Rabu, 17 Juni 2026

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB
Moh. Ja’far Sodiq Maksum (SketsaNusantara.id)
Moh. Ja’far Sodiq Maksum (SketsaNusantara.id)

Ketika Nalar Digantikan Algoritma

Dalam teori budaya organisasi, terdapat konsep norma dan asumsi dasar yang secara tidak sadar membentuk perilaku anggota. Di sinilah bahaya AI bekerja secara halus namun sistemik. Pertama, munculnya budaya instan (instant culture). Ketika siswa terbiasa “tanya AI saja”, terjadi cognitive offloading, pemindahan fungsi berpikir ke mesin. Jika ini menjadi kebiasaan, maka ia akan mengkristal menjadi norma baru: belajar tanpa berpikir. Dalam jangka panjang, ini bukan sekadar penurunan kemampuan, tetapi degradasi budaya intelektual.

Kedua, bias algoritma sebagai “nilai tersembunyi”. Dalam perspektif Edgar H. Schein, budaya memiliki lapisan terdalam berupa asumsi yang tidak disadari. AI membawa asumsi global, sering kali bias Barat, bias mayoritas, yang jika diterima tanpa kritik akan menggeser identitas lokal. Ini berbahaya bagi bangsa yang sedang membangun jati diri.

Baca Juga: Liburan ke Magelang, Jangan Lupa Cicipi Sup Senerek, Sajian Legendaris Hasil Akulturasi Budaya Belanda-Jawa

Ketiga, lahirnya kesenjangan budaya digital. Dalam buku Budaya Organisasi ditegaskan bahwa budaya juga berfungsi sebagai pembeda dan penentu kinerja organisasi. Dalam konteks pendidikan, mereka yang menguasai AI akan membentuk “kelas baru”, bukan sekadar kaya dan miskin, tetapi cerdas secara algoritmik dan pasif secara digital. Dengan kata lain, AI tidak hanya menciptakan kesenjangan akses, tetapi kesenjangan budaya berpikir.

Membangun Budaya Belajar di Tengah AI

Di sinilah letak urgensi pendekatan budaya organisasi. Solusi terhadap disrupsi AI tidak cukup dengan regulasi teknis, tetapi harus menyentuh budaya belajar itu sendiri. Redefinisi makna kecerdasan. Dalam budaya lama, cerdas identik dengan hafalan. Dalam budaya baru, cerdas adalah kemampuan bertanya, memverifikasi, dan mensintesis. Ini sejalan dengan konsep learning-oriented culture, budaya yang mendorong pembelajaran berkelanjutan dan refleksi kritis.

Baca Juga: Jadi Sorotan Media Asing, Inilah Beragam Tradisi Unik Perayaan Imlek di Indonesia, Semarak Tahun Baru China dengan Akulturasi Budaya yang Penuh Makna

Transformasi peran guru sangat diperlukan di tengah gencarnya penggunaan AI. Sebab, guru tidak lagi sekadar knowledge transmitter, tetapi culture builder. Dalam teori budaya organisasi, pemimpin memiliki peran sentral dalam membentuk nilai dan norma. Dalam konteks pendidikan, guru adalah “pemimpin budaya berpikir”. Ia harus mengajarkan satu hal penting yakni meragukan jawaban AI.

Hal lain yang tak kalah pentignya, membangun ekosistem budaya yang sehat. Negara harus menciptakan regulasi yang tidak hanya teknis, tetapi etis. Sekolah harus menginternalisasi literasi AI sebagai bagian dari budaya belajar, serta keluarga harus menanamkan disiplin penggunaan teknologi. Budaya tidak terbentuk dari aturan, tetapi dari kebiasaan yang diulang. Jika kebiasaan kritis tidak dibangun, maka kebiasaan instan yang akan menang.

Baca Juga: ‎3 Puisi Tema Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026, Penuh Makna untuk Menghormati Jasa Pahlawan Ki Hajar Dewantara dan Guru

Guru atau Algoritma?

Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardinaknas) tidak lagi sekadar mengenang sejarah, tetapi membaca arah masa depan. Kita sedang berada dalam pertarungan budaya: antara budaya berpikir yang dibangun guru dan budaya instan yang dibentuk algoritma.

Teknologi, sebagaimana ditegaskan dalam kajian organisasi, hanyalah alat. Ia bisa memperkuat budaya positif, tetapi juga bisa mempercepat keruntuhan budaya jika tidak dikelola secara reflektif.

Baca Juga: Merayakan 4 Tahun Promedia dari Kacamata Seorang Ayah, Editor, dan Pejuang Algoritma

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB
X