Kamis, 4 Juni 2026

Signifikansi Peran Pemuda dalam Pilkada

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Jumat, 1 November 2024 | 14:46 WIB
Mukani, mengisi rubrik Sketsa dengan menerobong seberapa signifikan peran para pemuda dalam berpartisipasi pada Pilkada 2024 (Dok. Sketsa Nusantara )
Mukani, mengisi rubrik Sketsa dengan menerobong seberapa signifikan peran para pemuda dalam berpartisipasi pada Pilkada 2024 (Dok. Sketsa Nusantara )

Isu-isu kedaerahan sekarang sudah menjelma menjadi “bola liar” yang bisa dimainkan oleh para elit lokal untuk mengamankan kepentingan. Betapa tidak? Di kala skala nasional sibuk untuk menata strategi pembangunan, para elit di daerah malah sibuk ngurusi itu-itu lagi. Jabatan, kekuasaan, kepentingan dan ujung-ujungnya adalah duit.

Sudah berapa puluh, bahkan ratusan, para pejabat daerah yang dipenjara KPK. Semuanya jadi tersangka karena terjerat kasus korupsi. Sebuah virus memalukan yang diperangi mati-matian oleh Gerakan Reformasi 1998. Yang promotornya tentu saja adalah pemuda bernama mahasiswa.

Itu hanya satu contoh di antara ratusan kasus yang menjelma menjadi “musibah” bagi daerah. Terutama setelah kran otonomi daerah dibuka.

Baca Juga: Gus Dur, Pencabutan TAP MPR, dan Gelar Pahlawan Nasional

Pintu sentralistik yang dibongkar berubah menjadi semacam “bagi-bagi kue” bagi para “penguasa lokal” di daerah untuk melanggengkan kekuasaan. Setelah puluhan tahun disikat habis oleh rezim otoriter Orde Baru.

Meski demikian, banyak juga prestasi yang ditorehkan oleh daerah dalam mewujudkan akselerasi pembangunan wilayah. Isu-isu masyarakat bawah dikemas dengan sedemikian rupa untuk dicarikan solusi bersama bagi pemerataan pembangunan. Tidak terpusat di kota lagi. Namun di pelosok desa dan pegunungan. Kata “pemerataan” sudah diwujudkan oleh beberapa daerah.

Berbagai inovasi dan percepatan pembangunan di banyak daerah sudah dilakukan. Terobosan-terobosan sudah diambil para kepala daerah untuk memajukan daerah yang dipimpin. Dan itu sudah diapresiasi oleh banyak pihak. Bahkan oleh luar negeri.

Baca Juga: Adanya Indikasi Ketidaknetralan Penyelenggara, PC PMII Jember Ingatkan KPU Jaga Integritas dan Dorong Bawaslu Perkuat Pengawasan Jelang Pilkada

Momentum Pilkada

Realita masih banyaknya pemuda yang terjebak dalam kasus hukum menjadi fakta memprihatinkan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa proses kemunduran bangsa di masa depan mulai terasa. Generasi masa depan bangsa, sungguhpun tidak semuanya, memaknai kehidupan ini dalam konteks instant, nir-makna.

Realitas semacam ini tentu menimbulkan kegelisahan secara luas. Sulit dibayangkan masa depan bangsa ini, menurut Ngainun Naim (2024), jika rasa memiliki terhadap bangsa tidak tumbuh di kalangan generasi muda. Padahal kelompok muda inilah yang nanti akan menjadi pemimpin.

Wawasan harus diperluas dengan mengakses informasi sebanyak-banyaknya. Kemajuan teknologi, sebagai perangkat keras dari sains, harus dikuasai untuk menjadi jendela membuka cakrawala. Kemampuan intelektual harus terus diasah melalui diskusi, seminar dan forum ilmiah lainnya. Perjuangan untuk melakukan advokasi kepada rakyat harus terus dilakukan secara konsisten.

Baca Juga: PMII dan Pilkada Jember 2024

Religiusitas harus dinomorsatukan. Sikap yang arif dan bijak wajib ditunjukkan. Kesederhanaan penampilan dan revolusioner dalam pemikiran harus dijunjung tinggi. Stagnasi dalam dunia kepemudaan harus segera diakhiri.

Terlebih, sebagai tulang punggung bangsa, kaum muda sudah waktunya tampil di depan untuk menunjukkan pengabdian sebagai agen perubahan. Namun, strategi harus ditata dengan baik agar perjuangan tidak sia-sia.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB
X