Pertama adalah menyempurnakan rupa (bentuk) shalat yang lahir agar memenuhi semua syarat, rukun dan sunnah-sunnahnya. Kedua adalah mewujudkan jiwa dan hakikat shalat, yaitu menghadapkan hati kepada Allah SWT dengan khusyu, ikhlas dan merasa butuh kepada-Nya.
Shalat tidak sekedar dikerjakan (fi’lu). Hal ini menunjukkan adanya harapan terdapat pengaruh yang signifikan dari pelaku shalat terhadap kesehariannya. Artinya, diharapkan shalat menjadikan pelakunya menjadi lebih baik. Terutama menghindarkan diri dari berbagai perilaku yang keji (fakhsya’) dan munkar.
Menurut Abdul Munir Mulkhan (2005), keberagamaan seseorang tidak hanya diukur dari tingkat ‘ibadah yang dilaksanakan.
Konsistensi untuk mengamalkan nilai-nilai ibadah ke dalam kehidupan nyata, menjadi indikator lebih penting di tengah gencarnya arus globalisasi yang melindas identitas anak bangsa. Kesalehan sosial jauh lebih tepat dan valid menjadi "barometer" untuk menilai keberagamaan seseorang.
Dalam konteks shalat, Mukhotim el-Moekry (2020), menegaskan bahwa sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mewajibkan anaknya melaksanakan shalat.
Hal ini dikarenakan menegakkan shalat, di samping perintah Allah SWT, juga dapat mencegah diriya dari perbuatan jahat dan keji. Shalat juga sebagai pelatihan disiplin dalam kehidupan seorang anak.
Baca Juga: Remaja, Media Sosial, dan Identitas Nasional
Shalat bisa menjadi “barometer” kesalehan sosial seseorang berkaca dari berbagai tindakan yang dilakukan setelah melaksanakan shalat. Hal itu berimplikasi kepada interaksi sosial yang dibangun bersama lingkungan sekitar.
Setidaknya, menurut M. Yunan Nasution (2009), terdapat tiga hal untuk mengukur kesalehan sosial seseorang yang diukur dari shalatnya.
Pertama adalah secara kejiwaan (psikologi). Pelaku shalat akan terus melakukan latihan memusatkan perhatian pada satu titik pusat perhatian, penuh konsentrasi berdialog dengan Allah SWT.
Dia tidak dibenarkan melupakan-Nya dan mengalihkan perhatian kepada selain-Nya. Orang yang mendirikan shalat, dituntut mampu berkomunikasi dan berdialog dengan-Nya, secara terbuka mengemukakan segala dosa dan menyampaikan doa untuk pengampunan.
Baca Juga: Gus Dur, Pencabutan TAP MPR, dan Gelar Pahlawan Nasional
Di luar shalat, konsentrasi itu amat dibutuhkan oleh manusia dalam melakukan dan mengerjakan apa pun. Tanpa konsentrasi secara penuh, segala pekerjaan manusia tidak akan dapat diselesaikan dengan baik.
Artikel Terkait
Saling Segan! Puan Maharani Ungkap Prabowo Kerap Kirimkan Vitamin Kesehatan ke Megawati: Ini Kedekatan Beliau Sejak Lama
Siapa Paulus Tannos? Profil Lengkap Sosok Buronan Kasus Korupsi e-KTP yang Ditangkap di Singapura
Gara-Gara Tertawakan Sunhaji, Gus Miftah Ledek KH Usman Ali yang Kehilangan 40 Job Ceramah, Netizen: Agama Jadi Dagangan
Terbongkar Pelaku di Balik Pembuangan Bayi Perempuan di Tanggul Jember, Diduga Masih Berstatus di Bawah Umur
Mengejutkan! Tetangga Terduga Pelaku Pembuangan Bayi Perempuan di Tanggul Jember Beberkan Fakta Baru
Merokat Kenangan, Sebuah Upaya untuk Mengingat dan Belajar Tentang Tradisi Rokat di Kawasan Jember
Sempat Menangis Minta Tidak Ditahan, Penampakan Agus Buntung Tampak Ceria di Lapas Bikin Heboh, Netizen: Drama Amat