KH Agus Sunyoto menulis bahwa para wali tidak menemukan kesalahan teologi dalam ajaran Sasahidan yang diajarkan.
Dasar ajaran itu tampaknya berkaitan dengan ajaran tasawuf al-Hallaj dan Ibnu Araby, yang didasarkan pada keyakinan bahwa di dalam diri manusia sebagai ciptaan (khalq) tersembunyi anasir Yang Ilahi (Haqq).
Ajaran itu didasarkan pada dalil yang menyatakan bahwa Allah telah “meniupkan” (nafakhtu) sebagian ruh-Nya (rûhi) ke dalam diri manusia pertama (Nabi Adam) yang dicipta dari tanah (QS. Shâd [38]: 72).
Dalam Tasawuf, Ruh Ilahi dalam diri Nabi Adam itulah yang disebut sebagai Ruh Al-Haqq, penyebab dan alasan kenapa seluruh malaikat bersujud kepada dirinya.
Dikutip dari penelitian yang ditulis Ali Dhikrurrozi berjudul Konsep Hulul Al-Halaj dalam Perspektif Manunggaling Kawulo Gusti Syekh Siti Jenar, dipublikasikan oleh Prodi Tasawuf dan Psikoterapi, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Sunan Ampel Surabaya, tahun 2022, Sasahidan yang diajarkan sejatinya bukan ajaran sesat dan menyesatkan bagi yang yang dapat memahami dan menghayati secara utuh dalam diri dan jiwa.
Sasahidan merupakan pengakuan berdasarkan kesaksian mata lahir dan batin tentang Allah sebagai Sang Pencipta dan alam semesta sebagai yang diciptakan (makhluk).
Makhluk di sini merupakan sebuah tajallli atau tempat bersemayam Sang Pencipta, sehingga makhluk sebenar-benarnya dapat mengenal-Nya melalui dirinya.
Sayangnya, warisan ajaran Syekh Siti Jenar justru kerap dipahami dan dirayakan dalam budaya populer yang serba banal. Mulai dari anak-anak muda yang sedang mencari eksistensi dan jati diri, hingga syair-syair lantang dalam musik Hip-Hop.
Bisa dibilang, nyaris tak ada upaya penggalian makna dan kesadaran dari substansi ajaran tersebut secara serius. Lagipula, apa yang bisa kita harapkan dari gejolak kawula muda dengan segala ritus modern yang serba konsumtif itu.
Menggugat Watak Feodalisme Jawa
Alih-alih terjebak pada pemahaman (dan praktik) Manunggaling Kawulo Gusti sebagai selebrasi pseudo-sufisme, apa yang justru sangat layak digaristebal adalah kehadirannya sebagai upaya speaking Truth to Power; menyodorkan suara Kebenaran kepada Kekuasaan. Sebuah taktik politik tanpa kekerasan yang mencoba menggugat watak Feodalisme, khususnya di masyarakat Jawa.
Harus diakui, banyak orang yang mungkin malu-malu atau khawatir jika bicara soal (watak) Feodalisme, khususnya di masyarakat Jawa.
Kekuasaan dalam perspektif masyarakat Jawa sangatlah kental dengan apa yang kerap disebut sebagai Watak Feodalisme.
Dalam bukunya berjudul The Idea of Power in Javanese Culture (1972), Benedict Anderson menuliskan bahwa dalam konsepsi Jawa, Kekuasaan adalah entitas riil.
Kekuasaan semacam itu merupakan daya yang abadi di alam semesta. Dari situlah bisa dijelaskan tentang konsep bahwa orang yang berkuasa bukanlah sosok yang sembarangan karena telah menerima wahyu yang konon akan sulit dipahami bagi manusia awam.
Artikel Terkait
Disebut Sebagai Guru Spiritual Orang Islam Jawa, Sunan Kalijaga, Keturunan Arab, China Ataukah Asli Jawa?
5 Peninggalan Sunan Kalijaga dalam Bentuk Fisik, Masih Terawat Baik Hingga Sekarang!
Benarkah Wayang Kulit Sengaja Dibuat Sebagai Warisan Wali Songo? Sempat Jadi Kontroversi, Begini Sejarah Wayang Kulit Sunan Kalijaga
Bukan Sembarang Gua, Pesona Alam Pati Tempat Semar Bersemedi Ini Saksi Sunan Gresik Islamkan Majapahit?
Kisah Sunan Kudus Larang Masyarakat Kudus Sembelih Sapi hingga Pilih Kerbau untuk Hewan Kurban Idul Adha
4 Seni Gamelan Peninggalan Sunan Kalijaga, Sarat Makna Filosofis Sesuai dengan Suaranya, Untuk Penyebaran Agama Islam
Tak banyak yang Tahu, 4 Guru Spiritual Sunan Kalijaga, Salah Satunya Dihukum Mati Wali Songo, Karena Dianggap Sesat!