Oleh: Moh. Ja'far Sodiq Maksum*
SketsaNusantara.id - Piala Dunia 2026 akhirnya usai. Stadion New York–New Jersey, menjadi saksi Spanyol menumbangkan juara bertahan Argentina dan kembali membawa pulang trofi ke Benua Biru. Inggris menutup turnamen di posisi ketiga, sedangkan Prancis kembali membuktikan dirinya sebagai kekuatan yang tak pernah benar-benar hilang. Dari empat tim terbaik dunia, tiga berasal dari Eropa. Hasil itu mungkin mengejutkan bagi sebagian orang. Namun bagi mereka yang membaca sepak bola sebagai sebuah sistem, akhir tersebut sesungguhnya bukan kejutan sama sekali. Ia adalah konsekuensi.
Selama ini kita terbiasa memandang sepak bola sebagai pertandingan sembilan puluh menit. Kita menyaksikan sebelas pemain melawan sebelas pemain, satu bola, satu wasit, dan satu pemenang. Dari sudut pandang itu, sepak bola tampak sebagai olahraga paling adil di dunia. Siapa pun dapat menang. Tetapi kenyataannya, pertandingan sesungguhnya tidak pernah dimulai ketika peluit pertama dibunyikan.
Pertandingan itu dimulai puluhan tahun sebelumnya, di akademi, laboratorium olahraga, ruang kelas pelatih, pusat riset performa, kantor pengelola liga, hingga ruang rapat yang menentukan arah investasi olahraga nasional. Di sanalah para juara sesungguhnya dibentuk. Piala Dunia 2026 menjadi etalase paling jelas tentang kenyataan tersebut.
FIFA memang memperluas jumlah peserta menjadi 48 negara. Keputusan itu dipuji sebagai langkah demokratis yang membuka kesempatan lebih besar bagi Asia, Afrika, dan Oseania. Secara administratif, dunia sepak bola memang tampak lebih inklusif. Namun secara struktural, ketimpangan justru semakin terlihat. Lebih banyak negara boleh masuk ke arena. Tetapi pusat kekuatan tetap berada di tempat yang sama. Inilah paradoks terbesar Piala Dunia modern.
Sosiolog Immanuel Wallerstein pernah menjelaskan bahwa dunia modern bekerja melalui relasi antara negara inti (core) dan negara periferi (periphery). Negara inti menguasai modal, teknologi, ilmu pengetahuan dan aturan permainan. Negara periferi menyediakan sumber daya yang kemudian diolah menjadi nilai tambah oleh negara inti.
Logika itu ternyata hidup subur di dunia sepak bola. Asia menghasilkan talenta. Afrika melahirkan atlet-atlet luar biasa. Amerika Latin tidak pernah kehabisan bakat. Namun Eropa menguasai hampir seluruh rantai nilai industri sepak bola. Di sanalah liga paling kompetitif beradab. Di sanalah akademi terbaik berkembang. Di sanalah ilmu kepelatihan terus diperbarui. Di sanalah teknologi analisis pertandingan diciptakan. Dan di sanalah uang berputar dalam jumlah yang sulit disaingi kawasan lain.
Seorang anak berusia lima belas tahun dari Dakar, Tokyo, Buenos Aires, atau São Paulo mungkin lahir di negaranya sendiri. Namun ketika bakatnya mulai bersinar, ia akan segera memasuki sistem Eropa. Di sana ia tumbuh, dipoles, dipasarkan, lalu menjadi aset industri olahraga bernilai ratusan juta euro. Negara asal memperoleh kebanggaan. Eropa memperoleh nilai tambah. Bukankah pola itu mengingatkan kita pada perdagangan komoditas dunia? Negara berkembang menjual bahan mentah. Negara maju menjual produk bernilai tinggi. Sepak bola ternyata mengikuti logika ekonomi yang sama.
Namun dominasi Eropa tidak hanya dibangun oleh uang. Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa kekuasaan juga lahir dari modal budaya dan modal simbolik. Hari ini, standar tentang bagaimana sepak bola yang "baik" dimainkan hampir seluruhnya ditentukan oleh Eropa. Metode latihan Belanda menjadi rujukan. Pendekatan taktik Spanyol dijadikan model. Disiplin organisasi Jerman dipelajari. Intensitas permainan Inggris ditiru. Bahkan ukuran keberhasilan seorang pemain muda sering kali ditentukan oleh satu pertanyaan sederhana: sudahkah ia bermain di liga Eropa?
Baca Juga: Bermain 10 Orang, Inggris Hentikan Langkah Tuan Rumah Meksiko ke Perempat Final
Tanpa disadari, Eropa bukan hanya menguasai permainan. Eropa menguasai definisi tentang permainan. Inilah bentuk hegemoni yang paling halus. Kita menganggap standar mereka sebagai standar universal. Padahal standar itu lahir dari pengalaman sejarah, kekuatan ekonomi, dan dominasi institusi yang mereka bangun selama puluhan tahun.
Joseph Nye menyebut fenomena tersebut sebagai soft power. Kekuasaan tidak selalu bekerja melalui paksaan. Kadang ia bekerja melalui daya tarik. Hari ini jutaan anak di Asia, Afrika, bahkan Indonesia tumbuh dengan mengenakan jersey klub-klub Eropa. Mereka hafal lagu Liga Champions sebelum mengenal kompetisi domestiknya sendiri. Mereka bermimpi bermain di Premier League jauh sebelum bermimpi membesarkan liga nasional.
Tanpa terasa, sepak bola telah menjadi instrumen diplomasi budaya paling efektif di dunia. Tidak ada kolonialisme. Tidak ada pendudukan wilayah. Yang ada hanyalah dominasi imajinasi. Dan dominasi semacam itu jauh lebih kuat dibandingkan dominasi militer.
Artikel Terkait
Apa Itu FIFA Puskas Award? Penghargaan yang Sejajarkan Rizky Ridho Dengan Pesepakbola Dunia Pertama Kali Dalam Sejarah Sepak Bola Indonesia
Gabung Agensi Elite Eropa, Mees Hilgers Buka Babak Baru Kariernya, Benarkah Sinyal Hengkang dari FC Twente?
Mengenal Kelme, Brand Legendaris Spanyol yang Kini Membalut Skuad Garuda
Konspirasi atau Kekuatan Mimpi? Kisah Ikonik Messi Memandikan Bayi Yamal, Sosok yang Mungkin Jadi Sandungan Sang Legenda di Final Piala Dunia 2026