Anyam Rambut yang Raup Keuntungan Fantastis
Satu kali anyam rambut, Santi bisa mendapat uang hingga Rp500 ribu rupiah.
“Kalau di Ternate waktu itu Rp500 ribu termasuk rambut palsu dan jasa anyamnya,” jelasnya.
Baca Juga: Tragedi Sukatani: Ketika Band Punk Minta Maaf kepada Polisi yang Baik Hati
Sementara saat di Asmat, Santi mematok harga berbeda. Ia menjual jasa dan rambut palsu secara terpisah.
“Jasa anyamnya biasanya Rp250 ribu, kalau rambut palsunya Rp80 ribu,”
Sementara satu rambut biasanya membutuhkan sekitar 6-6 bungkus rambut palsu, tergantung ketebalan rambut asli yang dimiliki.
Menjelang natal, permintaan anyam rambut meningkat. Bahkan saat Natal, Santi bisa meraup omset hingga Rp7 juta.
Anyam Rambut Seperti Tali Kapal?
Meski anyam rambu menjadi trend baru di Asmat yang cukup digemari, namun ternyata bagi beberapa orang justru dipandang negatif.
Santi mengungkap bahwa sebagian orang menyebut anyam rambut dengan rambut boneka hingga rambut tali kapal.
“Yang suka bicara begitu kebanyakan laki-laki. Ada juga keluarga-keluarga tertentu yang memang orang tuanya tidak suka anaknya anyam rambut,”
Kendati begitu, menurutnya tak ada yang salah dengan menganyam rambut, karena tak mengubah bentuk aslinya secara permanen.
“Karena kurangnya pengetahuan mungkin ya. Apalagi kebanyakan yang berbicara begitu laki-laki yang tidak tau susahnya menata rambut perempuan. Mereka (laki-laki) kebanyakan berpikir bahwa perempuan biarlah begitu saja, tidak perlu mengubah diri kalian seperti yang kalian inginkan,”
“Padahal kami perempuan juga ingin berdandan sekaligus mempermudah kami menata rambut. Laki-laki selalu menginginkan perempuan itu harus bergaya sesuai dengan aturan-aturan adat. Padahal kami tetap berjalan sesuai dengan aturan itu, tapi kami juga ingin berjalan sesuai dengan keinginan kami. Kami tidak melenceng dari nilai-nilai kebudayaan itu. Seperti anyam rambut ini, saya menjaga rambut saya. Saya tidak benar-benar mengubahnya, hanya sementara saja dan itu bisa dikembalikan ke semula tanpa merusak rambut asli,” tandasnya.***
Artikel Terkait
Ada Sejak 1987! Inilah Tahu Gimbal Puspogiwang Semarang Jawa Tengah, Kuliner Legendaris dengan Rasa Autentik
Kenapa Banyak Pabrik Gula di Zaman Belanda? 4 Alasan Meluasnya Perkebunan Tebu dan Ekspor Gula Era Kolonial
Buka Selama 24 Jam! Intip Alamat Warung Nasi Rames yang Melegenda di Semarang, Harga Gak Bikin Kantong Bolong dengan Cita Rasa Ala Masakan Rumahan
Bakal Bergelimang Kekayaan! Jember Punya 5 Sumber Daya Alam yang Bisa Menjadi Harta Karun Bagi Para Warga, Ternyata Menjadi Surganya Emas Berkilauan?
Kenapa Huruf Jawa Mirip dengan Aksara Thailand dan India? Ternyata Ada Rahasia yang Belum Terungkap...
Habiskan Dana 1.000 Triliun, Pabrik Gula di Jember Ini Kini Terbengkalai, Ada Gunung Kembar di Dalamnya, Jadi Tempat Mistis