Jumat, 26 Juni 2026

Cerita dari Papua Selatan: Santi, Perempuan Asmat yang Menjawab Stigma Lewat Anyaman Rambut

Photo Author
Qorry 'Aina Damayanti, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 19 April 2025 | 20:30 WIB
Santi, perempuan Asmat pertama yang melahirkan budaya anyaman rambut  (SketsaNusantara.id/ Qorry 'Aina Damayanti)
Santi, perempuan Asmat pertama yang melahirkan budaya anyaman rambut (SketsaNusantara.id/ Qorry 'Aina Damayanti)

Anyam Rambut yang Raup Keuntungan Fantastis

Satu kali anyam rambut, Santi bisa mendapat uang hingga Rp500 ribu rupiah.

“Kalau di Ternate waktu itu Rp500 ribu termasuk rambut palsu dan jasa anyamnya,” jelasnya. 

Baca Juga: Tragedi Sukatani: Ketika Band Punk Minta Maaf kepada Polisi yang Baik Hati

Sementara saat di Asmat, Santi mematok harga berbeda. Ia menjual jasa dan rambut palsu secara terpisah.

“Jasa anyamnya biasanya Rp250 ribu, kalau rambut palsunya Rp80 ribu,”

Sementara satu rambut biasanya membutuhkan sekitar 6-6 bungkus rambut palsu, tergantung ketebalan rambut asli yang dimiliki.

Menjelang natal, permintaan anyam rambut meningkat. Bahkan saat Natal, Santi bisa meraup omset hingga Rp7 juta.

Anyam Rambut Seperti Tali Kapal?

Meski anyam rambu menjadi trend baru di Asmat yang cukup digemari, namun ternyata bagi beberapa orang justru dipandang negatif.

Santi mengungkap bahwa sebagian orang menyebut anyam rambut dengan rambut boneka hingga rambut tali kapal.

“Yang suka bicara begitu kebanyakan laki-laki. Ada juga keluarga-keluarga tertentu yang memang orang tuanya tidak suka anaknya anyam rambut,”

Kendati begitu, menurutnya tak ada yang salah dengan menganyam rambut, karena tak mengubah bentuk aslinya secara permanen.

“Karena kurangnya pengetahuan mungkin ya. Apalagi kebanyakan yang berbicara begitu laki-laki yang tidak tau susahnya menata rambut perempuan. Mereka (laki-laki) kebanyakan berpikir bahwa perempuan biarlah begitu saja, tidak perlu mengubah diri kalian seperti yang kalian inginkan,”

“Padahal kami perempuan juga ingin berdandan sekaligus mempermudah kami menata rambut. Laki-laki selalu menginginkan perempuan itu harus bergaya sesuai dengan aturan-aturan adat. Padahal kami tetap berjalan sesuai dengan aturan itu, tapi kami juga ingin berjalan sesuai dengan keinginan kami. Kami tidak melenceng dari nilai-nilai kebudayaan itu. Seperti anyam rambut ini, saya menjaga rambut saya. Saya tidak benar-benar mengubahnya, hanya sementara saja dan itu bisa dikembalikan ke semula tanpa merusak rambut asli,” tandasnya.***

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X