Minggu, 19 Juli 2026

Raja Jawa di Balik Pohon Beringin: Horor De Javu dari Orde Baru

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 25 Agustus 2024 | 14:30 WIB
Sosok Raja Jawa dan pohon beringin. (Ilustrasi Canva/Boy N.)
Sosok Raja Jawa dan pohon beringin. (Ilustrasi Canva/Boy N.)

Lagi-lagi, mungkin akan sulit dipahami oleh generasi zaman ini, bagaimana bisa sebuah organisasi mengikuti pemilihan umum 5 tahunan.

Ya, "pemilihan umum" di rezim Soeharto adalah sebuah oksimoron; tampak tidak masuk akal tetapi tetap masuk akal di saat yang bersamaan.

Semasa hidupnya, Soeharto memang tidak pernah menjabat di kursi ketua umum organisasi berlambang pohon beringin itu.

Baca Juga: 4 Jenis Kebaya di Indonesia, Ada Favorit Ibu Tien Soeharto hingga Hasil Akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa

Ia "hanya" menjadi Ketua Dewan Pembina sejak kemenangan perdana organisasi itu di Pemilu 1971.

Dari tahun 1971 hingga 1997, Soeharto menjadi tokoh sentral di balik kebesaran Pohon Beringin, dengan cukup duduk di jabatan sebagai Pembina.

Ya, mau bagaimana lagi. Seorang presiden yang sekaligus menjadi pembina di sebuah peserta pemilu.

Baca Juga: Konon Jadi Tempat Semedi Presiden Soeharto? Nyempil di Dalam Wisata Alam Terindah, Cilacap Punya Kuil Tersembunyi yang Sayang Dilewatkan

Seorang Raja Jawa, yang jika ada yang berani main-main dalam organisasi itu, bakal celaka mereka. Ngeri-ngeri sedap 'kan barang ini?

Apa yang telah diucapkan sang ketua baru itu mungkin saja menjadi semacam de javu bagi para senior atau mereka yang menyaksikan sendiri kedigdayaan sang raja di rezim penuh horor tetapi sekaligus sentimental bagi sebagian generasi 80-90an.

Tak heran jika ada yang menyebut Indonesia ini bentuknya adalah negara Republik, tetapi kelakuannya Kerajaan.

Baca Juga: Indonesia Negara Republik tapi Kelakuan Kerajaan, Jimly Asshiddiqie: Ada yang Ngotot

Frasa "Raja Jawa" dalam konteks Politik Indonesia yang tengah berproses dalam Demokrasi sudah pasti menimbulkan masalah.

Susah payah belajar dan menata konstitusi sejak Reformasi 1998, malah tiba-tiba dikejutkan dengan ucapan yang kental dengan unsur feodalisme yang subur di rezim Orde Baru.

Kemunculan sosok "hantu Raja Jawa" belakangan ini mengingatkan pada amarah Pramoedya Ananta Toer, satu-satunya sastrawan terbaik di Indonesia, yang rajin mengkritik Jawanisme dan kolonialisme Jawa.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X