Oleh: Syarif Hidayat Santoso
Rawatlah kelamin baik-baik
Sepanjang hari-hari sepedas bubuk merica
Memupur punggung dan mata
Di antara botol minuman dan cahaya neon
Abaikan messiah yang tak sudi mampir
Seperti pejantan payah membanting pintu bilik
Dengan ocehan congkak
Setelah semalaman merengek bokong
Hingga biji pelirnya gosong
Tak ada messiah sudi ke bordil
(Binhad Nurrahmat: Tak ada Mesiah Sudi ke Bordil dalam Kuda ranjang:2004)
SketsaNusantara.id - Jika anda membaca bait puisi di atas, apa yang anda rasakan? Jijik, marah, benci ataukah biasa saja. Atau jika anda santri akankah anda menghukumi bait di atas sebagai syair tak termaafkan ditinjau dari religiusitas kesantrian anda.
Bagi sebagian kalangan, persoalan religiusitas adalah urgensi primer bagi setiap karya yang terlahir dari ekologi bernuansa agama. Setiap karya dimatriks sesuai dengan pakem yang terbakukan dalam nilai-nilai religiusitas (dalam hal ini adalah Islam).
Artikel Terkait
Gus Dur, Cina dan Islam