Meski pengakuan ini patut disyukuri, tapi bangsa ini juga sebaiknya merenungkan tantangan yang masih mengiringinya. Penuntasan keadilan atas kematian Marsinah belum sepenuhnya diusut tuntas. Pengakuan sebagai pahlawan harus diikuti dengan tindakan nyata agar keadilan tidak sekadar simbolik.
Definisi pahlawan nasional yang selama ini, figur yang mendapat gelar pahlawan nasional cenderung berasal dari kalangan militer, tokoh politik atau pahlawan kemerdekaan. Pengangkatan Marsinah menantang pola itu dan negara serta masyarakat harus siap membuka definisi yang lebih inklusif.
Implementasi warisan perjuangan Marsinah dalam kebijakan melalui pemberian gelar pahlawan nasional akan kehilangan makna jika tidak diiringi dengan kebijakan yang sungguh menghormati hak-hak pekerja. Terutama kaum buruh perempuan dan memperkuat kebebasan berserikat.
Menjaga agar pengakuan bukan stagnan, peringatan terhadap nama Marsinah tidak boleh berhenti pada tugu atau prasasti. Harus ada pendidikan, riset, penguatan organisasi buruh, agar semangatnya hidup dalam praktik sosial dan ekonomi hari ini.
Meresapi Perjuangan
Penulis meyakini bahwa nama Marsinah mengajak bangsa lndonesia untuk tiga hal utama. Pertama adalah keberanian individu yang menular. Marsinah memilih berdiri ketika banyak yang memilih diam.
Dalam struktur kerja yang timpang, ia menunjukkan bahwa keberanian tidak harus datang dari yang sudah kuat. Bahkan bisa dari yang termarjinalkan. Ini mengingatkan bahwa transformasi sosial butuh keberanian, bukan menunggu izin.
Baca Juga: Marsinah Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, PC GP Ansor Nganjuk Dukung Penuh
Kedua adalah penghormatan terhadap perjuangan kolektif, bukan eksklusif. Meski satu individu muncul di permukaan, perjuangan Marsinah adalah perjuangan buruh pekerja perempuan secara lebih luas.
Dirinya menjadi juru bicara atas suara-suara yang sering tak terdengar. Sebagai masyarakat, kita wajib meneruskan penghormatan itu ke ranah kolektif: memperjuangkan hak-hak pekerja, perempuan dan semua yang rentan.
Ketiga adalah pengakuan simbolis sebagai pengakuan oleh negara. Namun bukan akhir dari perjalanan. Ia harus memicu perubahan nyata: kebijakan hak buruh yang lebih adil, pendidikan tentang sejarah buruh, mekanisme perlindungan pekerja yang kuat, dan budaya kerja yang menghormati kemanusiaan.
Artikel Terkait
6 Pernyataan Prabowo pada Peringatan Hari Buruh 2025: Janji Hapus Outsourcing, Bentuk Satgas PHK hingga Dukung Marsinah Jadi Pahlawan Nasional
Marsinah, Calon Pahlawan Nasional dari Kaum Buruh
Berbagai “Rekor” Marsinah Sebagai Pahlawan Nasional