Minggu, 19 Juli 2026

Shalat dan Kesalehan Sosial

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Minggu, 26 Januari 2025 | 18:30 WIB
Mukani, Guru SMAN 1 Jombang dan Dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk (Dok. SketsaNusantara.id )
Mukani, Guru SMAN 1 Jombang dan Dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk (Dok. SketsaNusantara.id )

Mukani*

SketsaNusantara.id - Isra’ dan Mi’raj diperingati umat Islam sebagai awal dimulainya kewajiban melaksanakan ibadah shalat. Perintah itu, menurut Ahmad Nur Santo (2020), disampaikan langsung kepada Nabi Muhammad SAW tanpa memakai perantara. Ini menunjukkan derajat kewajiban shalat yang sangat tinggi.

Peristiwa Isra’ Mi’raj juga menunjukkan monumental yang menjadi salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW. Tidak heran jika kemudian peristiwa ini diabadikan di dalam al-Qur’an, tepatnya di Surat Al-Isra’.

Kejadian irrasional ini akan bisa dipercayai jika iman di dada yang berbicara., bukan justru pemikiran yang mengedepankan logika. Tidak heran jika di awal Surat Al-Isra’ dimulai dengan kata subhana, yang berarti Maha Suci Allah.

Baca Juga: STOP Normalisasi Tren 'Laki-Laki Tidak Bercerita', Toxic Masculinity Bisa Mengancam Jiwa!

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kekuatan di luar diri manusia yang akan menggerakkan peristiwa Isra’ Mi’raj. Termasuk di dalamnya adalah kemampuan untuk beriman kepada kebenaran peristiwa Isra’ Mi’raj. Diperlukan adanya campur tangan Allah SWT untuk mempercayai peristiwa tersebut.

Tidak heran saat peristiwa Isra’ Mi’raj ini diceritakan kepada orang lain, mayoritas penduduk Mekkah saat itu tidak mempercayai Nabi Muhammad SAW. Bahkan banyak yang menuduh sebagai sesuatu yang mengada-ada.

Dua Aspek

Secara bahasa, istilah shalat berasal dari bahasa Arab yang mengandung makna doa. Ketika seorang muslim mengerjakan ibadah shalat, menurut Asep Nurhalim (2010), berarti dia sedang berdoa. Ini karena apa yang ada di dalam bacaan shalat merupakan rangkaian doa.

Baca Juga: Mengenang 15 Tahun Wafatnya KH Abdurrahman Wahid: Gus Dur dan Tradisi Literasi

Shalat, secara syariat, didefinisikan sebagai aktivitas ibadah seorang hamba yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dan memenuhi beberapa syarat yang ditentukan.

Menurut Hasbi al-Shidiqy (2009), shalat mengandung pengertian menghadapkan hati dan jiwa kepada Allah SWT serta menumbuhkan di dalam jiwa rasa keagungan, kebesaran, dan kesempurnaan-Nya.

Ayat-ayat dalam al-Qur’an banyak menyebutkan perintah shalat dengan kata mendirikan (aqimu). Ini berarti dalam shalat, menurut Abdul Manan (2009), membutuhkan dua aspek.

Baca Juga: Kubangan Bekas Galian Memakan Korban, Dapatkah Penambang Dijerat Pidana?

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X