SketsaNusantara.id - Di era krisis lingkungan, pengamatan berbasis lapangan dan berlandaskan sejarah lebih diperlukan dari sebelumnya. Boleh jadi, itulah yang terbersit di dalam imajinasi teman-teman kolektif Sudut Kalisat. Mereka menghadirkan pameran Kalisat Tempo Dulu 9 yang bertajuk ‘Dara Memeta Kota,’ hasil dari pengamatan sejak setahun yang lalu.
Menurut penuturan sang kurator pameran, Ahmad Hafid Hidayaturrahman, merpati sebenarnya bukan materi baru di acara yang digelar setahun sekali di kampung Lorstkal ini.
Pada Kalisat Tempo Dulu 4 di tahun 2019, pernah juga menyelipkan arsitektur rumah merpati beserta produk-produk budaya lainnya seperti sawangan merpati, anting-anting, dan kentongannya. Namun waktu itu tidak murni bicara tentang merpati. Segala arsitektur masuk juga di dalamnya.
Mengapa tertarik dengan merpati lokal getakan?
Meskipun sama-sama dari keluarga Columbidae alias keluarga burung berparuh merpati, dan dari genus Columba livia, merpati getakan tidak bisa Anda jumpai di wilayah lain seperti di Eropa, Afrika, Amerika, hingga Australia.
Di Asia, ia hanya bisa dijumpai di Jawa, khususnya ujung timur Jawa. Paling banyak dijumpai di posisi geografis antara perbatasan Pasuruan – Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso hingga Situbondo.
Merpati getakan berbeda dengan merpati pos yang kini lazim disebut merpati pos racing, berbeda pula dengan merpati balap jarak pendek yang bila di Jember dikenal sebagai doro andukan. Perbedaan itu dapat dilihat dari ciri-ciri fisik. Merpati getakan rata-rata memiliki jambul di kepalanya, kedua kakinya berbulu.
Meskipun ada pula beberapa jenis merpati getakan yang tidak memiliki keduanya. Paruh merpati getakan lebih pendek dari merpati pos dan merpati balap andukan.
Merpati getakan tidak bisa dijadikan merpati balap jarak pendek seperti merpati andukan, namun ia punya cara kerja seperti merpati pos. Sama-sama punya homing instinct. Bedanya, merpati getakan tidak bisa dilepas sangat jauh seperti merpati pos, hanya bisa dilepas antar kecamatan atau antar kabupaten yang dekat, dan tidak bisa dilepas sendirian. Dia harus dilepas secara koloni. Bila dilepaskan sendirian, dia berpotensi mendarat di rumah koloni merpati lain.
Bila di Surabaya dan sekitarnya rumah merpati umum disebut pagupon, di wilayah Tapal Kuda rumah merpati getakan biasa disebut pejodon dan atau pajudun. Ia dipasang di tempat yang tinggi, menggunakan tiang pohon hidup dan tiang-tiang pancang dari bambu. Tiang pohon hidup yang digunakan biasanya adalah pohon kapuk. Tiang pancang dari bambu disebut cangkek. Ketika si empunya merpati getakan memiliki keuangan yang cukup, pajudun yang menjulang tinggi di udara tersebut dilengkapi dengan ukiran dan pola hias di dheng-andheng di kiri-kanannya. Jika dilihat dari bawah, ia serupa gapura.
Di Jember ada dua motif untuk pola hias dheng-andheng, yaitu motif naga dan motif wayangan. Orang-orang Kalisat lebih suka menggunakan motif naga, sedangkan motif wayangan mudah dijumpai di Jember bagian barat hingga selatan. Paling banyak adalah motif Ontoseno.
Artikel Terkait
Wali Songo Bahkan Angkat Tangan Tak Mampu Islamkan Ponorogo, Tapi Tokoh Ini Mampu Taklukkan Lewat Jalur Seni
Janger Banyuwangi, Akulturasi Seni dan Budaya Jawa, Osing hingga Bali serta Keterkaitan Minak Jinggo dan Damarwulan
7 Hal yang Membuat Wayang Kulit Jadi Puncak Budaya Jawa Adiluhung, Bukan Sekadar Seni Pertunjukan
Usung Konsep Melawan dengan Gembira dan Berjuang Lewat Seni Kolektif, Ini Tuntutan Aliansi Kamar Kanan Jember Sikapi Kemunduran Demokrasi di Indonesia
Jangan Takut Berkesenian dalam Islam, Ustadz Salim A Fillah Tegaskan Hadis sebagai Motivasi Berkarya di Bidang Seni
Menyelami Romansa Seni di Festival 'Art Love U' Jakarta 1-12 November 2024