Rabu, 22 Juli 2026

Ketika Trofi Kembali ke Eropa dan Dunia Diingatkan tentang Siapa Penguasa Sepak Bola

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Selasa, 21 Juli 2026 | 22:25 WIB
Moh. Ja'far Sodiq Maksum (SketsaNusantara.id)
Moh. Ja'far Sodiq Maksum (SketsaNusantara.id)

Kapitalisme modern memperkuat keadaan tersebut. David Harvey menjelaskan bahwa sistem kapital akan selalu menciptakan akumulasi kekayaan yang berulang. Yang kuat semakin mudah berkembang karena memiliki sumber daya untuk terus berinvestasi. Yang lemah kehilangan kesempatan mengejar karena aset terbaiknya terus berpindah ke pusat-pusat modal.

Baca Juga: Respon Tak Terduga Anak Purbaya Usai Dituding Ikut Main Taruhan Bola di Tengah Euforia Laga Piala Dunia 2026, Yudo Sadewa Tegaskan Hal Ini

Fenomena itu sangat nyata dalam sepak bola. Hak siar bernilai miliaran euro memungkinkan klub-klub elite membangun pusat riset olahraga, mempekerjakan ilmuwan data, psikolog, ahli nutrisi, hingga mengembangkan kecerdasan buatan untuk menganalisis setiap detail permainan. Kompetisi modern bukan lagi sekadar adu teknik. Ia adalah kompetisi ilmu pengetahuan. Trofi tidak hanya dimenangkan oleh pemain terbaik. Trofi dimenangkan oleh ekosistem terbaik.

Pelajaran terbesar justru harus dipetik Indonesia.  Kita terlalu sering memandang sepak bola sebagai proyek jangka pendek. Ketika menang, kita larut dalam euforia. Ketika kalah, kita mencari kambing hitam. Pergantian pelatih dianggap solusi. Naturalisasi dipersepsikan sebagai jalan pintas. Stadion baru diperlakukan seolah menjadi simbol kemajuan. Padahal semua itu hanyalah bagian hilir.

Hulu persoalan kita jauh lebih mendasar. Berapa banyak pelatih usia dini yang benar-benar berkualitas? Berapa banyak sekolah yang memiliki kurikulum sepak bola modern? Berapa banyak universitas yang serius meneliti sport science? Berapa banyak klub yang memiliki pusat riset performa? Berapa banyak kompetisi kelompok umur yang berjalan sehat dan berkelanjutan?

Tanpa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, mimpi menuju Piala Dunia akan selalu bergantung pada keberuntungan satu generasi emas. Bangsa-bangsa besar tidak menggantungkan harapan pada generasi. Mereka membangun institusi. Institusilah yang melahirkan generasi demi generasi.

Baca Juga: Siapa Fiki Satari? Dirut TVRI yang Ramai Disorot di Tengah Polemik Penggunaan APBN untuk Hak Siar Piala Dunia 2026, Ternyata Sepupu Raffi Ahmad

Spanyol memang mengangkat trofi. Namun sesungguhnya yang kembali menang adalah sistem sepak bola Eropa. Piala Dunia 2026 mengajarkan bahwa demokratisasi jumlah peserta tidak otomatis menghadirkan demokratisasi prestasi. Menambah kuota hanyalah memperluas pintu masuk. Ia tidak mengubah struktur rumah. Selama pusat ilmu pengetahuan, industri olahraga, teknologi, investasi, dan tata kelola tetap terkonsentrasi di Eropa, maka dominasi itu akan terus berulang dalam berbagai wajah dan generasi.

Bagi Indonesia, pelajaran terbesar bukanlah bagaimana lolos ke Piala Dunia. Pelajaran terbesar adalah bagaimana membangun ekosistem yang suatu hari membuat dunia datang belajar kepada kita. Karena sejarah selalu menunjukkan satu hal yang sederhana: bangsa yang besar bukanlah bangsa yang sesekali memenangkan pertandingan. Bangsa besar adalah bangsa yang berhasil membangun sistem sehingga kemenangan menjadi konsekuensi, bukan kebetulan.***

*Dosen UNWAHA Tambakberas Jombang

 

Halaman:

Editor: As'ad Choirudin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB
X