Kamis, 25 Juni 2026

Jejak Sunan Kalijaga di Bantaran Kali Oyo, Misteri Kedung Pucung yang Dikaitkan dengan Sunan Geseng dan Dunia Kanuragan

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Kamis, 25 Juni 2026 | 21:00 WIB
Ilustrasi Sunan Kalijaga Wali Songo (YouTube @PetuahSidin_0)
Ilustrasi Sunan Kalijaga Wali Songo (YouTube @PetuahSidin_0)

SketsaNusantara.id - Nama Sunan Kalijaga tidak hanya dikenal sebagai salah satu tokoh utama penyebaran Islam di Pulau Jawa, tetapi juga meninggalkan berbagai jejak sejarah dan tradisi lisan yang masih dipercaya masyarakat hingga saat ini. Salah satu kisah yang terus hidup di tengah masyarakat adalah keberadaan Kedung Pucung, sebuah lokasi yang berada di kawasan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kedung Pucung atau yang juga dikenal dengan nama Kedung Pocot berada di bantaran Kali Oyo, tepatnya di wilayah Banyuurip, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul. Tempat ini tidak hanya dikenal sebagai bagian dari sejarah lokal, tetapi juga menyimpan mitos yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Dalam berbagai cerita rakyat yang berkembang, Kedung Pucung dikaitkan dengan perjalanan dakwah Sunan Kalijaga, anggota Wali Songo yang memiliki nama asli Raden Mas Said. Tokoh yang berasal dari Tuban, Jawa Timur, tersebut dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam menyebarkan ajaran Islam sehingga banyak meninggalkan jejak yang masih dikenang hingga kini.

Baca Juga: Api Abadi Mrapen dan Jejak Gaib Sunan Kalijaga: Dari Tongkat Wali Songo hingga Menyala di Panggung Dunia Selama Puluhan Tahun

Berdasarkan informasi yang termuat dalam laman resmi Pemerintah Kalurahan Jatimulyo, Kedung Pucung dipercaya sebagai lokasi yang memiliki nilai sakral. Kepercayaan tersebut berhubungan dengan kisah seorang tokoh bernama Cokro Joyo yang kemudian dikenal sebagai Sunan Geseng.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sebelum menjadi murid Sunan Kalijaga, Cokro Joyo disebut memiliki berbagai ilmu kanuragan dan kesaktian. Seluruh unsur yang dianggap berkaitan dengan kesombongan duniawi maupun kekuatan spiritual lama disebut dibuang di lokasi tersebut sebelum ia menempuh perjalanan spiritual sebagai murid sang wali.

Dalam tradisi lisan masyarakat, Kedung Pucung dipercaya menjadi tempat pembuangan segala sifat buruk dan ilmu lama yang dimiliki Cokro Joyo sebelum berguru kepada Sunan Kalijaga.

Baca Juga: Jejak Sunan Kalijaga di Desa Wisata Bobung Gunungkidul, Dari Tarian Topeng Panji hingga Kerajinan Kayu Bermotif Wayang

Kepercayaan inilah yang kemudian melahirkan berbagai mitos yang bertahan hingga sekarang. Salah satu mitos yang paling terkenal menyebutkan bahwa orang yang memiliki jabatan tinggi atau kekuasaan akan kehilangan kewibawaan maupun kedudukannya apabila melintasi kawasan tersebut dengan niat yang tidak baik.

Meski demikian, hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang dapat membenarkan kepercayaan tersebut. Mitos tersebut lebih dipandang sebagai bagian dari kearifan lokal yang berkembang di masyarakat dan menjadi warisan budaya tak benda yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Selain Kedung Pucung, jejak yang dikaitkan dengan Sunan Kalijaga juga ditemukan di berbagai daerah lain di Pulau Jawa. Salah satunya adalah petilasan Surowiti yang kerap dikaitkan dengan perjalanan dakwah sang wali.

Baca Juga: Di Balik Mitos Masjid Agung Demak, Arah Kiblat, Karomah Sunan Kalijaga, dan Peran Politik Kerajaan Islam di Jawa

Dalam salah satu pembahasan yang pernah diulas kanal YouTube "Seniman Lawas Pati", Surowiti disebut sebagai lokasi yang memiliki hubungan dengan salah satu santri Sunan Kalijaga bernama Suro Astono. Nama tempat tersebut diyakini berasal dari nama tokoh tersebut dan menjadi bagian dari jejak sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa.

Keberadaan Kedung Pucung menunjukkan bahwa sosok Sunan Kalijaga tidak hanya dikenang melalui catatan sejarah, tetapi juga melalui cerita rakyat, situs budaya, dan tradisi lisan yang masih hidup di tengah masyarakat. Meskipun sebagian kisahnya berada di wilayah antara sejarah dan mitos, keberadaan situs-situs tersebut tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi peziarah, peneliti sejarah, maupun masyarakat yang tertarik menelusuri jejak para wali di Nusantara.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X