Kamis, 4 Juni 2026

Di Balik Mitos Masjid Agung Demak, Arah Kiblat, Karomah Sunan Kalijaga, dan Peran Politik Kerajaan Islam di Jawa

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Selasa, 20 Januari 2026 | 20:00 WIB
Mengulik peninggalan Walisongo di Masjid Agung Demak. (YouTube YPM Journey)
Mengulik peninggalan Walisongo di Masjid Agung Demak. (YouTube YPM Journey)

SketsaNusantara.id - Masjid Agung Demak kerap dipahami masyarakat melalui berbagai mitos.

Mitos tersebut berkaitan dengan kebesaran masjid dan karomah Sunan Kalijaga. Pemahaman ini berkembang lintas generasi.

Dalam buku Sunan Kalijaga & Mitos Masjid Agung Demak, terdapat 2 mitos utama yang sering dikaitkan dengan Masjid Agung Demak. Pertama mengenai kebesaran masjid sebagai simbol kerajaan Islam. Kedua berkaitan dengan makrifat Sunan Kalijaga saat menentukan arah kiblat.

Baca Juga: Peran Sunan Kalijaga di Masjid Agung Demak, Kisah Penentuan Arah Kiblat, dan Warisan Arsitektur Islam Jawa

Sejumlah kajian menyebut pemaknaan tersebut sebagai proses mitologisasi.

Sejarawan Kuntowijoyo menjelaskan mitologisasi sebagai pemitosan peristiwa masa lalu. Fakta sejarah kemudian dipahami sebagai cerita sakral.

Masjid Agung Demak dibangun setelah berdirinya Kerajaan Islam Demak. Keberadaan masjid ini menandai pentingnya institusi agama. Masjid menjadi simbol utama kekuasaan Islam di Jawa.

Baca Juga: Tahun Berdiri Masjid Agung Demak Masih Diperdebatkan, Inilah Jejak Sejarah dan Petunjuk yang Tersisa

Pada abad ke-15 hingga ke-17, masjid memiliki posisi strategis. Masjid berfungsi sebagai pusat ibadah dan kesalehan masyarakat. Perannya juga berkaitan dengan legitimasi politik kerajaan.

Masjid Agung Demak kemudian menjadi patokan pembangunan masjid lain. Kerajaan Islam di Jawa mengikuti pola tata letaknya. Arah kiblat dan arsitektur juga meniru Masjid Agung Demak.

Kesakralan Masjid Agung Demak diperkuat oleh pernyataan raja. Susuhunan Paku Buwono I menyebut masjid tersebut sebagai “Pusaka Kerajaan”. Pernyataan ini menegaskan nilai simboliknya.

Raja-raja Dinasti Mataram Islam juga mengikuti pola tersebut. Susuhunan Paku Buwono II dan III mencontoh Masjid Agung Demak. Hal ini terlihat pada pembangunan Masjid Agung Surakarta.

Masjid menjadi syarat penting berdirinya kerajaan Islam. Raja memegang peran sebagai pemimpin agama dan negara. Gelar Sayyidin Panotogomo Kalipatullah mencerminkan fungsi tersebut.

Penataan kota juga memiliki makna strategis. Konsep ini dikaitkan dengan pemikiran Sunan Kalijaga. Tata ruang menghubungkan masjid, keraton, dan alun-alun.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Sunan Kalijaga dan Mitos Masjid Agung Demak, Dr. Fairuz Sabi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X