Minggu, 19 Juli 2026

PMII dan Pilkada Jember 2024

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Jumat, 27 September 2024 | 13:07 WIB
PMII dalam Pilkada Jember 2024 (Dok. PMII Jember)
PMII dalam Pilkada Jember 2024 (Dok. PMII Jember)

Baca Juga: KPU Kabupaten Jember Tetapkan 2 Paslon untuk Berkontestasi Politik di Pilkada 2024

Berbeda dengan lawan politiknya, Gus Fawait-Djoko membawa corak pembangunan yang lebih menekankan pada potensi lokal dan green policy.

Mereka nampaknya memiliki cara tersendiri untuk mengatasi permasalahan ekonomi di Kabupaten Jember. Lebih lanjut, jika apa yang tertera dalam ketiga misi tersebut memang dilakukan, maka dimensi environmental ethics akan mendapat porsi seimbang dalam perumusan kebijakan pembangunan Gus Fawait- Djoko.

Positoning PMII

Meminjam pembacaan Fauzan Alfas, secara antropologis warga pergerakan hidup dan dibesarkan dalam budaya agraris indegeneus.

Baca Juga: 1,9 Juta Pemilih Resmi Terdaftar di Jember, Generasi Muda Mendominasi dalam Gelaran Pilkada Serentak 2024

Kenyataan demikian menjadikan warga pergerakan tersosialisasikan dalam budaya dan mental agraris yang cenderung mempunyai sifat menerima kenyataan tanpa reserve.

Sebagian warga pergerakan tumbuh dan berkembang dalam kelompok dengan suasana dan tradisi santri dengan semangat “tradisionalisme” yang tinggi. Fenomena demikian, dalam konteks sosio-ekonomi dan politik menempatkannya ke dalam kelompok marjinal.

Kesadaran kesejarahan tersebut termanifestasikan ke dalam tradisi kehidupan mikro organisasi kita dan terartikulasikan dalam serangkaian sikap kelembagaan, persoalan yang dipilih untuk di jawab, serta pilihan arah gerak organisasi.

Baca Juga: DPR RI Terpilih dari PKB Dapil Jember-Lumajang Lora Gopong Bakal Tak Dilantik, Banyak Protes dari Kyai dan Pendukungnya

Bagaimana tidak, dengan pilihan paradigma yang kental dengan aroma perlawanan menjadikan organisasi PMII sebagai organisasi yang radikal dalam transmisi dan respons situasional.

Kenyataan nalar pengetahuan dan spirit ideologis yang gandrung dengan perlawanan ini, terkadang membuat terlena dengan sikap “oposisi” terhadap segala macam bentuk kemapanan dan kekuasaan.

Sehingga, -seperti dikatakan dalam buku Multi Level Strategi- dalam upaya perlawanan terhadap neoliberalisme justru terjebak dalam konsep-konsep liberalisme.

Baca Juga: Dorong Evaluasi Perda Kabupaten Layak Anak, PC KOPRI Jember Gelar Audiensi dengan DPRD dan OPD

Di sisi lain, mungkin perlu menilik sejarah ketika PB PMII menyatakan sikap mendukung pemerintahan presiden Gus Dur setelah sekian lama mempertahankan sikap idealnya untuk melawan status quo.

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X