sketsa

KH M Yusuf Hasyim: Kyai Multiperan dari Tebuireng

Minggu, 2 Februari 2025 | 18:25 WIB
Mukani, Dosen Sejarah Islam STAI Darussalam Krempyang Nganjuk

Laskar ini dibentuk untuk mendidik para santri dalam kemiliteran dan mempertahankan agama Islam di Indonesia.

Pada pertempuran Arek-arek Suroboyo tanggal 10 November 1945 yang sangat heroik itu, Pak Ud menjadi komandan kompi Laskar Hizbullah. Pasukannya ditempatkan di sisi barat Kota Surabaya daerah Gunungsari, yang sekarang menjadi markas Kodam V Brawijaya.

Dengan status sebagai putra Rais Akbar NU KH M Hasyim Asy’ari, posisi Pak Ud tentu sangat menguntungkan dalam memobilisasi massa NU untuk menggempur Belanda di Surabaya.

Baca Juga: Mengenang 15 Tahun Wafatnya KH Abdurrahman Wahid: Gus Dur dan Tradisi Literasi

Terlebih sebelum meletus pertempuran Arek-arek Suroboyo, tepatnya 22 Oktober 1945, secara organisasi NU sudah mengeluarkan Resolusi Jihad.

Peran aktif Pak Ud di dunia militer berlanjut saat terjadi agresi militer satu dan dua. Tidak heran jika pada tahun 1949, dirinya diberi pangkat efektif letnan satu (Lettu). Setelah tahun 1947, Laskar Hisbullah digabungkan dengan TNI.

Di bidang organisasi sosial, Pak Ud tercatat pernah menjadi Sekretaris Jenderal PBNU periode 1967-1971. Di pimpinan pusat GP Ansor, Pak Ud pernah menjadi salah satu ketua di periode 1958-1967.

Baca Juga: Kubangan Bekas Galian Memakan Korban, Dapatkah Penambang Dijerat Pidana?

Pada Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Pak Ud pernah menjadi Wakil Sekretaris Jenderal periode 1958-1965. Termasuk menjadi ketua umum Ikatan Bekas Pejuang Islam Jawa Timur periode1957-1958.

Dalam satu kesempatan sekitar bulan Agustus 2005, penulis pernah diajak KH Luqman Hakim, pengasuh Pesantren Seblak saat itu, untuk sowan ke Pak Ud di Ndalem Kasepuhan Pesantren Tebuireng.

Dibonceng dengan naik sepeda motor Vespa jadulnya. Saat itu hendak ada kunjungan kerja Menteri Kehutanan RI ke Tebuireng.

Baca Juga: Kalisat Tempo Dulu 9 Dara Memeta Kota, Sebuah Upaya Melihat Perjalanan Peradaban Kota Jember dari Perspektif yang Berbeda

Tujuan utama sowan saat itu ingin “melaporkan” tesis penulis tentang kajian berbagai karya KH M Hasyim Asy’ari dalam konsep pendidikan Islam.

Menurut KH Luqman Hakim, ada yang baru di tesis penulis. Sangat dimungkinkan untuk diterbitkan menjadi sebuah buku.

Setelah berdiskusi bertiga dengan Pak Ud di ruang tamu, penulis dan KH Luqman Hakim dipersilakan melanjutkan diskusi di ruang belakang, karena sudah ditunggu dua orang dekat Pak Ud.

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB