Kamis, 4 Juni 2026

Warisan Sasahidan Syekh Siti Jenar: Manunggaling Kawulo Gusti, Perangkap Pseudo-Sufisme atau Kritik pada Watak Feodalisme?

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Rabu, 19 Juni 2024 | 09:44 WIB
Ilustrasi ajaran Sasahidan Manunggaling Kawulo Gusti Syekh Siti Jenar. (Pexels.com/Soner Arkan)
Ilustrasi ajaran Sasahidan Manunggaling Kawulo Gusti Syekh Siti Jenar. (Pexels.com/Soner Arkan)

Sebagai catatan, nama Akmaliyah adalah sebuah tarekat yang menisbatkan pada ajaran Syekh Siti Jenar, dan jika ditelusuri lebih jauh dianut dan diamalkan oleh tokoh sufi Husein bin Mansyur al-Hallaj yang sangat terkenal itu.

Husein bin Mansyur al-Hallaj atau singkatnya, Al Hallaj, adalah seorang mistikus Persia, penyair, dan tokoh sufi yang dikenal dari ucapannya, "Ana'l-Haqq" (Akulah Kebenaran).

Baca Juga: 6000 Meter dari Pusat Kota Pati, Sunan Bonang Pernah Murka dan Wariskan Kisah Legenda Tongkat Sakti

Ucapan tersebut dianggap banyak orang sebagai klaim keilahian alias pengakuan diri sebagai Tuhan. Akibatnya, ia dipenjara dan akhirnya dieksekusi oleh Kekuasaan Abbasiyah pada tahun 922 Masehi.

Hasan Basri Marwah, Pengurus Lesbumi PBNU (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) menulis di tahun 2023 bahwa para penganut Tarekat Akmaliyah memang tidak terlihat melakukan ibadah formal yang syar'i.

Dikutip dari Langgar.co, mereka adalah pelayan kaum lemah dalam segala kondisi, dan bersedekah dalam setiap keadaan, tanpa memikirkan kondisi ekonominya sendiri.

Menurutnya, banyak kyai NU mengamalkan tarekat ini, tetapi organisasi JATMAN (Jami’iyah Tarekat Muktabarah Nahdliyah) tidak memasukkan Akmaliyah sebagai salah satu tarekat muktabar.

Hasan tak menampik fakta bahwa ada banyak versi Akmaliyah yang punya potensi pseudo-sufisme. Terlebih lagi, riwayat tarekat ini yang tidak linear sehingga ajaran dan praktiknya pun tercerai berai apalagi akibat Kolonialisme Belanda.

Dalam buku Atlas Wali Songo karya KH Agus Sunyoto, terbitan Pustaka Iman, Jakarta, 2014, Syekh Siti Jenar dikenal sebagai penyebar ajaran Sasahidan yang berpijak pada konsep Manunggaling Kawulo Gusti.

Gagasan utamanya adalah membentuk komunitas baru yang mengubah konsep feodalistik kawulo (hamba, budak) menjadi egaliter, dengan membuka hunian-hunian baru disebut Lemah Abang.

Komunitas-komunitas tersebut merupakan kumpulan masyarakat egaliter di dukuh-dukuh bernama Lemah Abang yang kemudian berkembang menjadi varian Abangan.

Ajaran Sasahidan Syekh Siti Jenar tak lepas dari sejarah makar Ki Ageng Pengging alias Kebo Kenanga yang menolak undangan penobatan Sultan Trenggono sebagai penguasa Kesultanan Islam di Demak.

Ki Ageng Pengging sendiri kerap disebut sebagai salah satu murid dari Syekh Siti Jenar.

Tercatat dalam Babad Tanah Jawi, Nagara Kretabhumi, dan Carita Purwaka Caruban Nagari, kekuatan Pengging akhirnya ditumpas oleh Demak.

Berbeda dari Ki Ageng Pengging yang dijatuhi hukuman mati atas tuduhan makar, Syekh Siti Jenar dihukum karena dituduh telah menyebarkan ajaran sesat Sasahidan, yakni Manunggaling Kawulo Gusti.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB
X