SketsaNusantara.id - Yogyakarta menyimpan banyak bangunan bersejarah yang masih berdiri hingga sekarang.
Salah satu yang cukup menarik perhatian wisatawan adalah Situs Warungboto di kawasan Umbulharjo.
Tempat ini dikenal karena arsitekturnya yang unik dan nuansa klasik yang masih terasa kuat.
Baca Juga: Dari Bungkus Saset Jadi Atap Rumah, Produk Alduro Dipakai Program Bedah Rumah Pemkot Yogyakarta
Bangunan peninggalan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu kini menjadi destinasi wisata sejarah populer.
Banyak pengunjung datang untuk melihat struktur bata kuno, lorong-lorong besar, hingga kolam pemandian yang dahulu dipakai keluarga kerajaan.
Selain wisata sejarah, Situs Warungboto juga sering dipilih sebagai lokasi foto prewedding. Sudut bangunannya yang estetik membuat tempat ini ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun luar daerah.
Situs Warungboto berada di Jalan Veteran Nomor 77, Kelurahan Warungboto, Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Lokasi tersebut dapat dikunjungi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.
Dilansir dari Jogjaprov.go.id, bangunan ini dulunya merupakan pesanggrahan atau vila kerajaan. Situs tersebut dibangun pada abad ke-18 oleh Sultan Hamengkubuwono II saat masih menjadi Pangeran Rejakusuma. Kala itu, dirinya masih berstatus sebagai putra mahkota Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Tidak hanya menjadi tempat peristirahatan keluarga kerajaan, Warungboto juga memiliki fungsi penting sebagai benteng pertahanan sisi timur keraton. Letaknya yang strategis membuat kawasan ini dipakai untuk memantau ancaman dari luar wilayah kerajaan.
Bangunan Warungboto dibuat menggunakan material bata tanpa struktur kayu. Dindingnya terlihat tebal dengan desain khas arsitektur Jawa kuno. Bentuk bangunannya juga memperlihatkan perpaduan fungsi estetika dan pertahanan.
Salah satu bagian paling menarik dari situs ini adalah keberadaan dua kolam pemandian kerajaan. Kolam tersebut dahulu digunakan keluarga sultan untuk mandi dan beristirahat.
Kolam itu mendapat pasokan air dari sumber mata air alami yang disebut “TUK” atau umbul. Airnya dikenal jernih dan menyegarkan pada masanya. Namun, mata air tersebut mulai mengering sejak akhir 1990-an hingga akhirnya berhenti mengalir.
Artikel Terkait
Heboh Penampakan Cahaya Merah Melayang di Langit Condongcatur Sleman Yogyakarta, Benarkah Cuma Flare atau Sampah Antariksa? Begini Penjelasan BRIN
Respons PN Tais soal Nama Hakim yang Muncul sebagai Ketua Dewan Pembina Daycare Little Aresha Yogyakarta
Miris Kasus Daycare Little Aresha Yogyakarta, Ria Ricis Angkat Suara Usai Polisi Tetapkan 13 Tersangka
UIN KHAS Jember Ikuti Penyusunan Daftar Informasi Publik PTKIN di Yogyakarta, Perkuat Transparansi Digital Kampus
Dulu Menguasai Banyak Daerah di Jawa, Begini Sejarah Penyusutan Wilayah Kesultanan Yogyakarta dari Masa ke Masa