Mulai dari Nyeleteng, yakni membuat orang jadi merasa berani; Nyepeng, membuat orang menjadi kebal dan Mesem yaitu membuat pihak lawan tidak merasakan marah.
“Jimatnya orang Carok itu harus menguasai 3 hal ini,” tuturnya lagi.
Sebelum dilakukan Carok, pihak keluarga juga harus mempersiapkan segala sesuatu, termasuk jaminan untuk menanggung keluarga pelaku Carok jika nanti meninggal dunia.
Menariknya, dalam prosesnya, Carok dilakukan bukan dengan cara keroyokan, namun satu lawan satu.
Selain itu, di tengah Carok juga terdapat waktu ‘jeda’, di mana kedua petarung akan berhenti, biasanya di waktu sholat dan juga saat jam makan.
“Bahkan pernah ada cerita, kadang waktunya sholat, sholat. Berhenti dulu karena sama-sama kebal. Pada waktunya makan, berenti, makan dulu,” imbuh Hidrochin lagi.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Janger Banyuwangi, Akulturasi Seni dan Budaya Jawa, Osing hingga Bali serta Keterkaitan Minak Jinggo dan Damarwulan
Mengenal Seikerei zaman Penjajahan Jepang, Budaya Negeri Matahari yang Ditentang Para Kyai hingga KH Hasyim Asy'ari
Asal Usul Istilah Dalang dalam Wayang Kulit, Salah Satu Warisan Budaya yang Telah Diakui UNESCO
Memiliki Cadangan Makanan Selama 95 Tahun Lebih, Desa di Sukabumi Ini Masih Memegang Teguh Tradisi Leluhur, di Mana Lokasinya?
Tradisi Pengantin Tebu Berasal dari Kisah Tragis di Pabrik Gula Madukismo Yogyakarta? Ternyata Tujuannya untuk...
Apa Itu Tradisi Angngaru? Intip Ritual Khas Suku Bugis Makassar yang Heboh Karena Berita Pemainnya yang Tertusuk Benda Tajam