Pada Perang Bubat dikisahkan bahwa rombongan kerajaan Sunda diserang oleh pasukan Majapahit.
Bahkan, Dyah Pitaloka ikut terbunuh setelah Kerajaan Sunda kalah dalam pertempuran tersebut.
Kisah pertempuran Kerajaan Majapahit dengan Sunda ini banyak dituliskan dalam naskah-naskah sejarah yang ditulis pada dari masa kolonial Belanda serta berdampak pada dinamika politik dan budaya Nusantara.
Namun, narasi tentang Perang Bubat dipandang sebagai alat propaganda Belanda untuk memperlemah reputasi kerajaan-kerajaan pribumi dan mendukung klaim kekuasaan mereka.
Banyak sejarawan modern meragukan keakuratan dan kebenaran dari peristiwa Perang Bubat ini termasuk Drs. KH Agus Sunyoto, M.Pd. yang merupakan sejarawan ternama di tanah air.
Terdapat beberapa alasan yang mendukung pandangan bahwa Perang Bubat mungkin lebih merupakan dongeng daripada kenyataan sejarah.
Salah satunya adalah tidak adanya catatan konremporer atau dokumen tertulis yang menceritakan peristiwa tersebut selain sumber-sumber dari naskah yang dinarasikan pada zaman Belanda.
KH Agus Sunyoto menyebut buku-buku karangan Belanda itu tampaknya ada yang meringkas dari kitab Babad Tanah Jawi dan diam-diam sudah merubah kisah Perang Bubat untuk merusak sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia.
"Kalau anda lihat naskah yang lebih kuno itu tidak ada. Bahkan Babad Tanah Jawi itu ada versi Belanda dan aslinya ada 24 jilid diringkas jadi satu buku tipis," kata KH Agus Sunyoto sebagaimana dikutip SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Napak Tilas.
"Jadi, Belanda diam-diam membuat naskah, salah satunya bagaimana mereka menceritakan pertentangan antara Kerajaan Sunda dengan Majapahit dalam Perang Bubat yang dikisahkan Gajah Mada membunuh Raja Sunda dan keluarganya. Itu kan bikin orang Sunda marah dengan Jawa," imbuh KH Agus Sunyoto.
"Waktu dilacak tahun berapa naskah itu ternyata tahun 1860 dan itu ditulis oleh orang Bali atas suruhan Belanda," tandasnya.
Selain itu, KH Agus Sunyoto juga membeberkan bukti bahwa Perang Bubat hanya akal-akalan Belanda, karena pertempuran tersebut tidak disebutkan dalam naskah-naskah kitab kuno padahal Kerajaan Sunda termasuk salah satu kerajaan besar yang berpengaruh di Pulau Jawa.
Begitu pula dengan naskah kuno Kerajaan Majapahit juga tidak disebutkan soal Perang Bubat padahal itu merupakan kisah bersejarah bagi kerajaan yang menunjukkan masa kejayaan mereka menaklukan kerajaan lain di Pulau Jawa waktu itu.