Minggu, 19 Juli 2026

Kalisat Tempo Dulu 9 Dara Memeta Kota, Sebuah Upaya Melihat Perjalanan Peradaban Kota Jember dari Perspektif yang Berbeda

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 9 November 2024 | 11:06 WIB
Pagelaran Kalisat Tempo Dulu 9, Dara Memeta Kota yang diselenggarakan pada 9-10 November 2014 (Instagram/@sudutkalisat)
Pagelaran Kalisat Tempo Dulu 9, Dara Memeta Kota yang diselenggarakan pada 9-10 November 2014 (Instagram/@sudutkalisat)

Adapun pameran ‘Dara Memeta Kota’ yang berlangsung selama dua hari, 9 – 10 November 2024 dijadikan ruang jumpa untuk menampung pemikiran-pemikiran dari berbagai sudut pandang.

Di sana, selain menampilkan display pameran beserta narasi-narasinya, zine, pagelaran seni tradisional seperti karawitan hingga glundengan, juga diselipi oleh diskusi-diskusi dengan mengundang pembicara dari berbagai latar belakang. Ada budayawan, pemikir muda berlatar akademisi dan pemikir pondok pesantren, arsitek, kurator Indonesia, juga rekan seniman kolektif asal Tokyo dan dua lainnya dari Austria.

Turut tampil di pameran ‘Dara Memeta Kota’ adalah seorang doktor antropologi asal Amerika Serikat yang telah sepuluh tahun terakhir menjadi pembelajar dan peneliti di dua universitas di Belgia.

Baca Juga: Seni Rajah Tubuh Tertua di Dunia Ternyata Ada di Indonesia, Sudah Ada Sejak Tahun 1.500 SM! Lokasinya di...

Mengapa banyak orang di ujung timur Jawa menyukai merpati getakan? Sedangkan bila dilihat dari harga merpati, dia jauh lebih terjangkau dibanding merpati pos dan atau merpati balap andukan.

Jawabannya adalah tentang urusan eksistensi. Maka dari itu, di dunia pencinta merpati lokal getakan tumbuh mitologi, mantra-mantra, dan lestari pula metodologi leluhur seperti astrologi lokal, primbon, katuranggan, serta ilmu memperhatikan.

Beberapa merpati getakan lokal Jember juga akan ditampilkan di pameran ini, seperti merpati getakan jenis krey alias doro balung, songkop, dan bangget. Ia tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Jember yang kaya akan keanekaragaman hayati.

Baca Juga: 4 Seni Gamelan Peninggalan Sunan Kalijaga, Sarat Makna Filosofis Sesuai dengan Suaranya, Untuk Penyebaran Agama Islam

Dengan menggunakan berbagai perkakas ilmu pengetahuan seperti kartografi, toponimi, petite histoire, serta menjadikan pedagang merpati dan para pencinta merpati getakan sebagai mahaguru, kiranya pameran Kalisat Tempo Dulu 9 menjadi menarik. Melihat perjalanan peradaban kota Jember dari perspektif yang berbeda.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X