Minggu, 19 Juli 2026

Peran dan Eksistensi Dipertanyakan, Ormawa Makin Tak Diminati Mahasiswa

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Minggu, 19 Januari 2025 | 07:47 WIB
Fardana Difka Dwi Cahya (Dok. SketsaNusantara.id)
Fardana Difka Dwi Cahya (Dok. SketsaNusantara.id)

Fardana Difka Dwi Cahya*

SketsaNusantara.id - Organisasi mahasiswa (Ormawa) di berbagai universitas dulunya menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan aspirasi mahasiswa dan masyarakat.

Kampus menjadi ruang pengembangan diri, dan berperan sebagai agen perubahan sosial. Selain tidak meninggalkan tugas utama di bangku kuliah, mahasiswa juga selalu update akan situasi. Baik lokal maupun perkembangan sosial, budaya, pemerintahan skala nasional.

Namun, kini banyak yang mempertanyakan peran dan eksistensinya. Hilangnya rasa kepercayaan, terutama dari mahasiswa dan masyarakat luas, menjadi masalah serius yang menghantui keberlangsungan organisasi mahasiswa di era modern ini.

Baca Juga: Rendahnya Indeks Pembangunan Gender di Kabupaten Jember: Tantangan dan Solusi untuk Masa Depan yang Lebih Setara

Organisasi mahasiswa pernah memiliki reputasi tinggi sebagai perwakilan suara kolektif. Namun, sejumlah faktor internal yang hanya berbelit-belit di dalam lingkaran yang tak kunjung usai membuat peran-peran sentral organisasi mahasiswa terkubur dalam egosentrisnya masing-masing. Ditambah permasalahan eksternal, mulai dari persaingan perekrutan kader ataupun anggota organisasi mahasiswa ini juga membuat citranya semakin pudar.

Beberapa alasan utama yang mendasari krisis kepercayaan ini:

Baca Juga: STOP Normalisasi Tren 'Laki-Laki Tidak Bercerita', Toxic Masculinity Bisa Mengancam Jiwa!

1. Kecenderungan Elitisme dalam Organisasi

Banyak organisasi mahasiswa yang kini dianggap terlalu berfokus pada struktur hierarkis yang kaku dan jauh dari semangat kebersamaan. Posisi dalam organisasi sering kali lebih dihargai untuk status sosial daripada dampaknya bagi anggota atau masyarakat. Akibatnya, mahasiswa non-organisasi merasa teralienasi, dan organisasi kehilangan kesan sebagai wadah inklusif yang mewakili semua pihak.

Kecenderungan elitisme dalam organisasi mahasiswa ini juga menjadi salah satu penyebab utama mengapa kepercayaan terhadap organisasi ini semakin memudar. Awalnya, organisasi mahasiswa dirancang sebagai wadah inklusif di mana semua mahasiswa dapat memberikan kontribusi tanpa melihat latar belakang. Namun, seiring berjalannya waktu, semangat egaliter ini terkikis oleh budaya yang mengedepankan hierarki dan eksklusivitas.

Baca Juga: Mengenang 15 Tahun Wafatnya KH Abdurrahman Wahid: Gus Dur dan Tradisi Literasi

Organisasi mahasiswa sering kali memiliki struktur hierarki yang ketat, di mana posisi dianggap sebagai pemimpin yang lebih bergengsi daripada kontribusi nyata terhadap organisasi. Jabatan seperti ketua, sekretaris, dan bendahara sering kali menjadi incaran bukan karena tanggung jawabnya, tetapi demi gengsi sosial yang melekat padanya.

Hal ini menciptakan suasana kompetitif yang tidak sehat, di mana mahasiswa saat ini berlomba-lomba mengejar jabatan demi citra diri, dan bukan lagi tentang visioner organisasinya. Akibatnya, fokus organisasi bergeser dari tujuan bersama menuju kepentingan individu.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X