Fardana Difka Dwi Cahya*
SketsaNusantara.id - Organisasi mahasiswa (Ormawa) di berbagai universitas dulunya menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan aspirasi mahasiswa dan masyarakat.
Kampus menjadi ruang pengembangan diri, dan berperan sebagai agen perubahan sosial. Selain tidak meninggalkan tugas utama di bangku kuliah, mahasiswa juga selalu update akan situasi. Baik lokal maupun perkembangan sosial, budaya, pemerintahan skala nasional.
Namun, kini banyak yang mempertanyakan peran dan eksistensinya. Hilangnya rasa kepercayaan, terutama dari mahasiswa dan masyarakat luas, menjadi masalah serius yang menghantui keberlangsungan organisasi mahasiswa di era modern ini.
Organisasi mahasiswa pernah memiliki reputasi tinggi sebagai perwakilan suara kolektif. Namun, sejumlah faktor internal yang hanya berbelit-belit di dalam lingkaran yang tak kunjung usai membuat peran-peran sentral organisasi mahasiswa terkubur dalam egosentrisnya masing-masing. Ditambah permasalahan eksternal, mulai dari persaingan perekrutan kader ataupun anggota organisasi mahasiswa ini juga membuat citranya semakin pudar.
Beberapa alasan utama yang mendasari krisis kepercayaan ini:
Baca Juga: STOP Normalisasi Tren 'Laki-Laki Tidak Bercerita', Toxic Masculinity Bisa Mengancam Jiwa!
1. Kecenderungan Elitisme dalam Organisasi
Banyak organisasi mahasiswa yang kini dianggap terlalu berfokus pada struktur hierarkis yang kaku dan jauh dari semangat kebersamaan. Posisi dalam organisasi sering kali lebih dihargai untuk status sosial daripada dampaknya bagi anggota atau masyarakat. Akibatnya, mahasiswa non-organisasi merasa teralienasi, dan organisasi kehilangan kesan sebagai wadah inklusif yang mewakili semua pihak.
Kecenderungan elitisme dalam organisasi mahasiswa ini juga menjadi salah satu penyebab utama mengapa kepercayaan terhadap organisasi ini semakin memudar. Awalnya, organisasi mahasiswa dirancang sebagai wadah inklusif di mana semua mahasiswa dapat memberikan kontribusi tanpa melihat latar belakang. Namun, seiring berjalannya waktu, semangat egaliter ini terkikis oleh budaya yang mengedepankan hierarki dan eksklusivitas.
Baca Juga: Mengenang 15 Tahun Wafatnya KH Abdurrahman Wahid: Gus Dur dan Tradisi Literasi
Organisasi mahasiswa sering kali memiliki struktur hierarki yang ketat, di mana posisi dianggap sebagai pemimpin yang lebih bergengsi daripada kontribusi nyata terhadap organisasi. Jabatan seperti ketua, sekretaris, dan bendahara sering kali menjadi incaran bukan karena tanggung jawabnya, tetapi demi gengsi sosial yang melekat padanya.
Hal ini menciptakan suasana kompetitif yang tidak sehat, di mana mahasiswa saat ini berlomba-lomba mengejar jabatan demi citra diri, dan bukan lagi tentang visioner organisasinya. Akibatnya, fokus organisasi bergeser dari tujuan bersama menuju kepentingan individu.
Artikel Terkait
Kalisat Tempo Dulu 9 Dara Memeta Kota, Sebuah Upaya Melihat Perjalanan Peradaban Kota Jember dari Perspektif yang Berbeda
Banyak Penghargaan Tapi Korupsi Tetap Jalan
Refleksi Peringatan Hari Guru Nasional 25 November 2024: Guru sebagai Pembiasa Tradisi Literasi
Serentak Pilkada dan Korupsinya