Binhad memang erotis juga tendensius dalam bersastra. Bagi kita, era baru dalam “erotikata” dan “birahi puisi Indonesia” ala Binhad, tak layak tervonis sebagai keliaran dalam tradisi pesantren. Jika anggur Omar Khayam dan perlawanan terhadap “konstitusi” syariat dapat terlegitimasi sebagai sastra Islami, mengapa karya Binhad tidak. Krusialitas sastra pesantren kontemporer, hanyalah berpayung kepada adab untuk mengadapsi tradisi tanpa harus mengadopsi secara kaffah. Pemaknaan ini menurut saya, lebih otentik bagi sastrawan muda yang getol melawan ortodoksi dan konservatisme.
Sejujurnya, pesantren ortodoks jarang mengibarkan panji sastra, meski tradisi sastra sebuah urgensi bagi ulama masa lalu. Bahkan bagi mereka yang ekstrem, syair kitab Barzanjipun sering dituding kepanjangan Israiliyat dalam kebudayaan Islam. Nanti, akan ada pula yang berpendapat, Kuda Ranjang juga sebuah Israiliyat kultural yang membawa tamaddun barat modern non religius.
Semestinya, sastra tidak perlu menghiraukan skriptualitas. Sastra religius-progresif lebih baik tetap mengedepankan substansialitas daripada ritual “kebajikan kata-kata”.
Bagi saya, demarkasi religius dalam bersastra merupakan murni aplikasi pembebasan terhadap keterbelakangan mental kreatif yang membahana di seantaro dunia muslim saat ini. Keliaran kata-kata dalam bersastra tidak dapat disamakan dengan otentisitas religius yang selalu diidamkan untuk mewarnai kegairahan publik.
Sastra tidak mesti hadir dengan ungkapan-ungkapan kebajikan semata. Progresifitas kesusasteraan kita memang harus berdiri di atas konsep substansi untuk melawan ketidakadilan, rezim tirani penindasan meski harus diungkapkan dengan nada yang menyimpang dari otoritas publik. Walau bagaimana pun, substansi lebih penting dari bahasa permukaan.***
*Alumni FISIP UNEJ. Berdomisili di Sumenep. Menulis di media massa terutama terkait isu keislaman. Juara 3 nasional lomba menulis Menpora-FLP 2007. Di 2009, kolumnis sebulan penuh pada rubrik Ramadan di Radar Madura.
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Gus Dur, Cina dan Islam