Hidrochin Sabarudin mengungkapkan, Carok dipilih jika suatu masalah tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan.
“Kalau tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan, ya jalan terakhir,” ujarnya seperti dikutip dari kanal YouTube Gerbang Pulau Madura.
Prinsipnya, carok merupakan jalan terakhir yang dilakukan seseorang saat harga dirinya dipertaruhkan.
Ia juga mengatakan, tradisi Carok bukan hanya sebatan bacok-membacok seperti yang sering terjadi saat ini.
Ada sejumlah persiapan hingga syarat dalam menjadikan carok sebagai penyelesaian masalah.
Apalagi, tradisi Carok yang konon sudah ada sejak zaman pemerintahan Belanda ini baru berhenti ketika lawan mati.
“Kalau zaman dulu, ceritanya kakek-kakek itu, iya (sampai mati),” ungkapnya lagi.
Sebelum melakukan Carok, ada sejumlah persiapan yang dilakukan mulai dari mandi besar hingga memiliki syarat-syarat khusus.
Bahkan, sebelumnya, seseorang yang menantang untuk Carok harus ‘sowan’ terlebih dahulu kepada para kyai.
“Mereka itu dalam hal persiapannya itu sudah matang, minta syarat, memang terang-terangan ngomong ke pak Kyai,” tutur Hidrochin lagi.
Para Kyai pun biasanya menjadi mediator agar permasalahan bisa diselesaikan secara damai.
Selain itu, para dalam melakukan tradisi Carok juga terdapat 3 jimat yang harus dimiliki.
Artikel Terkait
Janger Banyuwangi, Akulturasi Seni dan Budaya Jawa, Osing hingga Bali serta Keterkaitan Minak Jinggo dan Damarwulan
Mengenal Seikerei zaman Penjajahan Jepang, Budaya Negeri Matahari yang Ditentang Para Kyai hingga KH Hasyim Asy'ari
Asal Usul Istilah Dalang dalam Wayang Kulit, Salah Satu Warisan Budaya yang Telah Diakui UNESCO
Memiliki Cadangan Makanan Selama 95 Tahun Lebih, Desa di Sukabumi Ini Masih Memegang Teguh Tradisi Leluhur, di Mana Lokasinya?
Tradisi Pengantin Tebu Berasal dari Kisah Tragis di Pabrik Gula Madukismo Yogyakarta? Ternyata Tujuannya untuk...
Apa Itu Tradisi Angngaru? Intip Ritual Khas Suku Bugis Makassar yang Heboh Karena Berita Pemainnya yang Tertusuk Benda Tajam