Kamis, 25 Juni 2026

Mengenal Jenang Suro, Kuliner Tradisional Khas Bulan Muharram yang Menjadi Simbol Tahun Baru Islam di Tanah Jawa

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Kamis, 25 Juni 2026 | 15:00 WIB
Bubur Suro makanan sarat makna dan filosofis (Instagram/@dapoer_bigle)
Bubur Suro makanan sarat makna dan filosofis (Instagram/@dapoer_bigle)

SketsaNusantara.id – Bulan Muharram atau yang dikenal masyarakat Jawa sebagai bulan Suro tidak hanya identik dengan berbagai tradisi keagamaan dan budaya. Di sejumlah daerah, khususnya di Pulau Jawa, momentum Tahun Baru Islam juga ditandai dengan hadirnya kuliner tradisional yang memiliki nilai simbolis dan historis yang kuat.

Salah satu hidangan yang kerap dijumpai saat Muharram adalah Jenang Suro atau yang lebih dikenal sebagai Bubur Suro. Makanan ini biasanya disajikan dalam berbagai kegiatan kenduri, doa bersama, maupun tradisi masyarakat yang digelar untuk menyambut datangnya tahun baru dalam kalender Hijriah.

Keberadaan Jenang Suro tidak dapat dipisahkan dari budaya masyarakat Jawa yang telah diwariskan secara turun-temurun selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Baca Juga: Pria Berkebaya di Kirab Suro Mangkunegaran Solo Minta Maaf Usai Viral, Mengaku Kurang Memahami Adat

Menurut informasi yang dibagikan melalui akun TikTok @komunitas_pegon, Bubur Suro merupakan salah satu kuliner tradisional yang memiliki beragam variasi di setiap daerah. Meski bahan pelengkapnya dapat berbeda, makna yang terkandung di dalamnya tetap berkaitan dengan rasa syukur dan harapan baik di awal tahun Islam.

Berbeda dengan bubur pada umumnya yang identik dengan cita rasa sederhana, Jenang Suro dikenal memiliki komposisi yang lebih beragam dan kaya rempah.

Dalam catatan yang disampaikan akun @komunitas_pegon, Jenang Suro yang pernah dikenal di Banyuwangi sekitar tahun 1932 disajikan dengan berbagai pelengkap seperti ayam kari, irisan telur dadar, daun kemangi, serta delima berwarna putih maupun merah.

Baca Juga: Peringati Malam 1 Suro, Warga di Jombang Gelar Sedekah Bumi dan Pagelaran Wayang Semalam Suntuk

Selain itu, terdapat tambahan irisan cabai besar, daun bawang, kacang rebus, bergedel berukuran kecil, hingga sambal bubuk yang memperkaya cita rasa makanan tersebut.

"Jenang Suro memiliki beragam isian yang berbeda-beda tergantung tradisi masyarakat setempat," demikian informasi yang disampaikan akun TikTok @komunitas_pegon.

Perpaduan berbagai bahan tersebut menghasilkan rasa gurih yang menjadi ciri khas utama Bubur Suro.

Baca Juga: Mengapa Disebut Bulan Suro? Menelusuri Makna, Sejarah, dan Kaitannya dengan Tahun Baru Jawa

Salah satu keunikan Jenang Suro adalah tidak adanya standar baku mengenai isiannya. Setiap daerah memiliki resep yang berkembang sesuai tradisi dan kebiasaan masyarakat setempat.

Di beberapa wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, misalnya, Bubur Suro dapat disajikan dengan lauk sederhana. Sementara di daerah lain, hidangan ini dibuat lebih lengkap dengan tambahan berbagai pelengkap dan bumbu khas.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X