SketsaNusantara.id - Badai magnetik kuat kembali menghantam bumi. NOAA atau Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat mengeluarkan pengumuman mengenai badai geomagnetik yang terjadi pada tanggal 12 November 2025.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menanggapi hal ini dan menjelaskan dampak yang terjadi, terutama di wilayah Indonesia.
Lantas, apa itu badai geomagnetik? Melalui akun Instagram resminya, BMKG menjelaskan bahwa badai magnetik terjadi akibat adanya ledakan Matahari yang mengenai atmosfer bumi.
"Penyebab utama badai magnetik bersumber dari ledakan matahari moderat yang mengakibatkan lontaran massa korona ke bumi," tulis BMKG sebagaimana dikutip dari akun Instagram @geopot_bmkg yang diunggah hari Kamis, 13 November 2025.
"Aliran partikel bermuatan dari lubang korona tersebut mempercepat angin matahari yang mengenai medan magnet Bumi, menyebabkan tekanan pada magnetozfer," tuturnya.
Sebagai informasi, badai geomagnetik merupakan gangguan pada atmosfer bumi yang terjadi ketika adanya pertukaran energi yang sangat efisian dari angin matahari ke lingkungan antariksa di sekitar Bumi.
Saat terjadi ledakan, Matahari memuntahkan partikel-bergaya elektromagnetik dan plasma ke luar angkasa. Sebagian besar terlempar ke segala arah dan beberapa di antaranya mengarah ke Bumi.
Ketika partikel bermuatan (elektron, proton) dari angin Matahari mencapai Bumi, mereka menekan dan menghantam lapisan magnetosfer, wilayah pelindung magnetik di sekitar Bumi. Hal ini bisa menyebabkan medan magnet mengalami fluktuasi atau gangguan.
Fenomena ini rutin terjadi sebagai akibat dari aktivitas pelontaran massa korona (Coronal Mass Ejection atau CME) di matahari.
"Saat angin matahari mengenai medan magnet Bumi, terjadi fluktuasi yang membuat medan magnet mengalami gangguan kuat sehingga menghasilkan badai magnetik level G3 (strong atau kuat) menurut NOAA," ungkap BMKG.
Secara umum, badai magnet cukup kuat dapat mengakibatkan gangguan komunikasi radio HF atau frekuensi tinggi hingga mengakibatkan gangguan sinyal satelit dan sistem navigasi GPS.
Artikel Terkait
Heboh Warga Jember Mendadak Temukan Ratusan Ikan Kecil Terdampar di Pantai Payangan, Benarkah Pertanda Akan Terjadi Tsunami? Begini Penjelasan BMKG
Bukan Megathrust, BMKG Beberkan Hasil Analisis Terkait Gempa 6,3 SR yang Mengguncang Bengkulu, Ternyata Ini Alasannya Tak Ada Gempa Susulan
BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi hingga 4 Meter di Sejumlah Wilayah di Indonesia Akibat Siklon Tropis Wutip
Musim Kemarau Ternyata Banjir? BMKG Ungkap Ancaman Cuaca Ekstrem hingga Akhir Tahun 2025
4 Himbauan BMKG Pasca Gempa Rusia 8,7 M yang Berpotensi Tsunami di Indonesia, Daryono: Belajar dari Tsunami Tohoku
BPBD Jember Salurkan Bantuan Logistik Pasca Cuaca Ekstrem ke Korban Bencana