Masculinity Bisa Mengancam Jiwa!

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Selasa, 24 Desember 2024 | 21:15 WIB
Kartika Ainun Fitri, Founder Bloomind Jember, komunitas yang bergerak di bidang literasi yang pro gender equality (Dok. SketsaNusantara.id)
Kartika Ainun Fitri, Founder Bloomind Jember, komunitas yang bergerak di bidang literasi yang pro gender equality (Dok. SketsaNusantara.id)

Kartika Ainun Fitri*

SketsaNusantara.id - Berkaca dari peristiwa bundir yang menimpa DRY mahasiswa sosiologi Fisip UNEJ pada senin 23 Desember 2024.

Diketahui korban DRY menjatuhkan diri dari lantai 8 gedung Center for Research in Social Sciences and Humanities (C-RiSSH) pada pukul 17.30 WIB yang mana peristiwa tersebut terekam oleh kamera pengawas.

Ada beberapa dugaan penyebab DRY nekat mengakhiri hidupnya, salah satunya adalah dugaan bullying yang ia alami.

Baca Juga: Ramai Mahasiswa Unej Bundir Dikenal Introvert, Ini 5 Tips Bisa Bersosialisasi dengan Baik dan Mudah Bergaul

Peristiwa ini semakin menambah panjang daftar bundir yang dilakukan oleh laki-laki di Indonesia.

Berdasarkan data yang dirilis oleh aplikasi DORS SOPS Polri per agustus 2024 saja terdapat 928 kasus bundir di Indonesia dengan jumlah pelaku berjenis kelamin laki-laki sebanyak 714 kasus atau sekitar 79,64% dari total kasus.

Hal ini menjadikan laki-laki sebagai kelompok yang rentan melakukan bundir dengan berbagai faktor yang melatarbelakangi.

Baca Juga: 4 Fakta Terbaru Kasus Mahasiswa Unej Diduga Bundir dari Lantai 8: Hasil Forensik hingga Ditemukan Barang Pribadi Ini

Mari kita refleksikan berbagai peristiwa bundir yang dilakukan oleh laki-laki beberapa waktu lalu. Mengapa kemudian laki-laki menjadi sangat rentan melakukan bundir?

Hal ini tidak terlepas dari budaya patriarki yang mengajarkan mereka sejak dini untuk menjadi kuat, tidak menangis, dan tidak menunjukkan kelemahan dengan menceritakan masalahnya. Konstruksi sosial seperti ini yang dikenal sebagai “toxic masculinity."

Apalagi di era digital, tren sosial media seperti "Laki-Laki Tidak Bercerita" semakin menyoroti persoalan ini. Tagar-tagar dan diskusi daring mengungkap kenyataan bahwa banyak laki-laki merasa enggan untuk membuka diri tentang masalah emosional mereka.

Baca Juga: Hasil Autopsi Jenazah Mahasiswa FISIP Unej yang Lompat dari Lantai 8, Warek Kampus: Kondisinya Patah Tulang di Beberapa Bagian

Fenomena ini mencerminkan pola yang terus berulang yaitu pria sering kali terjebak dalam tekanan psikologis yang tidak tersalurkan.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X