Minggu, 19 Juli 2026

Shalat dan Kesalehan Sosial

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Minggu, 26 Januari 2025 | 18:30 WIB
Mukani, Guru SMAN 1 Jombang dan Dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk (Dok. SketsaNusantara.id )
Mukani, Guru SMAN 1 Jombang dan Dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk (Dok. SketsaNusantara.id )

Melatih diri untuk khusyu dalam shalat berarti telah membekali dirinya dengan konsentrasi yang dibutuhkan dalam merespon tantangan hidupnya masa kini, terlebih di masa depan.

Kedua adalah secara jasmani (fisiologi). Berbagai gerakan badan ketika shalat adalah bentuk latihan gerak badan menuju sehat; kondisi suci badan, suci pakaian dan tempat.

Kebersihan dan kesehatan dibutuhkan oleh setiap manusia, supaya hidupnya menjadi berharga dan menjadi sumber utama bagi manusia untuk dapat merasakan segala kenikmatan.

Baca Juga: Raja Jawa di Balik Pohon Beringin: Horor De Javu dari Orde Baru

Ketiga adalah secara kemasyarakatan (sosiologi). Pendisiplinan shalat berjamaah merupakan latihan hidup bersama dalam sosial dengan gerak langkah yang seirama dalam komando imam yang tetap memperhatikan aspirasi anggota jamaah jika imam terjadi kekeliruan.

Saat shalat berjamaah, segala bentuk diskriminasi karena kekayaan, kedudukan, jabatan, kepangkatan harus ditinggalkan.

Pembiasaan dan pendisiplinan shalat dalam keluarga dapat menjadi media pembelajaran ranah belajar cara untuk tahu (learn how to know), belajar cara untuk hidup (learn how to be) dan belajar cara melakukan (learn how to do).

Baca Juga: Mengenang Jejak Resolusi Jihad, Kisah Heroik Perjuangan Kemerdekaan Indonesia yang Lahir dari Kegelisahan KH Hasyim Asy'ari

Termasuk juga di dalamnya adalah belajar untuk hidup bersama orang lain (learn to live together). Ini berarti shalat juga dapat menjadi media pengembangan aspek-aspek yang terkait dengan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual seseorang menuju keselamatan dan kesejahteraan diri sendiri bersama masyarakat.

Pada konteks ini, kesalehan sosial orang yang secara konsisten (istiqamah) melaksanakan shalat bisa mewujud.

Dia shalat tidak sekedar melaksanakan kewajiban dari Allah Swt, Namun juga menunjukkan perilaku-perilaku positif bagi lingkungan sekitarnya.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!

*Penulis adalah Guru SMAN 1 Jombang dan Dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X