SketsaNusantara.id - Masjid Agung Demak dikenal sebagai salah satu peninggalan penting sejarah Islam Jawa.
Bangunan ini diyakini berdiri pada abad ke-15 Masehi. Namun, kepastian tahun pendiriannya masih menjadi perdebatan panjang.
Sejumlah ahli sejarah mengemukakan pendapat berbeda berdasarkan bukti fisik dan literatur. Perbedaan tersebut muncul dari pembacaan sengkala, tulisan, dan simbol di masjid. Setiap pendapat memiliki dasar rujukan masing-masing.
Dikutip SketsaNusantara.id dari buku Sunan Kalijaga & Mitos Masjid Agung Demak tahun 2021, salah satu pendapat menyebut masjid dibangun tahun 1388 Saka atau 1466 Masehi. Dasar pendapat ini berasal dari tulisan Naga Mulat Salira Wani. Tulisan tersebut terdapat pada pintu Bledheg masjid.
Pendapat lain menyatakan masjid berdiri pada tahun 1399 Saka atau 1477 Masehi. Dasar perhitungan ini menggunakan condro sengkolo berbunyi “lawang terus gunaming janmi”. Sengkala tersebut merujuk pada simbol angka dalam tradisi Jawa.
Pendapat berikutnya menyebut tahun pendirian 1401 Saka atau 1479 Masehi. Rujukan utama berasal dari gambar bulus pada mihrab masjid. Simbol tersebut dimaknai sebagai “sariro sunyi kiblating Gusti”.
Gambar bulus dimaknai melalui bagian tubuhnya. Kepala melambangkan angka satu, kaki empat, badan nol, dan ekor satu. Susunan tersebut membentuk angka tahun 1401 Saka.
Pendapat lain menyebut Masjid Agung Demak didirikan tahun 1506 Masehi. Rujukan berasal dari tulisan di pintu hadegipun masjid. Tulisan tersebut menyebut pembangunan pada 1 Zulkangidah 1428 Saka.
Selain perbedaan tahun, terdapat pendapat tentang tahapan pembangunan masjid. Masjid disebut dibangun melalui tiga tahap utama. Tahap pertama berupa pesantren Glagahwangi tahun 1466 Masehi.
Tahap kedua berlangsung tahun 1477 Masehi sebagai masjid Kadipaten Demak Bintoro. Tahap ketiga dilakukan sekitar 1478 hingga 1479 Masehi. Renovasi dilakukan oleh Raden Patah bersama para wali.
Pada tahap ketiga, masjid mengalami perubahan bentuk dan tata letak. Atap bertingkat dan soko guru dari empat sunan ditambahkan. Arah kiblat juga dibetulkan melalui musyawarah para wali.
Sebelum pemasangan soko guru, terjadi perdebatan arah kiblat. Sunan Kalijaga kemudian menunjukkan metode penentuan arah. Metode tersebut disepakati oleh para wali yang hadir.
Artikel Terkait
Penguasa Baru Tanah Jawa Lahir dari Takdir Letusan Gunung Merapi, Kesultanan Demak hingga Jepara pun Takluk di Bawah Kerajaan ini
Naik Signifikan! Besaran UMK Kabupaten Demak 2025 Cocok untuk Pasutri Baru, Masuk Peringkat Tertinggi di Jawa Tengah
Viral, Oknum Guru SMP di Demak Tendang Kepala Siswa 2 Kali hingga Lebam, Ternyata Cuma Gara-gara Siulan!
Kronologi Oknum Guru SMP di Demak Tendang Kepala Siswa hingga Lebab, Polres Demak: Pelaku Marah dan...
6 Fakta Tindak Kekerasan oleh Oknum Guru SMP di Demak Jawa Tengah, Dipicu Hal Sepele hingga Diamankan Polres Demak