Tantangan yang paling fundamental yang dilalui oleh KOPRI ialah stigma sosial dan hambatan struktural yang menghalangi partisipasi perempuan dalam berbagai sektor.
Hal tersebut merupakan imbas dari kultur patriarki yang masih dominan dalam masyarakat Indonesia. Pandangan patriarki telah membawa stereotip gender dan norma sosial yang kerap menghambat perempuan untuk mengambil posisi kepemimpinan dan berpartisipasi secara aktif dalam pengambilan keputusan.
Baca Juga: Tiga Srikandi dalam Pertarungan Pilgub Jatim 2024: Bukti Nyata Kepemimpinan Tidak Terbatas Gender
KOPRI berusaha membongkar hambatan tersebut dengan semangat dan dedikasi nyata. Sehingga saat ini KOPRI telah berhasil mencetak berbagai kader perempuan yang memiliki kompetensi serta berpengaruh di berbagai bidang.
Hal tersebut ditunjukkan dengan beberapa prestasi yang diraih oleh KOPRI yang diantaranya ialah peningkatan representasi perempuan di struktur organisasi dan keterlibatan aktif kader perempuan dalam gerakan sosial yang memperjuangkan keadilan gender ataupun berbagai kegiatan di ruang publik lainnya.
Tantangan lainnya yaitu internalisasi kesadaran gender di kalangan anggota PMII, baik laki-laki maupun perempuan dirasa masih kurang maksimal.
Baca Juga: Remaja, Media Sosial, dan Identitas Nasional
Banyak anggota yang belum sepenuhnya memahami pentingnya kesetaraan gender sebagai fondasi keadilan social. Dari hal tersebut, maka ke depan diperlukan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan pemahaman soal gender kepada seluruh anggota dan kader PMII.
Lebih lanjut, tantangan yang dihadapi oleh KOPRI juga menyoal krisis budaya membaca di kalangan kader PMII dan KOPRI yang sangat rendah. Rendahnya minat baca dapat menghambat pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan oleh anggota dan kader untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, serta dapat memperlemah posisi perempuan dalam diskusi publik dan pengambilan keputusan.
Tantangan lain adalah pengembangan kaderisasi yang efektif. KOPRI perlu merumuskan strategi kaderisasi yang tidak hanya fokus pada kuantitas tetapi juga kualitas, agar dapat menghasilkan pemimpin perempuan yang kompeten dan siap menghadapi tantangan zaman hari ini.
Terlepas dari tantangan yang dihadapi oleh KOPRI, sebagai bagian dari PMII, KOPRI harus terus berkembang dan beradaptasi dengan dinamika aman yang ada. Dengan keteguhannya, KOPRI harus tetap berkomitmen memegang nilai-nilai luhur kemanusian sesuai garis keislaman (Aswaja An-Nahdliyah) dan ke-Indonesiaan (UUD 1945 dan Pancasila).
Baca Juga: Menakar Peran PMII dalam Kontestasi Pilkada Jember 2024
Dengan pola organisasi baik secara kepemimpinan ataupun managerial yang inspiratif, memiliki visi kuat, dan langkah yang progressif, ke depan KOPRI akan terus memiliki kemampuan menjawab berbagai tantangan aman dan dapat terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa utamanya bagi kemajuan Perempuan Indonesia.
Pada usianya yang ke 57 tahun ini, sudah sepatutnya KOPRI melakukan refleksi terhadap pengembangan kelembagaan, yang meliputi pengembangan terhadap anggota, kader, jaringan alumni serta institusi secara kompleks. Secara sederhana, ada beberapa poin refleksi yang harusnya bisa menjadi perenungan dan evaluasi kita bersama sebagai anggota ataupun kader PMII yang tergabung dalam KOPRI.
Refleksi pertama, perempuan harus meningkatkan kapasitas dan kualitas dirinya dengan wawasan atau pengetahuan yang progressif (CERDAS).
Artikel Terkait
Kapitalisme Pendidikan di Indonesia dalam Perspektif Paulo Freire, Ivan Illich, dan Erich Fromm
Saatnya Bangkit! Dari Desa ke Kota, Membangun Infrastruktur Transportasi yang Terlupakan
Membaca Fawait-Djos dalam Momen Penetapan Nomor Urut di KPU
Adanya Indikasi Ketidaknetralan Penyelenggara, PC PMII Jember Ingatkan KPU Jaga Integritas dan Dorong Bawaslu Perkuat Pengawasan Jelang Pilkada
PMII dan Pilkada Jember 2024