Minggu, 19 Juli 2026

Raja Jawa di Balik Pohon Beringin: Horor De Javu dari Orde Baru

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 25 Agustus 2024 | 14:30 WIB
Sosok Raja Jawa dan pohon beringin. (Ilustrasi Canva/Boy N.)
Sosok Raja Jawa dan pohon beringin. (Ilustrasi Canva/Boy N.)

Jawanisme dan kolonialisme Jawa sudah bertindak jauh lebih brutal terhadap penduduk yang tinggal di Negara kepulauan yang luas ini daripada yang dulu dilakukan oleh penguasa penjajah asing. (Pramoedya Ananta Toer)

SketsaNusantara.id - Empat hari sebelum Soeharto tumbang dari kursi presiden pada 21 Mei 1998, sebuah artikel di New York Times terbit dengan judul Suharto, a King of Java Past, Confronts Indonesia's Future (Suharto, Raja Jawa Masa Silam, Menghadapi Masa Depan Indonesia).

Artikel yang ditulis Nicholas D. Kristof itu dibuka dengan kalimat tentang seorang duda tua licik (a wily old widower) yang mengira dirinya adalah seorang raja.

Pria tua yang menatap nanar dari balik teralis jendela rumahnya itu sedang bergulat dengan beragam pilihan pikiran berkecamuk, tentang hari-hari sulit yang semakin menantang dirinya.

Baca Juga: Raja Jawa Ya Sultan Jogja, Memang Ada yang Lain? Pidato Bahlil Lahadalia, Sri Sultan HB X Langsung Angkat Suara

Ratusan orang dikabarkan meninggal akibat rangkaian gejolak kerusuhan, eskalasi politik dan kekerasan yang kian meningkat, membayangi keruntuhan rezim kediktatoran yang telah dibangun selama 32 tahun.

Soeharto, pria tua di balik jendela itu, rupanya masih bertekad mempertahankan jabatan sebagai presiden. Sebagian politisi dan cendekiawan menyebutnya sebagai sosok yang melihat dirinya berperan seperti raja-raja Jawa di masa silam.

Raja-raja di masa lampau konon mendapatkan legitimasi kekuasaan karena dianggap memperoleh wahyu dari Tuhan; "Wahyu Keprabon".

Baca Juga: Beredar Foto Mirip Ketum Golkar Bahlil Lahadalia Diduga Minum Whisky Harga Puluhan Juta, Asli atau Editan?

Soeharto, presiden Republik Indonesia yang ke-2, dianggap sebagai Raja Jawa. Tak hanya dirinya, tetapi juga lingkar sekelilingnya.

Kyai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bahkan pernah dengan tegas menyebut Soeharto sebagai Raja Jawa dalam sebuah wawancara dengan Andy F. Noya di sebuah stasiun televisi.

Sewaktu di Italia, Gus Dur menyatakan bahwa Panglima ABRI di masa itu, Faisal Tanjung, pernah diminta Soeharto untuk menghabisi sang kyai.

Baca Juga: Atas Dasar Protokol Keamanan, Wartawan Dilarang Meliput Acara Munas Golkar yang Dihadiri Jokowi, Belum Apa-Apa Udah Dibungkam?

Gus Dur menganggap hal itu sebagai persoalan politik, bukan pribadi. Pasalnya, Soeharto menganggap dirinya sebagai Raja Jawa.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X