Kamis, 4 Juni 2026

Buya Hamka dan Pengamatannya Tentang Islam di Madura (Bagian 2)

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Kamis, 27 Maret 2025 | 20:20 WIB
Syarif Hidayat Santoso (Dok.SketsaNusantara.id)
Syarif Hidayat Santoso (Dok.SketsaNusantara.id)

 

Syarif Hidayat Santoso*

SketsaNusantara.id - Dalam Perbendaharaan Lama pada Bab Islam di Madura, dikisahkan siasat Sultan Agung ketika menyerang Surabaya, yaitu menggunakan siasat politik yang menarik. Sultan Agung menikahkan putrinya, Ratu Wandan Sari dengan Pangeran Faqih, Penguasa Surabaya. Siasat ini berhasil dengan menikahnya Pangeran Faqih dengan Ratu Wandan Sari. Namun, apa makna dari pernikahan politik ini.

Ternyata Ratu Wandan Sari sebagai kepanjangan Penguasa Mataram memiliki niat terselubung yaitu mempengaruhi tanpa sadar, Pangeran Faqih agar mau melawan Giri. Giri saat itu merupakan satu wilayah politik Pesisir seperti Madura yang konsisten tidak patuh kepada Mataram. Ironisnya, penguasa Giri Kedaton adalah guru dari Pangeran Faqih sendiri. Di sini tergambar bagaimana Pangeran Faqih melawan gurunya sendiri, penguasa Giri Kedaton yang tidak saja berwibawa secara politik tapi juga alim secara agama.

Kisah diatas menyiratkan dua hal, pertama, Giri merupakan sesuatu yang memiliki kaitan erat dengan Madura baik secara politik maupun agama, sehingga Buya Hamka memasukkan kisah penyerangan Mataram terhadap Giri dalam bab Islam di Madura dalam buku Dari Perbendaharaan Lama tersebut. Kedua, Buya Hamka mengajarkan tentang aspek manusia dalam sejarah yang tidak selalu tampil baik, flamboyan dan heroik, namun juga realistis dan minimalis. Di sini terlihat aspek memanusiakan sejarah dalam alam berpikir Buya Hamka.

Kisah ini pada dasarnya dapat dijumpai dalam kisah manusia Madura dalam kaitannya dengan politik. Misalnya dalam kisah Raden Bugan yang menikam gurunya sendiri, Sunan Giri Prapen karena penetrasi politik Sunan Amangkurat 1. Meski tidak terlacak, kisah di atas benar atau tidak, namun paling tidak dalam sejarah Madurapun telah berjalan aspek memanusiakan sejarah. Raden Bugan yang digambarkan alim dan berwibawa secara politik ternyata harus takluk pula kepada Hasrat politik Amangkurat dengan menikam gurunya sendiri. Dalam dunia keadaban Madura, tindakan melawan guru merupakan tindakan yang sangat tercela, meskipun tindakan menikam itu merupakan suruhan Sunan Prapen sendiri.

Kisah Raden Bugan yang pernah nyantri kepada Kyai Cirebon dan Ulama Giri ini dalam hubungannya dengan konflik politik antara Mataram dengan para ulama Jawa seakan menjabarkan kepada kita dilema antara politik dengan agama. Satu sisi, Mataram sebagai poros politik terkuat saat itu mampu memainkan peranan siasat yang licik dalam upayanya menaklukkan wilayah politik yang tidak mau tunduk, sisi lain konstelasi agama pada dasarnya membutuhkan satu strategi sendiri manakala agama harus dibenturkan dengan politik. Raden Bugan dalam pertarungan dua poros ini, Mataram sebagai poros politik pedalaman yang saat dipimpin Amangkurat tidak begitu alim dalam beragama harus berhadapan dengan Giri sebagai pusat kekuasaan Islam Pesisir yang berwibawa harus terpaksa memilih salah satunya dalam rangka mempertahankan ketatanegaraan dan keagamaan masa selanjutnya di Sumenep.

Memanusiakan manusia merupakan poros utama dalam sejarah modern. Buya Hamka dalam beberapa karyanya menunjukkan sisi kemanusiaan natural dari beberapa figur yang mungkin dianggap sakral dalam sejarah manusia. Catatan Buya Hamka misalnya dalam buku, Ayahku, menarik sekali karena ada sejumlah kisah faktual yang menarik dan mungkin bagi kalangan ahlu sunnah wal jamaah tradisional hal itu dianggap problematik. Buku Karangan Buya Hamka itu menceritakan tentang Ayahandanya, Doktor Syekh Buya Karim Amrullah, Ketika menuntut ilmu di Mekkah.

Begini ceritanya, saya kutip dari Buya Hamka, sesaat setelah ayah Buya Hamka mengajar di Masjidil Haram, datanglah Mufti Mazhab Syafi’i, Syaikhul Islam Muhammad Sa’id Babshil melarang beliau mengajar di Masjidil Haram. Lalu, Buya Karim Amrullah menjawab, “Padahal banyak orang yang mengajar di Masjidil Haram dan kurang ilmunya daripada saya, hanya mereka orang Arab. Buya Karim Amrullah memang mengajar di Masjidil Haram atas perkenan gurunya yang juga orang Indonesia, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau.

Debat antara Buya Karim Amrullah dengan Mufti Arab itu kemudian disampaikan kepada Syekh Ahmad Khatib, guru Buya Karim Amrullah. lalu apa jawab Syekh Ahmad Khatib, “Hai anakku yang kusayang, engkau tidak tahu rahasia hal ini. Ini adalah dari kedengkian belaka. Engkau dilarang mengajar sebab engkau muridku. Coba engkau suka tempo hari belajar dengan dia, tentu engkau mudah saja mengajar. Inilah perjuangan di Mekkah anakku, kita bangsa Jawi, mereka bangsa Arab. Mereka merasa lebih tinggi dan lebih berhak, mereka memandang rendah kepada kita, dan menyangka bahwa bangsa Jawi tidak mengetahui suatu apa, apalagi akan mengajarkan kitab berbahasa Arab. Dan ada lagi satu , aku ini adalah murid dari musuhnya, Sidi Syekh Al Bakri, pengarang I’anatut Tholibin, Hasyiah Fathul Mu’in itu.

Percakapan yang terekam dalam buku memoir di atas menarik karena mengungkap fakta dibalik idealitas tentang kondisi Mekkah akhir abad 19 di mana gejolak Modernisme Islam ala Muhammad Abduh melanda. Ternyata, mufti Babshil yang alim itu, dalam kisah di atas tak lebih dari manusia apa adanya dalam pengamatan Syekh Karim Amrullah. Kalau kita baca lagi karya Buya Hamka seperti Perbendaharaan Lama, kita temukan hal ganjil lagi di mana Buya Hamka berkata, bahwa rekonsiliasi politik antara Sayyidina Hasan Bin Ali versus Muawiyah di mana Sayyidina Hasan menyerahkan kekuasaan kekhalifahan pasca Ali dengan imbalan harta. Sesuatu yang mungkin bagi kalangan nahdliyyin merupakan sesuatu yang problematis, karena Sayyidina Hasan yang cucu Rasulullah itu dianggap sebagai wali Qutub dan selalu mendermakan hartanya kepada faqir miskin. Bahkan jangankan dalam kitab-kitab sejarah atau Tasawwuf, dalam kitab wirid dan doa saja seperti Abwabul Faraj karangan Sayyid Muhammad Al Maliki, disebutkan larangan Rasulullah kepada Sayyidina Hasan untuk tidak meminta uang kepada Muawiyah namun cukup dengan membaca doa rezeki yang diajarkan Rasulullah. Alhasil, setelah membaca doa itu, Sayyidina Hasan mendapat duit dari Muawiyah yang kemudian disalurkannya kepada para faqir miskin.

Dalam buku Ayahku itu juga diceritakan kunjungan Syekh Karim Amrullah ke Madura dan insiden perampokan yang hampir menimpa mereka. Ketika jalan-jalan ke Madura, orang tua Buya Hamka tersebut hampir dibegal oleh perampok, namun berhasil lolos dengan memacu cepat dokar yang dikendarai sambal membaca Yasin. Melarikan diri dari perampok sambil membaca surat Yasin dengan merdu dan keras ala Syekh Karim Amrullah ini merupakan satu informasi yang menarik di tengah derasnya pembaharuan ala Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha digaungkan Syekh Karim sendiri. Bagi kalangan Islam tradisional, membaca Yasin dengan merdu dan keras Ketika dikejar bahaya bisa jadi dianggap sebagai ritual mujarrobat, namun bagi kalangan modernis tindakan itu sebagaimana disebut Buya Hamka tak lebih sebagai cara untuk melembutkan hati para perampok sehingga mereka urung untuk melakukan perampokan itu.

Dalam buku yang berjudul hampir sama yaitu Ayah, karangan Irfan Hamka, salah satu putra Buya Hamka, diceritakan kisah-kisah Buya Hamka dengan para ulama Arab seperti Syekh Mahmoud Syaltout yang memberi nama Al Azhar kepada masjid Al Azhar, Mufti Syria Syekh Kaftarun yang sangat mengagumi Soekarno, ulama Sudan yang cara makannya tidak sama dengan orang Indonesia menurut Irfan, serta tak lupa kisah kecil Irfan Hamka Ketika menemukan seorang Wanita Arab bertakbir ketika menang judi di sebuah Casino Royal di Lebanon. Inilah sejarah dan inilah manusia.***

* Penulis adalah Alumni Hubungan Internasional FISIP UNEJ.

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB
X