Minggu, 19 Juli 2026

Kalisat Tempo Dulu 9 Dara Memeta Kota, Sebuah Upaya Melihat Perjalanan Peradaban Kota Jember dari Perspektif yang Berbeda

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 9 November 2024 | 11:06 WIB
Pagelaran Kalisat Tempo Dulu 9, Dara Memeta Kota yang diselenggarakan pada 9-10 November 2014 (Instagram/@sudutkalisat)
Pagelaran Kalisat Tempo Dulu 9, Dara Memeta Kota yang diselenggarakan pada 9-10 November 2014 (Instagram/@sudutkalisat)

SketsaNusantara.id - Di era krisis lingkungan, pengamatan berbasis lapangan dan berlandaskan sejarah lebih diperlukan dari sebelumnya. Boleh jadi, itulah yang terbersit di dalam imajinasi teman-teman kolektif Sudut Kalisat. Mereka menghadirkan pameran Kalisat Tempo Dulu 9 yang bertajuk ‘Dara Memeta Kota,’ hasil dari pengamatan sejak setahun yang lalu.

Menurut penuturan sang kurator pameran, Ahmad Hafid Hidayaturrahman, merpati sebenarnya bukan materi baru di acara yang digelar setahun sekali di kampung Lorstkal ini.

Pada Kalisat Tempo Dulu 4 di tahun 2019, pernah juga menyelipkan arsitektur rumah merpati beserta produk-produk budaya lainnya seperti sawangan merpati, anting-anting, dan kentongannya. Namun waktu itu tidak murni bicara tentang merpati. Segala arsitektur masuk juga di dalamnya.

Baca Juga: Menimbang Risiko Keberlanjutan Proyek Geothermal di Gunung Arjuno Welirang yang Mengancam Kelestarian Kawasan Lindung Beragam Biodiversitas, Siapkah?

Mengapa tertarik dengan merpati lokal getakan?

Meskipun sama-sama dari keluarga Columbidae alias keluarga burung berparuh merpati, dan dari genus Columba livia, merpati getakan tidak bisa Anda jumpai di wilayah lain seperti di Eropa, Afrika, Amerika, hingga Australia.

Di Asia, ia hanya bisa dijumpai di Jawa, khususnya ujung timur Jawa. Paling banyak dijumpai di posisi geografis antara perbatasan Pasuruan – Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso hingga Situbondo.

Merpati getakan berbeda dengan merpati pos yang kini lazim disebut merpati pos racing, berbeda pula dengan merpati balap jarak pendek yang bila di Jember dikenal sebagai doro andukan. Perbedaan itu dapat dilihat dari ciri-ciri fisik. Merpati getakan rata-rata memiliki jambul di kepalanya, kedua kakinya berbulu.

Baca Juga: Mengenang Jejak Resolusi Jihad, Kisah Heroik Perjuangan Kemerdekaan Indonesia yang Lahir dari Kegelisahan KH Hasyim Asy'ari

Meskipun ada pula beberapa jenis merpati getakan yang tidak memiliki keduanya. Paruh merpati getakan lebih pendek dari merpati pos dan merpati balap andukan.

Merpati getakan tidak bisa dijadikan merpati balap jarak pendek seperti merpati andukan, namun ia punya cara kerja seperti merpati pos. Sama-sama punya homing instinct. Bedanya, merpati getakan tidak bisa dilepas sangat jauh seperti merpati pos, hanya bisa dilepas antar kecamatan atau antar kabupaten yang dekat, dan tidak bisa dilepas sendirian. Dia harus dilepas secara koloni. Bila dilepaskan sendirian, dia berpotensi mendarat di rumah koloni merpati lain.

Bila di Surabaya dan sekitarnya rumah merpati umum disebut pagupon, di wilayah Tapal Kuda rumah merpati getakan biasa disebut pejodon dan atau pajudun. Ia dipasang di tempat yang tinggi, menggunakan tiang pohon hidup dan tiang-tiang pancang dari bambu. Tiang pohon hidup yang digunakan biasanya adalah pohon kapuk. Tiang pancang dari bambu disebut cangkek. Ketika si empunya merpati getakan memiliki keuangan yang cukup, pajudun yang menjulang tinggi di udara tersebut dilengkapi dengan ukiran dan pola hias di dheng-andheng di kiri-kanannya. Jika dilihat dari bawah, ia serupa gapura.

Baca Juga: Kekeliruan Pemkab Banyuwangi dalam Menyelesaikan Konflik Agraria di Desa Pakel, Potret Ketimpangan Struktural dan Tuntutan Keadilan Warga

Di Jember ada dua motif untuk pola hias dheng-andheng, yaitu motif naga dan motif wayangan. Orang-orang Kalisat lebih suka menggunakan motif naga, sedangkan motif wayangan mudah dijumpai di Jember bagian barat hingga selatan. Paling banyak adalah motif Ontoseno.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X