Minggu, 19 Juli 2026

Berani Menyerang VOC di Batavia, Ini 7 Falsafah Kepemimpinan yang Menjadi Pedoman Sultan Agung Mataram Sesuai Serat Sastra Gendhing

Photo Author
Gogot Cahyo Baskoro, Sketsa Nusantara
- Kamis, 27 Juni 2024 | 12:36 WIB
Sultan Agung berani menyerang VOC di Batavia karena berpegangan pada 7 prinsip falsafah kepemimpinan yang tercantum dalam Serat Sastra Gendhing. (Tangkap layar Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta)
Sultan Agung berani menyerang VOC di Batavia karena berpegangan pada 7 prinsip falsafah kepemimpinan yang tercantum dalam Serat Sastra Gendhing. (Tangkap layar Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta)

SketsaNusantara.id- Raja Mataram, Sultan Agung Hanyokro Kusumo, menjadi pahlawan nasional karena keberaniannya melawan penjajahan di Bumi Nusantara.

Bahkan, Sultan Agung berani menyerang markas (Vereenigde Oostindische Compagnie) VOC di Batavia pada tahun 1628 dan 1629.

Walaupun dua kali serangannya mengalami kegagalan, hingga kini sejarah mencatat dengan tinta emas atas keberanian Sultan Agung tersebut.

Baca Juga: Kisah Kerajaan Maritim Nusantara yang Kuasai Jalur Perdagangan Asia Tenggara, Benarkah Pusat Perdagangan yang Jatuh Karena Konflik?

Di saat kebanyakan penguasa tanah jawa memilih bekerjasama, Sultan Agung justru mengibarkan bendera perang terhadap VOC yang dinilai mengancam kekuasaan Mataram Islam.

Lepas dari sejumlah alasan politis saat itu,  terdapat 7 falsafah kepemimpinan yang dipedomani Sultan Agung hingga berani menyerang VOC di Batavia.

Hal ini bisa dilihat dari Serat Sastra Gending yang digubah Raden Mas Jatmiko alias Raden Mas Rangsang.

Baca Juga: Pernah Menjadi yang Paling Berpengaruh di Asia! Inilah Sejarah Kejatuhan Kerajaan Majapahit

7 Falsafah kepemimpinan yang menginspirasi kepemimpinan Sultan Agung dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang raja adalah sebagai berikut;

1. Swadana Maharjeng Tursita

Swadana Maharjeng Tursita memiliki arti bahwa seorang pemimpin harus memiliki ilmu dan kapasitas intelektual yang mumpuni.

Selain itu, pemimpin juga harus jujur, menjaga nama baik dan mampu berkomunikasi dengan berbagai kalangan.

Baca Juga: Misteri Usia Sunan Kalijaga Hingga Dimakamkan di Demak, Wali Songo yang Hidup di 4 Masa Kerajaan Nusantara

Komunikasi yang baik dari seorang pemimpin ini tentu saja berlandaskan prinsip-prinsip kemandirian, sehingga tidak mudah terpengaruh orang lain.

Halaman:

Editor: Gogot Cahyo Baskoro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X