Minggu, 19 Juli 2026

Cerita dari Papua Selatan: Santi, Perempuan Asmat yang Menjawab Stigma Lewat Anyaman Rambut

Photo Author
Qorry 'Aina Damayanti, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 19 April 2025 | 20:30 WIB
Santi, perempuan Asmat pertama yang melahirkan budaya anyaman rambut  (SketsaNusantara.id/ Qorry 'Aina Damayanti)
Santi, perempuan Asmat pertama yang melahirkan budaya anyaman rambut (SketsaNusantara.id/ Qorry 'Aina Damayanti)

Berawal dari salah satu akun Facebook yang sering dilihatnya memasarkan rambut palsu, ia pun ingin mencoba peruntungan yang sama.

“Saya pikir, daripada saya hanya anyam begini dan di Asmat belum ada yang jual waktu itu (2018), ya sudah (mencoba berjualan),” jelasnya.

Baca Juga: Buya Hamka dan Pengamatannya Tentang Islam di Madura (Bagian 2)

Diakui Santi bahwa ia telah memiliki ide berjualan rambut palsu dan jasa anyam rambut sejak ia SMA. Namun baru terwujud saat ia telah duduk di bangku kuliah, di Universitas Ternate sekitar tahun 2018.

Pada awalnya ia menjual rambut palsu dan menawarkan jasa anyam rambut di wilayah Ternate secara online. Produknya ini didapatkan dari berbagai daerah, seperti Jogjakarta dan Purwokerto.

“Saya bagi ke grup-grup jual beli di Facebook,” katanya.

Baca Juga: Kompi Yusuf Hasyim dan Pertempuran di Nglaban

Tentang Pelanggan Pertama yang Menjadi Awalan Jalan Rezekinya

Awal merintis usahanya, Santi mengalamai kejadian yang cukup unik. Pelanggan pertamanya adalah seorang laki-laki yang ingin rambutnya dianyam. Saat itu Santi yakin bahwa ia bisa melakukan anyam rambut laki-laki.

“Padahal ini baru pertama juga (anyam rambut laki-laki). Tapi dengan percaya diri, bisa,” tegasnya.

Santi pun semakin percaya diri untuk menekuni usaha anyam rambut. Pelanggannya semakin bertambah setiap hari.

“Ada teman-teman dari Ternate yang juga minta untuk anyam seperti rambut saya,” lanjutnya.

Baca Juga: Apem dan Megengan, Tradisi Islami Jelang Ramadhan

Dikatakan Santi bahwa anyaman rambut ini bisa bertahan hingga 2 bulan pada rambut keriting. Namun pada rambut lurus, anyaman hanya bertahan sekitar 2 minggu.

Untuk menganyam rambut, Santi memerlukan waktu sekitar 5-6 jam lamanya.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X