Minggu, 19 Juli 2026

Kapitalisme Pendidikan di Indonesia dalam Perspektif Paulo Freire, Ivan Illich, dan Erich Fromm

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 14 September 2024 | 19:53 WIB
Isna Asaroh | Ketua Kopri Cabang Jember 2024/2025 (Dok. Istimewa )
Isna Asaroh | Ketua Kopri Cabang Jember 2024/2025 (Dok. Istimewa )

Ivan Illich dalam bukunya "Deschooling Society" mengajukan kritik radikal terhadap institusi sekolah formal. Ia berpendapat bahwa sekolah telah menjadi mekanisme pengendalian sosial yang mengalienasi individu dari pengalaman belajar yang autentik.

Sekolah, dalam pandangan Illich, menciptakan ilusi bahwa pendidikan hanya bisa terjadi dalam institusi formal yang terstruktur.

Baca Juga: Kabar Persidangan Muhriyono Petani Pakel Banyuwangi! Inilah Pasal yang Didakwakan Penuntut Umum, Ada Tuduhan dan Kontroversi di Balik Penangkapannya?

Di Indonesia, komersialisasi pendidikan menciptakan gap yang semakin lebar antara berbagai kelas sosial. Institusi pendidikan swasta yang mahal dan eksklusif hanya bisa diakses oleh kalangan menengah ke atas, sementara sekolah negeri sering kekurangan sumber daya.

Hal ini menciptakan masyarakat yang terfragmentasi, di mana kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas sangat bergantung pada status ekonomi.

Illich mengusulkan deschooling, yaitu pembongkaran sistem sekolah formal untuk digantikan dengan model pendidikan yang lebih egaliter dan berbasis komunitas.

Dalam konteks Indonesia, hal ini dapat diinterpretasikan sebagai dorongan untuk mengembangkan pendidikan alternatif yang lebih inklusif dan memberdayakan, seperti sekolah alam, homeschooling, dan program pendidikan berbasis komunitas yang tidak terlalu bergantung pada kapitalisme.

Baca Juga: Kekeliruan Pemkab Banyuwangi dalam Menyelesaikan Konflik Agraria di Desa Pakel, Potret Ketimpangan Struktural dan Tuntutan Keadilan Warga

C. Erich Fromm: Pendidikan dan Eksistensialisme Humanistik

Erich Fromm, seorang psikolog dan filsuf humanis, menawarkan perspektif yang berbeda tentang pendidikan. Dalam bukunya "To Have or To Be?", Fromm membedakan antara mode eksistensi "memiliki" dan "menjadi".

Pendidikan dalam mode "memiliki" berfokus pada akumulasi pengetahuan sebagai barang yang dapat dimiliki, sedangkan pendidikan dalam mode "menjadi" berfokus pada perkembangan pribadi dan pemahaman diri yang mendalam.

Kapitalisme pendidikan di Indonesia cenderung mendorong mode "memiliki", di mana nilai pendidikan diukur dari jumlah sertifikat, gelar, dan pencapaian akademis.

Hal ini menciptakan tekanan yang luar biasa bagi siswa untuk berkompetisi dan mencapai standar yang ditentukan oleh pasar kerja, mengabaikan aspek-aspek penting seperti kreativitas, empati, dan pengembangan diri.

Baca Juga: Sajak Suara Wiji Thukul: Terus Memburu Kita seperti Kutukan

Fromm mengajak kita untuk mempertimbangkan kembali tujuan pendidikan: apakah kita ingin menciptakan individu yang hanya kompeten secara teknis ataukah individu yang utuh, kreatif, dan memiliki kesadaran sosial?

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X