Kapitalisme modern memperkuat keadaan tersebut. David Harvey menjelaskan bahwa sistem kapital akan selalu menciptakan akumulasi kekayaan yang berulang. Yang kuat semakin mudah berkembang karena memiliki sumber daya untuk terus berinvestasi. Yang lemah kehilangan kesempatan mengejar karena aset terbaiknya terus berpindah ke pusat-pusat modal.
Fenomena itu sangat nyata dalam sepak bola. Hak siar bernilai miliaran euro memungkinkan klub-klub elite membangun pusat riset olahraga, mempekerjakan ilmuwan data, psikolog, ahli nutrisi, hingga mengembangkan kecerdasan buatan untuk menganalisis setiap detail permainan. Kompetisi modern bukan lagi sekadar adu teknik. Ia adalah kompetisi ilmu pengetahuan. Trofi tidak hanya dimenangkan oleh pemain terbaik. Trofi dimenangkan oleh ekosistem terbaik.
Pelajaran terbesar justru harus dipetik Indonesia. Kita terlalu sering memandang sepak bola sebagai proyek jangka pendek. Ketika menang, kita larut dalam euforia. Ketika kalah, kita mencari kambing hitam. Pergantian pelatih dianggap solusi. Naturalisasi dipersepsikan sebagai jalan pintas. Stadion baru diperlakukan seolah menjadi simbol kemajuan. Padahal semua itu hanyalah bagian hilir.
Hulu persoalan kita jauh lebih mendasar. Berapa banyak pelatih usia dini yang benar-benar berkualitas? Berapa banyak sekolah yang memiliki kurikulum sepak bola modern? Berapa banyak universitas yang serius meneliti sport science? Berapa banyak klub yang memiliki pusat riset performa? Berapa banyak kompetisi kelompok umur yang berjalan sehat dan berkelanjutan?
Tanpa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, mimpi menuju Piala Dunia akan selalu bergantung pada keberuntungan satu generasi emas. Bangsa-bangsa besar tidak menggantungkan harapan pada generasi. Mereka membangun institusi. Institusilah yang melahirkan generasi demi generasi.
Spanyol memang mengangkat trofi. Namun sesungguhnya yang kembali menang adalah sistem sepak bola Eropa. Piala Dunia 2026 mengajarkan bahwa demokratisasi jumlah peserta tidak otomatis menghadirkan demokratisasi prestasi. Menambah kuota hanyalah memperluas pintu masuk. Ia tidak mengubah struktur rumah. Selama pusat ilmu pengetahuan, industri olahraga, teknologi, investasi, dan tata kelola tetap terkonsentrasi di Eropa, maka dominasi itu akan terus berulang dalam berbagai wajah dan generasi.
Bagi Indonesia, pelajaran terbesar bukanlah bagaimana lolos ke Piala Dunia. Pelajaran terbesar adalah bagaimana membangun ekosistem yang suatu hari membuat dunia datang belajar kepada kita. Karena sejarah selalu menunjukkan satu hal yang sederhana: bangsa yang besar bukanlah bangsa yang sesekali memenangkan pertandingan. Bangsa besar adalah bangsa yang berhasil membangun sistem sehingga kemenangan menjadi konsekuensi, bukan kebetulan.***
*Dosen UNWAHA Tambakberas Jombang
Artikel Terkait
Apa Itu FIFA Puskas Award? Penghargaan yang Sejajarkan Rizky Ridho Dengan Pesepakbola Dunia Pertama Kali Dalam Sejarah Sepak Bola Indonesia
Gabung Agensi Elite Eropa, Mees Hilgers Buka Babak Baru Kariernya, Benarkah Sinyal Hengkang dari FC Twente?
Mengenal Kelme, Brand Legendaris Spanyol yang Kini Membalut Skuad Garuda
Konspirasi atau Kekuatan Mimpi? Kisah Ikonik Messi Memandikan Bayi Yamal, Sosok yang Mungkin Jadi Sandungan Sang Legenda di Final Piala Dunia 2026