Minggu, 19 Juli 2026

Indonesia Negara Republik tapi Kelakuan Kerajaan, Jimly Asshiddiqie: Ada yang Ngotot

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Selasa, 20 Agustus 2024 | 21:53 WIB
Jimly Asshiddiqie sebut Indonesia kelakuannya adalah Kerajaan. (Tangkap layar Youtube Komisi Yudisial)
Jimly Asshiddiqie sebut Indonesia kelakuannya adalah Kerajaan. (Tangkap layar Youtube Komisi Yudisial)

SketsaNusantara.id - Jimly Ashhiddiqie baru-baru ini melontarkan pernyataan bahwa budaya politik di Indonesia adalah Monarki alias Kerajaan.

Meskipun bentuk formalnya adalah Republik, tetapi kelakuan Indonesia adalah Kerajaan.

Ia menyampaikan itu saat memberikan kata sambutan dalam acara Dialog Nasional Refleksi Kelembagaan Komisi Yudisial, Selasa 20 Agustus 2024.

Baca Juga: Plot Twist Pilkada 2024: Nasib Anies Baswedan dan PDIP di Pilkada Jakarta hingga Pupusnya Harapan Kaesang Pangarep

Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-19 Komisi Yudisial (KY).

Disiarkan secara live streaming oleh kanal Youtube KY, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) menyoroti latar belakang sejarah penentuan bentuk negara Indonesia.

Saat hendak merumuskan bentuk negara, para tokoh nasional terpaksa melakukan voting karena ada sejumlah orang yang ngotot tidak sepakat dengan bentuk Republik.

Baca Juga: Resmi! PSI Dukung Ahmad Luthfi Maju di Pilgub Jateng 2024, Nama Kaesang Diteriakkan Jadi Wakil Gubernur

"Ketika kita mau merumuskan apakah bentuk negara ini republik atau bukan, itu terpaksa voting. Kenapa mesti di-voting? Kenapa? Ya karena ada 9 orang yang ngotot tidak mau, karena ngotot, ya sudah voting saja," ujar Jimly, dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan kanal Youtube Komisi Yudisial, 20 Agustus 2024.

Akhirnya, suara terbanyak memilik Republik sebagai bentuk negara Indonesia.

Jimly juga menyebut, seandainya dilakukan referendum mengenai bentuk negara, kemungkinan yang menang adalah bentuk Kerajaan.

Baca Juga: Isu Gibran Ketum Partai Golkar, Adu 'Keberuntungan' dengan Kaesang yang Baru 2 Hari Gabung Langsung Jadi Ketua PSI

Pasalnya, rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke tidak paham apa itu Republik.

"Karena orang-orang kampung kita dari Sabang sampai Merauke nggak tahu apa itu Republik. Bahasa apa itu. Ya, 'kan? Tapi kalau dibikin Kesultanan, ah tahu semua," lanjut Jimly.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Youtube Komisi Yudisial

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X