Adapun pameran ‘Dara Memeta Kota’ yang berlangsung selama dua hari, 9 – 10 November 2024 dijadikan ruang jumpa untuk menampung pemikiran-pemikiran dari berbagai sudut pandang.
Di sana, selain menampilkan display pameran beserta narasi-narasinya, zine, pagelaran seni tradisional seperti karawitan hingga glundengan, juga diselipi oleh diskusi-diskusi dengan mengundang pembicara dari berbagai latar belakang. Ada budayawan, pemikir muda berlatar akademisi dan pemikir pondok pesantren, arsitek, kurator Indonesia, juga rekan seniman kolektif asal Tokyo dan dua lainnya dari Austria.
Turut tampil di pameran ‘Dara Memeta Kota’ adalah seorang doktor antropologi asal Amerika Serikat yang telah sepuluh tahun terakhir menjadi pembelajar dan peneliti di dua universitas di Belgia.
Mengapa banyak orang di ujung timur Jawa menyukai merpati getakan? Sedangkan bila dilihat dari harga merpati, dia jauh lebih terjangkau dibanding merpati pos dan atau merpati balap andukan.
Jawabannya adalah tentang urusan eksistensi. Maka dari itu, di dunia pencinta merpati lokal getakan tumbuh mitologi, mantra-mantra, dan lestari pula metodologi leluhur seperti astrologi lokal, primbon, katuranggan, serta ilmu memperhatikan.
Beberapa merpati getakan lokal Jember juga akan ditampilkan di pameran ini, seperti merpati getakan jenis krey alias doro balung, songkop, dan bangget. Ia tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Jember yang kaya akan keanekaragaman hayati.
Dengan menggunakan berbagai perkakas ilmu pengetahuan seperti kartografi, toponimi, petite histoire, serta menjadikan pedagang merpati dan para pencinta merpati getakan sebagai mahaguru, kiranya pameran Kalisat Tempo Dulu 9 menjadi menarik. Melihat perjalanan peradaban kota Jember dari perspektif yang berbeda.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Wali Songo Bahkan Angkat Tangan Tak Mampu Islamkan Ponorogo, Tapi Tokoh Ini Mampu Taklukkan Lewat Jalur Seni
Janger Banyuwangi, Akulturasi Seni dan Budaya Jawa, Osing hingga Bali serta Keterkaitan Minak Jinggo dan Damarwulan
7 Hal yang Membuat Wayang Kulit Jadi Puncak Budaya Jawa Adiluhung, Bukan Sekadar Seni Pertunjukan
Usung Konsep Melawan dengan Gembira dan Berjuang Lewat Seni Kolektif, Ini Tuntutan Aliansi Kamar Kanan Jember Sikapi Kemunduran Demokrasi di Indonesia
Jangan Takut Berkesenian dalam Islam, Ustadz Salim A Fillah Tegaskan Hadis sebagai Motivasi Berkarya di Bidang Seni
Menyelami Romansa Seni di Festival 'Art Love U' Jakarta 1-12 November 2024