Dulu, Abu Nuwas (757-815) dan Omar Khayam (wafat 1132) lahir dengan syair-syair “mabuk anggur” yang glamour. Sebaliknya, Ferdowsi (934-1020) menggairahkan diri dengan ekstase syair berhaluan heroisme yang terbelit mitologi Iran. Di sisi lain, Jalaludin Rumi berasyik masuk dengan romantika percintaan ala sufisme yang demikian ejakulatif.
Baca Juga: Kopling Gelar Lomba Baca Puisi, Tumbuhkan Generasi Berani, Empatik dan Kreatif Melalui Karya Sastra
W. Montgomery Watt menyebutkan dalam bukunya The Majesty That Was Islam. Bahwa, awal-awal sejarah kecemerlangan Islam menunjukkan fakta lahirnya puisi yang disebut ghazal. Ghazal biasa diartikan sebagai puisi cinta patah hati akibat cinta tak terbalas. Pelopornya adalah penyair Jamil dari Madinah (wafat 701). Selain tersebut juga ghazal gaya Mekkah yang dipelopori penyair Umar Bin Abi Rabiah yang hidup sezaman dengan Jamil dari Madinah.
Bukan hal teringkari dalam sejarah, kalau puisi yang berjenis lirik cinta ini disenangi khalifah Al Walid II dari Damaskus justru karena aroma mabuk anggurnya. Meski berasal dari tradisi gurun, ghazal justru bersekutu dengan nyanyian anggur dari Syiria.
Selain itu, Muhyidin Ibnu Arabi yang tenar sebagai wali Kutub dan Syaikhul Akbar dalam tradisi Sunni pun begitu gamblangnya dalam “melecehkan Tuhan”. Dalam kitab kontroversialnya Fushush Al Hikam, Ibnu Arabi berdendang seenaknya
“Maka Ia (Tuhan) pun memujiku, dan aku memuji-Nya,
dan Ia menyembahku, dan aku pun menyembah-Nya.
Dalam keadaan lahir aku menyetujui-Nya dan
dalam keadaan hakiki aku menentang-Nya.
Maka Ia pun mengenaliku namun aku tak mengenali-Nya
lalu aku pun mengenali-Nya, maka aku pun menyaksikan-Nya
Maka mana mungkin Ia tiada perlu,
Padahal aku menolong-Nya dan membahagiakan-Nya?
Untuk inilah Kebenaran mewujudkan aku,
sebab aku mengisi ilmu-Nya dan mewujudkan-Nya
Artikel Terkait
Gus Dur, Cina dan Islam